Membuka Cakrawala Diri Melalui Jendela Johari

johariwindow

Dalam sebuah pelatihan yang diadakan di lingkungan kerja, saya ditanya mengenai hal-hal yang sebetulnya sudah sering ditanyakan namun masih sulit juga mendapatkan jawaban. Sebelum saya diberi pertanyaan-pertanyaan tentang diri sendiri dan kehidupan, pelatih menyuruh saya maju ke depan. Pelatih bertanya apa yang paling saya takuti. Luka dan darah, jawab saya. Saya diam sejenak kemudian saya melanjutkan lagi bahwa saya takut tidak bisa memenuhi harapan orang lain sehingga ini menjadi sebuah dilema dalam diri saya antara menjadi diri sendiri dan menjadi apa yang diharapkan orang lain.

Semua peserta memberi tanggapan dengan anggukan kecil, mencerna informasi yang di dapat tentang saya.

Selain bertanya tentang apa yang ditakutkan diri saya, pelatih bertanya tentang apa tujuan saya hidup, apa motivasi saya menjalani hidup, apa yang diinginkan saya, apa rencana-rencana hidup saya, apa yang saya maknai dalam hidup saya, apakah kelebihan serta kekurangan saya, dan lainnya. Pertanyaan-pertanyaan itu menyadarkan saya untuk bertanya pada diri sendiri: siapa sebenarnya diri saya?

Pertanyaan mudah namun sulit dijawab. Mungkin karena saya tidak mengenal diri saya. Lalu apakah Anda mengenal diri Anda? Jika Anda merasa belum, Anda perlu mengenal Jendela Johari.

Proses mengenal diri dapat dilakukan tidak hanya dengan mencoba mengamati dan mengerti diri sendiri namun dapat melalui interaksi yang dilakukan dengan orang lain. Asumsi ini membawa Joseph Luft dan Harry Ingham menciptakan suatu teori atau model sebagai salah satu cara untuk melihat dinamika self-awareness yang berkaitan dengan perilaku, perasaan, dan motif manusia. Model yang diciptakan tahun 1955 ini bernama Johari Window atau Jendela Johari.

Jendela Johari terdiri dari sebuah persegi yang terbagi menjadi empat kuadran, yaitu Open, Blind, Hidden, dan Unknown. Uraiannya dijelaskan di bawah ini:

Kuadran 1 (Open) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh diri kita sendiri dan orang lain. Misalnya orang lain mengetahui nama saya, tempat tinggal saya, warna kesukaan saya, makanan yang saya sukai, dan lainnya. Ketika seseorang baru berkenalan dengan orang lain, ukuran kuadran 1 yang tidak terlalu besar akan membuka seiring pertukaran informasi yang di dapat dari interaksi. Ketika proses saling mengenal terus berlanjut, batas kuadran akan bergeser ke kanan dan ke bawah untuk memperbesar kuadran 1.

Kuadran 2 (Blind) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh orang lain, tetapi tidak diketahui oleh diri kita sendiri. Misalnya ketika orang lain menyatakan diri saya sebagai orang yang keras kepala dan saya tidak menyadarinya. Apa yang diketahui oleh teman-teman saya dan saya yang semula tidak sadar menjadi sadar membuat kuadran 2 saya mengecil sering dengan membesarnya kuadaran 1. Proses mengecilnya kuadran 2 bisa terhambat jika orang lain tidak mau memberi tahu apa yang ia ketahui mengenai hal yang saya tidak tahu. Misalnya ketika saya sedang berbicara dengan lawan bicara saya di depan umum, saya jarang melakukan kontak mata sehingga membuat lawan bicara saya terganggu. Mungkin lawan bicara saya tidak berkata apa-apa karena takut mempermalukan saya di depan orang lain. Namun dalam keadaan seperti ini, saya menjadi kesulitan untuk mendapat informasi dan mengenali diri saya.

Kuadran 3 (Hidden) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh diri kita sendiri, tetapi tidak diketahui oleh orang lain. Biasanya hal-hal yang disimpan di kuadran ini bersifat sangat pribadi atau memalukan. Misalnya saya seorang homoseksual dan tidak bilang kepada orang lain bahwa saya adalah seorang homoseksual. Ketika saya membuka diri saya dan menyatakan bahwa saya adalah seorang homoseksual, maka kuadran 3 akan mengecil seiring dengan membesarnya kuadran 1. Proses penyingkapan diri ini disebut self-disclosure. Selain self-disclosure, terdapat proses lain yaitu menerima umpan balik (feedback) dari orang lain. Contoh penerimaan umpan balik adalah saya meminta umpan balik kepada orang lain tentang kesan dan perasaannya setelah mendengar saya adalah seorang homoseksual lalu orang tersebut itu menyatakan perasaan kecewa dan tidak suka, maka area kuadran 2 saya akan mengecil. Saya menjadi tahu bahwa saya tidak disukai orang lain karena orientasi seksual saya.

