Berpikir Strategis: Cara Jitu Meraih Cita-cita

shutterstock_131199104-optimized

Pada dasarnya, langkah-langkah untuk meraih cita-cita itu sama semuanya, apa pun cita-citanya. Langkah pertama, kamu harus tahu apakah kamu sudah memiliki semua kriteria yang diminta. Langkah ke dua, dari semua orang yang memiliki kriteria yang diminta, kamu harus menjadi orang terbaik untuk menduduki posisi yang kamu cita-citakan itu.

Misalnya, untuk mendapatkan pacar: kamu harus tahu apakah kamu sudah memenuhi semua kriteria dari “tipe calon pacar idaman” si dia yang kamu incar, dan dari semua orang yang memenuhi kriteria, apakah kamu memiliki nilai plus (lebih humoris, rumah kamu lebih dekat dengan si dia diantara kandidat yang lain atau mungkin diantara semua yang mengincar si dia, kamu yang tidak bau badan). Hal ini juga berlaku untuk cita-cita yang lebih serius, seperti, mencari pekerjaan, naik jabatan, agar perusahaan yang kamu dirikan berhasil bersaing dengan merk lainnya, mencari beasiswa ke luar negeri, dan lain-lain. Sekarang, coba kamu tuliskan dulu tiga hal ini: 1.) apakah cita-citamu? 2.) apa saja kriteria yang diperlukan untuk menggapai cita-cita ini, dan apa saja yang sudah kamu miliki? 3.) apa keunggulanmu yang membuatmu lebih baik dari pesaingmu yang memiliki cita-cita yang sama? Jika belum ada, apa yang bisa kamu lakukan untuk mengasah keunggulanmu?

Untuk menggapai semua cita-cita hidup ini, seorang konsultan bisnis handal, Erika Andersen, mengatakan bahwa kuncinya hanya satu: Strategical Thinking. Dalam bukunya, Being Strategic, Andersen (2010) mendefinisikan orang yang berpikir strategis sebagai orang yang “secara konsisten mengambil pilihan yang akan membawanya lebih dekat dengan target yang diharapkan”. Jadi, kalau kamu bercita-cita mendapatkan beasiswa, maka kamu bukan orang yang berpikir strategis jika tiap hari kamu lebih banyak bermain daripada belajar.

Masih di buku yang sama, Andersen (2010) menjabarkan langkah-langkah konkrit dalam membuat strategi dalam mengejar impianmu. Ini dia langkah-langkahnya:

Definisikan cita-citamu dengan baik. Langkah ini harus kamu ambil jika kamu masih belum tahu apa cita-citamu atau apa langkah konkrit yang harus dilakukan untuk mencapai cita-citamu. Ada tiga cara untuk mendefinisikan cita-cita dengan baik. Cara pertama adalah untuk mereka yang belum mengetahui apa cita-citamu: tanyakan pada dirimu apa yang kamu ingin dapatkan dan bagaimana cara mendapatkannya. Contohnya: kamu ingin namamu dikenal banyak orang, dan setelah melihat bakatmu adalah menulis, maka kamu memutuskan untuk menjadi penulis yang baik.

Cara kedua adalah bagi kamu yang sudah tahu cita-citamu (target), tapi belum mengetahui langkah konkritnya, yaitu: dengan memeriksa elemen apa yang belum bekerja dalam usahamu mencapai cita-cita. Misalnya, kamu adalah kepala dari departemen sales yang belum mencapai target penjualan di tahun ini. Sebelum membuat strategi apa-apa, ada baiknya kamu mencoba melihat apa yang salah dari proses kerjamu selama ini. Apakah kesalahan terletak pada tim sales-mu yang kurang ramah? Atau mungkin penyebaran informasi produk yang kurang luas? Atau jangan-jangan ada kekurangan pada produk yang kamu jual sehingga konsumen tidak merekomendasikannya ke teman mereka?

