Dinamika Psikologis Perilaku Kekerasan Dalam Film An American Crime
Beberapa hari yang lalu, saya diberi kesempatan untuk menjadi moderator di sebuah acara kajian film dengan pembicara Tina Dahlan, M.Psi, Psi. Film yang dipilih adalah film An American Crime (2007) berdasarkan kisah nyata dan naskah ditulis berdasarkan catatan persidangan ini terjadi di Indiana pada tahun 1965.
Film ini menceritakan tentang Sylvia Likens dan Jenny Likens, kakak beradik yang umurnya hanya berbeda satu tahun. Orang tua mereka adalah pekerja karnival yang sering berpergian dan mereka seringkali ditinggalkan. Pada saat mereka singgah di Indiana, Sylvia dan Jenny berkenalan dengan dua orang perempuan dari keluarga Baniszewski sepulang dari gereja. Kedua perempuan Baniszewski mengajak Sylvia dan Jenny untuk bermain ke rumahnya. Ketika hari menjelang sore, ayahnya Sylvia dan Jenny – Lester Likens – mencari kedua anaknya ke rumah Baniszewski. Disana ia bertemu dengan Getrude Baniszewski – ibu dari enam orang anak. Setelah obrolan panjang, Gertrude mengetahui bahwa Lester adalah seorang pekerja karnival yang sering berpergian. Di tengah himpitan ekonomi, Getrude memiliki ide agar Lester menitipkan Sylvia dan Jenny di rumahnya dengan bayaran $20 per minggu.
Awalnya semua berjalan lancar. Sylvia dan Jenny terlihat bahagia karena akhirnya mereka mempunyai teman. Hingga pada suatu hari, ketika Sylvia dan Jenny pulang sekolah, Gertrude meminta kedua anak itu untuk pergi ke ruang bawah tanah. Disana Gertrude berkata bahwa ayahnya tidak mengirimnya uang. Gertrude berkata, “I took care of you bitches for nothing!” kemudian mencambuk Sylvia dan Jenny menggunakan ikat pinggang. Padahal, ayah mereka hanya terlambat mengirimkan.
Di lain hari, anak pertama Gertrude yang bernama Paula cepat akrab dengan Sylvia. Ia mengajak Sylvia berkenalan dengan pacarnya Paula bernama Gerald yang sudah mempunyai istri. Beberapa hari kemudian Paula mengaku kalau ia hamil oleh Gerald dan minta Sylvia tidak menceritakan kepada siapapun. Pada suatu malam, Paula menghampiri Gerald dan Gerald meminta Paula meninggalkannya karena istrinya sudah kembali. Paula memohon agar Gerald tidak meninggalkannya dan karena itu Gerald berbuat kasar pada Paula. Sylvia yang melihat kejadian itu, keceplosan berkata bahwa Paula sedang mengandung anak Gerald. Sontak Paula marah besar karena Sylvia sudah berjanji ia tidak mengatakan pada siapa-siapa.
Paula pulang ke rumah sambil menangis. Ia mengadu kepada ibunya kalau Sylvia menyebarkan gossip bahwa ia seorang pelacur. Mendengar hal ini, Gertrude marah besar. Ia membiarkan Paula memukuli Gertrude di depan kelima anaknya yang lain. Selain itu ada beberapa kekerasan lain yang terjadi yaitu ketika Sylvia dan Jenny menelepon orang tuanya di telepon umum, Gertrude menuduh mereka telah mencuri untuk mendapatkan uang melakukan sambungan telepon jarak jauh, dan Gertrude memberi pelajaran kepada Sylvia dengan menyundutkan rokok ke tangannya. Kekerasan lainnya terjadi ketika Gertrude mendengar dari orang lain bahwa Paula hamil, Gertrude melampiaskan amarahnya pada Sylvia. Sylvia dipaksa memasukkan botol Pepsi-Cola ke dalam vaginanya kemudian dilempar ke ruangan bawah tanah. Selama berhari-hari, ia tidak hanya disiksa oleh Gertrude, Sylvia disiksa dengan anak-anak Gertrude dan anak-anak tetangga. Puncaknya adalah ketika Gertrude mengetahui hasil tes bahwa Paula positif hamil, ia menuliskan di perut Sylvia ‘I’m a prostitute and proud of it’ menggunakan peniti yang dipanaskan.
Dinamika Psikologis Gertrude Baniszewski

Selain bisa dikaji dari masalah sosial yaitu faktor ekonomi sebagai pemicu tindak kekerasan, film ini bisa dikaji melalui dinamika psikologis yang dialami Gertrude dengan menggunakan psikoanalisis Sigmund Freud.