Menurut Anita Kelly, penyingkapan diri tentang rahasia pribadi memiliki resiko. Terkadang seseorang memilih untuk tidak bercerita hal-hal yang sifatnya personal seperti perilaku seksual, masalah kesehatan mental, atau kesalahan besar yang pernah dilakukan. ‘If you give people information about yourself, you give them power over you,’ menurutnya. Kegagalan dalam menemukan orang yang memberi reaksi yang tidak diharapkan membuat seseorang semakin menutup diri. Daerah yang tidak disadari membuat bagian kepribadian yang di-repress dalam ketidaksadaran yang tidak diketahui baik oleh diri sendiri maupun orang lain. Namun demikian ketidaksadaran ini kemungkinan bisa muncul.

Kuadran 4 (Unknown) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang tidak diketahui, baik oleh diri kita sendiri ataupun oleh orang lain. Misalnya baik saya dan orang lain tidak tahu penyebab gangguan obsesif kompulsif cuci tangan yang saya alami. Disinilah peran ahli seperti psikolog untuk menyingkap kuadran 4. Misalnya kemungkinan munculnya gangguan obsesif kompulsif diakibatkan pemerkosaan yang pernah saya alami ketika kecil bisa terjadi dan ini membuat kuadran 4 saya mengecil sementara kuadran 1 saya membesar seiring dengan pengetahuan saya tentang penyebab gangguan obsesif kompulsif yang saya alami.

Pentingnya Mengenali Diri Sendiri

Mengenali diri sendiri adalah langkah awal dari proses penciptaan diri. Proses penyingkapan diri (self-disclosure) dan meminta umpan balik (feedback) dalam model Jendela Johari ini dapat dilakukan ketika berinteraksi dengan orang lain sebagai jalan untuk membuka cakrawala tentang diri. Dengan mengenali diri sendiri, manusia mengetahui apa yang diri rasakan dan alasan diri berperilaku. Pemahaman terhadap diri akan memberikan kesempatan untuk merubah hal-hal yang ingin diubah, secara sadar dan aktif menciptakan kehidupan yang diri inginkan. Mengetahui kelebihan dan kekurangan diri dapat membantu seseorang menentukan strategi hidup untuk mendapatkan tujuan hidupnya. Tanpa tahu diri sendiri, penerimaan dan perubahan diri menjadi hal yang tidak memungkinkan.

Nia Janiar

Penulis adalah seorang sarjana Psikologi dari Universitas Pendidikan Indonesia. Perkenalannya dengan dunia psikologi membuat ia sempat terjun pada lembaga sosial masyarakat tentang HIV/AIDS dan anak jalanan.

    10 Comments
    • amarilldo
      Reply July 18, 2009

      amarilldo

      Canggih!

      Jendela Johari, kira-kira pada bagian Unknown itu isinya apa yah??? ada yang bilang pada bagian ini “cuma tuhan yang tahu”.. ada dalam diri namun tidak diketahui, mungkin ngga kalau disana itu memiliki luas seperti alam bawah sadar yang tidak berujung???

      terus gimana cara menyadari bagian Blind, terkadang khan kita menyangkal akan apa yang bisa dilihat orang lain pada diri kita, namun diri kita tidak bisa melihatnya, contoh saya mengaku ramah namun semua orang mengatakan kalau saya itu jutek dan saya merasa heran terhadap mereka lalu tetap bersikukuh kalau saya ini ramah, yang begitu masuk ngga ke Blind??? kalau masuk kedalam Blind maka apa kita perlu percaya atas penilaian pribadi orang lain terhadap pribadi diri kita sendiri. walau terkadang yang mereka ungkapkan tentang diri kita sebenarnya adalah hasil proyeksi diri mereka sendiri… :D

      dan Gw setuju dengan ‘If you give people information about yourself, you give them power over you’, dan mau gw tambahin dikit ‘when the trust is weak, there is only paranoid will survive’ :D

    • Nia Janiar
      Reply July 19, 2009

      Nia Janiar

      Dalam unknown terdapat hal-hal seperti dinamika interpersonal, ingatan masa kecil, potensi-potensi yang tersembunyi, dan lainnya. Kalau dibilang sebagai alam bawah sadar yang tidak berujung, bisa jadi karena kuadran ini juga terdapat perasaan2 yang di-repress yang berakar dari event2 traumatis dan itu bisa terus berada di kuadran unknown seumur hidup.