Setelah kamu memilih salah satu cara di atas, tutuplah pendefinisian cita-citamu dengan pertanyaan ini: seperti apakah rasanya saat saya sukses? Pertanyaan ini akan membuatmu fokus ke satu arah tertentu. Contohnya, jika seorang dokter mendefinisikan sukses sebagai “memiliki banyak uang”, maka langkah yang akan dia rencanakan adalah mencari rumah sakit terkenal untuk berpraktek. Tapi jika definisi sukses dokter tersebut adalah “membantu sebanyak-banyaknya orang yang tidak mampu”, maka salah satu langkah menuju kesuksesan adalah dengan me-riset daerah yang masih tertinggal dan membutuhkan tenaga medis.

Seperti apa situasi yang kamu hadapi saat ini? Langkah berikutnya adalah melihat apa “modal” yang kamu miliki saat ini. Dengan mengetahui kekuatan dan kekuranganmu, kamu bisa tahu “modal” apa yang bisa kamu andalkan dan pada bagian mana kamu harus melakukan perbaikan. Caranya, tuliskan sebanyak-banyaknya kekuatan dan kelemahanmu yang berhubungan dengan definisi suksesmu. Pada bagian kelemahanmu, berikan catatan bagaimana cara untuk melakukan perbaikan. Langkah ini cukup mudah tapi harus dilakukan dengan hati-hati. Ingatlah terus untuk tidak mencatat hal yang tidak terlalu berhubungan dengan cita-citamu, misalnya, tidak akrabnya kamu dengan atasan sebagai “kelemahan” dalam mengejar cita-cita untuk naik jabatan. Jika terlalu fokus kepada hal yang tidak terlalu berhubungan seperti ini, hal-hal yang lebih krusial seperti, kurang mampunya kamu berbicara di depan umum, manajemen waktu yang masih berantakan dan kelemahan lain yang berhubungan dengan skill-mu justru akan kamu lewatkan.

Ada tiga hal yang harus diperhatikan saat membuat daftar SWOT (strength, weaknesses, opportunity dan threat). Pertama, kamu harus melakukannya dengan objektif. Maksudnya, banyak orang yang melewatkan fakta-fakta yang tak dia sukai mengenai dirinya karena membuat dia tidak nyaman. Untuk jangka pendek, penyangkalan ini akan membuat hidup lebih mudah. Tapi untuk jangka panjangnya, justru penyangkalan ini akan merugikan karena kita tidak berkesempatan untuk memperbaiki diri.

Kedua, sering-seringlah mengubah perspektifmu dalam membuat SWOT untuk mendapatkan insight yang beragam. Misalnya, kekuatanmu dalam public speaking mungkin akan dipersepsi sebagai kesombongan oleh orang lain jika terlalu kamu umbar. Ketiga, utamakan kekuatan dan kelemahan yang lebih berpengaruh dengan cita-citamu. Contohnya pada saat kamu ingin mendapatkan nilai yang baik di sekolah, daripada fokus pada kelemahanmu yang tidak terlalu berpengaruh seperti tidak punya pacar untuk memotivasimu, lebih baik kamu mengutamakan untuk menghadapi kelemahanmu dalam memahami suatu teori yang diajarkan.

Langkah ketiga adalah menentukan target. Setelah mendefinisikan cita-citamu dan melihat situasimu saat ini, akan terlihatlah jarak antara posisimu saat ini dan kesuksesan di masa depan. Karena itu, kamu harus mulai menentukan target-target untuk mencapai kesuksesan. Contohnya, untuk menjadi psikolog handal, kamu harus masuk ke universitas yang baik, lulus program sarjana psikologi, lulus program profesi psikologi, mengasah kemampuan dengan bergabung dengan lembaga psikologi dan seterusnya. Tentukan juga waktu yang kamu berikan bagi dirimu untuk mengejar target tersebut.