Menurut Sigmund Freud, kepribadian tersusun dari 3 sistem pokok yaitu id, ego, dan superego yang saling berinteraksi satu sama lain sehingga sulit untuk memisah-misahkan pengaruhnya pada perilaku manusia. Id adalah sistem kepribadian inti yang berisi insting seksual dan agresi yang dibawa sejak lahir dan realitas psikis yang sebenarnya karena bersifat subjektif dan tidak mengenal kenyataan objektif. Id merupakan reservoir energi psikis yang menggerakkan ego dan superego. Dalam buku Supratiknya (1993) disebutkan bahwa id tidak bisa menanggulangi peningkatan energi yang dialaminya sebagai keadaan-keadaan tegang yang tidak menyenangkan. Oleh karena itu, apabila tingkat tegangan manusia meningkat, sebagai akibat stimulasi dari luar atau rangsangan dari dalam, maka id akan bekerja sedemikian rupa untuk segera menghentikan tegangan dan mengembalikan manusia pada tingkat energi rendah dan konstan serta menyenangkan. Jadi, pedoman dalam berfungsinya id adalah menghindarkan diri dari ketidaknikmatan dan mengejar kenikmatan.
Dalam diri Gertrude, ada sebuah kemarahan yang besar yang terpendam. Gertrude memiliki harapan untuk mengembangkan anaknya jauh lebih baik dari padanya. Namun pada prakteknya, ia mengalami terhambat oleh kenyataan dimana ia hanya seorang ibu yang bekerja sebagai tukang setrika namun harus membesarkan enam orang anak tanpa suami dalam kondisi keuangan pas-pasan dan keadaan fisik yang kurang baik (penyakitan). Untuk mengobati penyakitnya, ia meracik obat sendiri yang tidak jelas asal usulnya karena tidak mampu pergi ke dokter. Selain itu, ketika Gertrude membutuhkan sosok laki-laki, ia hanya memiliki pacar muda yang suka melakukan kekerasan dan menghampirinya jika pemuda itu membutuhkan uang. Harapan-harapan untuk membesarkan anak untuk menjadi lebih baik dari dirinya pun sirna dimana ia tahu bahwa Paula mempunyai pacar pria beristri – sama dengan dirinya yang memiliki pacar yang umurnya hanya beda enam tahun dari Paula.
Hambatan dari luar tentunya membuat kondisi yang tidak mengenakkan bagi Gertrude. Jika kembali pada fungsi id yang memiliki prinsip mengejar kenikmatan, maka Gertrude harus melampiaskan energi agresifnya kepada seseorang atau sesuatu. Untuk menghindari rasa yang tidak enak, seseorang dapat melakukan proses primer yaitu usaha menghentikan tegangan dengan membentuk khayalan tentang objek yang dapat menghilangkan tegangan tersebut. Namun tentunya khayalan tidak dapat mereduksikan tegangan, maka ia harus merealisasikan khayalannya tersebut.
Lain dengan id, ego berfungsi untuk menyalurkan kebutuhan manusia yang sesuai dengan dunia kenyataan objektif. Artinya, jika Gertrude lapar, maka ia tidak bisa hanya membayangkan makanan saja namun ia harus mencari makan. Jika ia tidak bisa membeli makan, maka ia harus mencari uang. Ego merupakan badan eksekutif dimana ego yang mengendalikan kebutuhan ke arah tindakan, memilih lingkungan mana yang akan ia berikan respon, dan memutuskan insting-insting manakah yang akan dipuaskan dan bagaimana caranya.
Insting agresi dan tegangan dalam diri Gertrude tentunya harus dipuaskan. Jika kewalahan menghadapi stimulasi yang berlebihan yang tidak berhasil dikendalikan oleh ego, maka ego akan diliputi kecemasan. Di bawah kecemasan yang berlebihan, terkadang ego harus menempuh cara ekstrem untuk menghilangkan tekanan dengan cara mekanisme pertahanan diri (defense mechanism).
Mekanisme pertahanan diri Gertrude dalam film ini terlihat sekali. Sering ia melakukan proses penyangkalan (denial) ketika tahu bahwa Paula memang hamil di luar nikah – sama seperti dirinya yang hamil oleh pacar mudanya. Namun ia menyangkal bahwa Paula adalah anak yang baik dan ia bangga padanya. Bahkan Gertrude tidak menyakiti Paula sebagai bentuk pelampiasan amarahnya.