      Naah, masalah yang kedua itu perlu dicermati jangan2 kebersikukuhan lo itu defense mechanism. Ibaratnya gini: kuadran blind ini kan mengandung hal-hal yang orang lain tahu tapi kita enggak tahu, ‘kan? Perasaan inadekuat, tidak kompeten, perasaan ditolak, dan hal2 lain yang tidak kita tahu ternyata bisa dilihat orang lain. Ada istilah ‘psychological rape’ karena orang2 bisa melihat hal2 dalam diri kita. Lalu dimana defense mechanism berada? Ya disitulah tempatnya. Alam ngasih kita beragam kemampuan defense. Denial, misalnya. ‘Ah gue gak jutek kok, gue ramah’. Oke kalau itu hanya dibilang satu orang saja dan hal itu dirasa hanya persepsi orang tersebut, tapi perlu dipikirkan kalau temen2 lain juga berpendapat kayak gitu. Kita juga harus kritis nanya ke orang itu kita perilaku mana sih yang membuat ia mempersepsikan kita jutek. Tanya juga orang lain, apakah mereka melihat hal yang sama seperti itu dalam diri kita atau tidak.

      Terus gimana sih kita menyadari blind area kita? Kita enggak bisa sadar sendiri, tapi melalui interaksi dengan orang lain dan mendapat feedback bisa membuat kita sadar dengan blind area kita. Bisa jadi temen lo itu mencoba menolong lo untuk mengidentifikasi blind area yang lo miliki.

    • Reply July 19, 2009

      Ramadion Syam

      bener kata Nia masalah blind. coba lo minta pendapat orang2 yang deket ama lo, tapi lo percaya mereka akan berusaha objektif. jadi, nanya orang yang hamoir stranger salah, dan nanya orang yang terlalu deket ama lo juga ga bijak. tapi, jangan nanya ke satu orang doang, ya. karena, persepsi manusia itu sering banget salah.

      tentang unknown, kata Jung, cara utk melihatnya adalah dengan meditasi. lo biarin semua pikiran2 lo keluar. dengerin sisi terhitam lo. terima apa adanya. jangan dilawan. karena itulah elo. karena setelah lo mengenal diri lo (termasuk sisi2 tergelap lo), true self lo akan keluar. dan padanya, potensi2 terbaik lo akan keluar tanpa bisa dihalangi oleh sisi2 gelap lo.

      tapi banyak yang bilang caranya Jung ini rawan menimbulkan kegilaan, sih :(

    • Nia Janiar
      Reply July 19, 2009

      Nia Janiar

      Dan apakah personal subconscious dan collective subconscious masuk juga ke unknown arena ini?

    • Reply July 19, 2009

      ramadion

      loh koq jadi nanya ke gue? klo kata Jung, sih, collective subconcious emang adanya di daerah unknown ini. makanya stereotype dan archetype itu seringkali sudah ada di dalam diri manusia tanpa dia diajarin oleh orang lain :D

      klo personal subconcious? ga tau juga, ya. cuma koq kayaknya personal subconcious juga ada di blind, ya?

    • Nia Janiar
      Reply July 19, 2009

      Nia Janiar

      Kan lo yang menghadirkan isu Jung disini, jadi tanggung jawab dong :P

    • Reply July 19, 2009

      Ramadion Syam

      waktu ada diskusi Psigoblog.com tentang Jung di kantin kampus (gue moderatornya), emang nyangkut2 ke johari window. klo ahlinya Jung mah Lora Lois tuh :D

      waktu itu aja sebenernya kita ngebahas tulisannya lora.

    • Reply July 19, 2009

      Ramadion Syam

    • Reply August 1, 2010

      yoris

      jendela johari sebenarnya tidak dapat di gali dengan cara natural(berjalan dengan sendirinya)karena yang ada juga ego yg di tonjolkan..seperti naya sana sini dengan orang dekat atau jauh….
      jadi kita harus adakan semacam training dengan jumlah skitar 100 orang.itu bisa jadi baro meter…dan saya pernah mengikuti masalah pemahaman jendela johari…dan disitu saya di gali habis2an tak terkecuali ke 99 peserta lainya semua saling menggali..dan kalau rekan2 sudah pernah merasakan hal itu anda akan tau siapa diri kita.dan kita lebih cerdas menilai orang lain……

    • Reply November 11, 2010

      pujangga sejati

      sangat membantu tuk mengerti tentang prilaku kita sehari hari…….

    Leave a Reply