Ada dua hal yang harus kamu perhatikan pada fase ini. Yang pertama adalah, bagaimana realita yang memengaruhimu dalam mengejar target. Contohnya, apakah kamu memiliki uang untuk mengikuti program profesi psikolog setelah lulus sarjana? Jika belum, maka kamu harus memasukkan target “menabung untuk kuliah program profesi psikolog” pada titik setelah lulus sarjana. Yang kedua adalah, jangan sampai target yang kamu buat terlalu mudah, karena pergerakanmu mengejar cita-cita akan menjadi sangat lambat.

Langkah berikutnya adalah membuat list penghalang cita-citamu. Langkah ini mungkin terasa seperti pengulangan pada saat kamu membuat daftar kelemahanmu. Tapi, selain kelemahanmu, ada banyak penghalang lain yang sifatnya eksternal, seperti kondisi finansial, kualitas dari lembaga yang akan membantumu mengejar cita-cita, kondisi persaingan di lapangan dan lain-lain. Dengan membuat gambaran lengkap penghalang, kamu bisa memprioritaskan mana hal yang harus kamu dahulukan dan mana yang bisa diselesaikan nanti saja.

Sekarang, setelah kamu menentukan target, mengetahui kelebihan dan kekuranganmu, kamu bisa mulai untuk membuat rencana “perjalanan”-mu dalam mengejar cita-cita. Sesuai dengan peribahasa “banyak jalan menuju Roma”, kamu juga harus membuat banyak alternatif untuk mengejar target.

Misalnya, jika kamu ingin menyelesaikan program master (S2) tetapi memiliki penghalang keterbatasan finansial, kamu bisa membuat beberapa “rencana perjalanan”: mencari beasiswa, bekerja dulu sebelum melanjutkan sekolah atau bekerja sambil sekolah. Dengan berdasarkan pada data yang kamu buat pada langkah sebelumnya, niscaya “rencana perjalanan”-mu akan lebih masuk akal dan sesuai dengan kondisimu sekarang.

Memilih strategi. Sudah menemukan jalan terbaik untuk mengejar cita-citamu? Sekarang saatnya membuat strategi untuk mengoptimalkan kekuatanmu dan untuk mengalahkan kekuranganmu. Tiga hal penting yang harus diingat saat membuat strategi: feasibility, impact dan waktu.

Feasibility maksudnya adalah “Apakah kamu benar-benar mampu melakukan strategi itu? Apakah kamu memiliki kemampuan yang dibutuhkan, waktu, dukungan dari orang-orang yang memiliki andil dalam hal tersebut, dana, dan lain-lain?” Jika kamu memilih strategi yang tidak feasible, yang terjadi adalah perasaan tertekan karena tidak dapat menjalankannya. Impact, pilihlah strategi yang memberikan hasil yang paling maksimal dengan usaha yang kita buat. Misalnya, bagi seorang manajer pemasaran yang akan memasarkan suatu barang, daripada dia membayar orang untuk menyebarkan brosur di jalan, lebih baik uangnya ia pakai untuk menyewa stand di tempat keramaian. Hal penting terakhir adalah waktu untuk melakukan strategi tersebut. Apakah strategi tersebut harus dilakukan terlebih dahulu atau bisa diletakkan di belakang? Apakah strategi tersebut akan “basi” jika tidak dilakukan sekarang, atau masih akan memberi impact jika dilakukan nanti?

Evaluasi. Hal berikutnya yang harus kamu lakukan adalah mulai menjalankan strategi yang sudah kamu miliki. Setelah selang beberapa waktu, kamu harus berhenti dan mengevaluasi proses pengejaran cita-cita yang sudah kamu lakukan. Lihatlah strategi apa yang berhasil, dan mana yang tidak. Lihat juga penghalang mana yang sudah berhasil ditaklukkan dan belum, serta apa alasan yang membuatnya menjadi seperti itu. Lihat juga kekuatan yang kamu miliki, apakah sudah dipakai dengan optimal, belum optimal, atau justru sudah mulai kelelahan? Semua jawaban dari evaluasi ini dapat dipakai untuk memperbaiki dan mempertajam strategi yang kamu punya.

Bagaimana? Sudah siap membuat rencana dalam mengejar cita-cita? Kamu juga bisa menuliskan cita-cita dan strategimu di bagian comment dan Ruang Psikologi akan mencoba memberi masukan bagi rencanamu sejauh ini. Selamat mengejar cita-cita!

Sumber yang dipakai:

Andersen, Erika. (2010). Being Strategic. New York: St. Martin’s Press.

Ramadion Syam

Terpukau dengan semangat sharing di dunia digital, Dion pun ingin membagikan sesuatu ke penghuni dunia maya. Tidak berbakat menyanyi, menari, dan memang secara general tidak sedap dipandang, Dion pun memilih dunia menulis. RuangPsikologi.com adalah proyek serius satu-satunya yang dia punya. Email Dion di: dion@ruangpsikologi.com

18 Comments
  • Reply December 21, 2012

    Nisa fauziyah

    Saya memiliki mimpi untuk menjadi seorang koki tetapi saya mempunyai masalah finansial dan terkadang saya merasa mustahil untuk bisa mencapainya. walau terkadang saya yakin bukan itu tidak mungkin tetapi diri saya yg sangat buruk dalam memperjuangkannya.bagaimana yah saya tahu sikap saya selama ini belum baik terhadap mimpi saya tetapi saya sulit untuk mengubahnya walau saya ingin sekali memiliki sikap yg baik dalam mngejar mimpi saya.
    saya harus bagaimana yah…?

    • Reply January 1, 2014

      Drs H Eddy Hasanuddin

      Saya mempunyai cita2 yang tentunya lebih tinggi gradenya dari “mimpi” untuk menjadi seorang “Pengawas SMK”, tetapi aturan baru sekarang harus melalui Jabatan Kepala Sekolah terlebih dahulu, nah untuk bersaing mewujudkan hal tersebut “makin panjang dan terjal” jalannya …. ya sekarang saya berserah diri kepadaNya, di tahun 2014 ini semoga akan diberikanNya yang terbaik untuk mengakhiri masa pengabdian saya di dunia pendidikan …. amin.

  • [...] Apa Pun Cita-citamu, Berpikir Strategis adalah Senjata untuk Meraihnya [...]

  • Reply March 12, 2013

    Angga Lanuma

    Terima Kasih…

    Ijin Copas…

  • Reply January 1, 2014

    Drs H Eddy Hasanuddin

    Saya mempunyai cita2 yang tentunya lebih tinggi gradenya dari “mimpi” untuk menjadi seorang “Pengawas SMK”, tetapi aturan baru sekarang harus melalui Jabatan Kepala Sekolah terlebih dahulu, nah untuk bersaing mewujudkan hal tersebut “makin panjang dan terjal” jalannya …. ya sekarang saya berserah diri kepadaNya, di tahun 2014 ini semoga akan diberikanNya yang terbaik untuk mengakhiri masa pengabdian saya di dunia pendidikan …. amin.

    • Ramadion Syam
      Reply January 2, 2014

      Ramadion Syam

      Halo pak Eddy,

      Coba ditarik ke belakang, pak. Dari Pengawas SMK < Seleksi Pengawas SMK < Pengabdian sebagai Kepala Sekolah < terpilih menjadi Kepala Sekolah < … < Kondisi sekarang

      Nanti akan terlihat, strategi apa yang diperlukan, skill apa yang dibutuhkan, dan berapa waktu minimal untuk menyiapkan skill tersebut. Semoga cita-cita bapak tercapai tepat waktu, ya :)

  • Reply January 15, 2014

    Arief

    saya adlh seorang remaja berusia 23 thn berlatar-belakang dr keluarga yg kurang mampu dan tdk terpandang. selama ini kuliah blum selesai krn pikiran terbagi utk mengejar cita2 lbh cepat agar dpt mengangkat status sosial keluarga. cita2 sy ingin mjd pengusaha. orangtua sy ingin agar sy mjd pegawai negeri tp sy tdk mau. sy gemar menulis dan bermusik. mohon kiranya Bapak dpt memberikan solusi terhadap permasalahan sy bgmn agar sy dpt mewujudkan cita2 sy utk mjd pengusaha. terima kasih sebelumnya, semoga kesuksesan selalu menyertai.

    • Ramadion Syam
      Reply January 17, 2014

      Ramadion Syam

      Halo mas Arief,

      Coba langkah-langkah di artikel ini dibuat mengikuti kondisi mas sekarang. Insya Allah, jalannya akan lebih terlihat.

      Ditulis di sini saja, nanti akan kita diskusikan bersama :)

      Salam,
      Dion

  • Reply February 26, 2014

    Lalu Panji Ardiansyah

    saya bercita cita sebagai polisi bertitelkan perwira tapi saya binggung keadaan sya ada yang kurang dari keadaan ,dan apalgi saya bercita ingin jadi orng sukses, lucunya bgaimana ya caranya orng yg kita mimpikan mnjadi psangan hidup qt contoh bisa kenal dekat sama nabilah JKT48

    • Ramadion Syam
      Reply February 27, 2014

      Ramadion Syam

      Halo Panji,

      Gw jawab pertanyaan pertama dulu, ya. Untuk cita-cita sebagai polisi, kekurangan kamu di mana, ya? Coba bikin daftarnya, dan cari cara untuk mengatasi atau menghindarinya.

      Misalnya, kalau kekurangan adalah kemampuan fisik yang kurang terlatih, coba kamu mulai olahraga secara rutin dari sekarang. Kalau kekurangannya adalah finansial, coba mulai cari tambahan pemasukan untuk menabung. Kalau kekurangannya adalah cacat tubuh, kamu bisa mencari jalur lain untuk masuk kepolisian, misalnya dengan menjadi sarjana psikologi lalu mengajukan diri untuk menjadi terapis kepolisian.

      Ingin menjadi pasangan hidup selebritis? Coba kamu identifikasi orang-orang non-selebritis yang menikahi seleb. Profesinya apa? Banyak dari mereka yang pengusaha sukses, kan? Nah, itu salah satu jalan yang bisa kamu kejar, hehe..

  • Reply March 27, 2014

    Rahmah

    Ka terimakasih sebelumnya sudah menyediakan kolom komentar untuk pembaca. Saya seorang pelajar SMK,saya mempunyai cita-cita sebagai seorang psikolog. Tetapi saya belum tahu rencana apa-apa saja yang harus saya lakukan. usaha saya saat ini adalah mencari informasi tentang psikolog, tapi hasil yang saya dapatkan belum bisa membuat saya merencanakan hal-hal yang harus saya lakukan. Dan saya juga berasal dari keluarga yang kurang mampu,namun saat ini saya berusaha mencari beasiswa perguruan tinggi. Apakah ada saran untuk saya menyelesaikan masalah ini?

    • Ramadion Syam
      Reply March 28, 2014

      Ramadion Syam

      Halo Rahmah,

      Untuk jenis-jenis psikolog bisa kamu baca di sini:

      http://ruangpsikologi.com/dunia-kerja/cabang-psikologi/

      Sebagai informasi tambahan, untuk jadi psikolog kamu harus lulus S1 (Sarjana Psikologi) kemudian mengambil S2 profesi Psikolog, baik klinis dewasa atau klinis anak. Jadi, kira-kira butuh 6 tahun untuk menjadi psikolog. Sebuah jenjang yang sepadan ya, karena kamu kan akan menolong kondisi kejiwaan orang lain :)

      Lalu, untuk beasiswa, gw taunya yang untuk UI karena gw lulusan sana. Biasanya, beberapa bulan sebelum SBMPTN akan ada pengumuman bagaimana caranya mengajukan beasiswa S1. Kamu bisa juga datang langsung ke BEM Fakultas untuk menanyakan informasi ini, bisa ketemu sama departemen sosialnya.

      Lalu, kalau periode ini terlewat, jangan khawatir. Kamu keterima, pada saat daftar ulang kamu bisa ke tenda BEM fakultas untuk meminta advokasi keringanan biaya kuliah. Tapi karena judulnya keringanan, biasanya hanya berupa potongan. Jadi, utamakan mencari info sebelum SBMPTN.

      Nanti setelah masuk, di tahun kedua biasanya akan ada pengumuman beasiswa untuk mahasiswa yang membutuhkan bantuan. Besarnya sebanyak biaya kuliah. Tapi ini sistemnya penggantian uang, jadi di awal semester kamu harus menyiapkan bayaran kuliah dulu. Dan ini peminatnya cukup banyak, jadi nilai kamu juga harus bagus :)

      Begitu deh, info dari gw. Kalau ada yang mau ditanyakan lagi, silakan loh ya :D

      • Reply March 29, 2014

        Rahmah

        terimakasih banyak ya Ka, infonya berguna banget. :)
        kebetulan saya juga tertarik masuk UI.
        Apa boleh sebelum jadi mahasiswa kita dateng untuk tanyakan informasi beasiswa di BEM Fakultas?
        Dan apa bisa lulusan SMK dengan jurusan yang tidak terfokus dengan psikolog mengambil jurusan itu?

        • Ramadion Syam
          Reply April 1, 2014

          Ramadion Syam

          Halo Rahmah,

          BEM Fakultas terbuka kok, untuk siapa saja yang mencari informasi. Mengenai lulusan SMK yang mau masuk psikologi, coba tanyakan ke BEM atau ke Tata Usaha fakultas, deh. Dulu sih, di angkatan saya siswa IPA, IPS, atau Bahasa bisa masuk karena semua tergantung dari nilai SBMPTN. Nah, kalau sekarang kamu harus cek, apakah ada perubahan kebijakan atau tidak. Sukses, ya :D

  • Reply June 26, 2014

    Riyan

    Trimakasih sebelumnya ka, infonya sangat membantu. Kalau kita blm mengetahui keahlian apa yg kita punya dan cita-citanya tidak konsekuen itu gimana solusinya ya ka?

    • Ramadion Syam
      Reply August 13, 2014

      Ramadion Syam

      Halo Riyan,

      Ada satu tes psikologi yang bisa membantu kamu menjawab pertanyaan ini. Namanya, tes minat dan bakat. Biasanya sih, SMA kamu akan memanggil lembaga psikologi untuk mengetes siswanya untuk membantu mereka memilih jurusan kuliah.

      Tapi kalau sekolah kamu belum melakukannya, kamu dan teman-teman bisa pergi ke lembaga psikologi terdekat untuk meminta tes tersebut. Saya mengatakan “kamu dan teman-teman” karena biasanya makin banyak peserta, biaya per-orangnya juga makin murah :)

  • Reply July 17, 2014

    Brahma Saputra

    Saya seorang pelajar berumur 16 tahun. Saya mempunyai cita cita untuk bekerja di Bank Indonesia. Saat inii saya masuk pada jurusan IPS. Bagaimana cara saya agar dapat mewujudkan cita cita itu kedepannya. Terima kasih :)

    • Ramadion Syam
      Reply August 13, 2014

      Ramadion Syam

      Halo Brahma,

      Wah, cita-cita kamu pas sekali dengan artikel ini. Langkah pertama adalah mencari tahu jabatan apa saja yang tersedia di Bank Indonesia, dan apa jurusan yang menjadi syarat untuk jabatan tersebut. Pasti banyak kan, yang berhubungan dengan IPS. Misalnya, akuntansi, manajemen, psikologi (HRD), dan lain-lain.

      Lalu, kamu coba deh, masuk ke jurusan tersebut :)

Leave a Reply