Gertrude membutuhkan pelampiasan amarahnya namun ia tidak bisa melakukan itu terhadap anaknya karena ia mempunyai tanggung jawab untuk membesarkan anak tersebut. Oleh karena itu, ia melampiaskan amarahnya pada Sylvia – objek yang aman dari tanggung jawab. Dalam mekanisme pertahanan diri, aksi ini disebut dengan displacement yaitu menukar pelampiasan dorongan seksual atau agresi kepada objek yang lebih bisa diterima atau kurang membahayakan bagi diri seseorang. Tentu, jika Gertrude melakukan kekerasan pada anaknya sehingga anaknya menjadi cacat, ini akan merugikannya karena ia memiliki misi untuk membesarkan anak yang lebih baik darinya. Oleh karena itu, ia melakukan ini pada Sylvia yang tidak mempunyai hubungan apa-apa.
Mekanisme pertahanan ini begitu terlihat pada adegan dimana Gertrude menemukan tes kehamilan Paula dan hasilnya positif. Walaupun marah terhadap Paula, ia tidak menyakiti anaknya. Ia malah menghampiri Sylvia yang berada di ruangan bawah tanah kemudian menyiksanya. Kemudian, beberapa saat setelah itu, seorang pendeta datang ke rumah Gertrude dan menanyakan kabar Sylvia yang tidak pernah hadir ke gereja. Sepulangnya pendeta itu, Gertrude marah lagi dan langsung menyiksa Sylvia dengan menuliskan I’m prostitute and proud of it di perut Sylvia.

Selain id dan ego, ada sistem lain bernama superego. Ini adalah wewenang moral dari kepribadian yang mencerminkan kepribadian yang ideal dan bukan yang real. Dalam diri Gertrude, ada kalanya id berbenturan dengan superego. Misalnya ia pernah menyesali perbuatannya terhadap Sylvia. Di sana, ia mengaku bahwa ia ingin membesarkan anak yang tidak sepertinya sementara Sylvia memiliki segalanya. Namun superego yang berfungsi untuk merintangi impuls-impuls id (seksual dan agresi) kurang kuat sehingga ia setelah menyesali perbuatannya, ia memukuli Sylvia lagi. Malah Gertrude tidak memarahi atau melarang ketika anak-anaknya menyiksa Sylvia.
Di akhir cerita pada adegan persidangan, anak-anak Gertrude dan anak-anak tetangga yang ikut melakukan kekerasan mengaku tidak mengetahui mengapa mereka melakukan hal tersebut. Artinya mereka melakukan ini secara tidak sadar. Semua orang memiliki dorongan seks dan agresi yang sifatnya instingtif dan tidak dapat dikendalikan dalam ranah ketidaksadaran dan cara keluarnya dorongan ini tergantung dari penanaman norma dan moral di superego. Ibaratnya superego seperti rem. Namun bagaimana bisa anak-anak Gertrude dan anak-anak tetangga ini memiliki rem yang pakem atau kuat jika penanaman norma atau moralnya pun cacat. Maka tidak heran ketika salah satu anak Gertrude yang kecil berkata bahwa ia diperbolehkan memukuli Sylvia karena Sylvia pelacur dan butuh pelajaran.
Ini bukanlah sekedar film karena kejadian seperti ini benar-benar nyata adanya. Di Indonesia, 25 juta anak Indonesia pernah mengalami kekerasan. Menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar, penyebab tingginya tingkat kekerasan salah satunya akibat kesulitan ekonomi sehingga para orang tua melampiaskan kepada anak-anaknya. Jika angka yang disebutkan tadi itu benar, berarti ada 25 juta anak Indonesia yang terkena dampak psikologis dari kekerasan seperti imitasi perilaku agresif, anak merasa takut dan cemas, kurang percaya diri, rendah diri maupun merasa tidak berarti dalam lingkungannya sehingga tidak termotivasi untuk mewujudkan potensi-potensi yang dimilikinya. (Nia Janiar)
Sumber:
Supratiknya, A. 1993. Teori-teori Psikodinamik (Klinis). Yogyakarta: Kanisius
Suryabrata, Sumadi. 2003. Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
http://www.atmajaya.ac.id/content.asp?f=13&id=3085
http://nasional.kompas.com/read/2010/03/19/12074218/25.Juta.Anak.Indonesia.Alami.Kekerasan









Wah sinopsisnya agak serem juga. Jadi pada dasarnya manusia punya tiga sistem yang memengaruhi apakah dia akan melakukan kekerasan atau tidak. Hm.
Di artikel ini kan disebut bahwa kekuatan rem superego sangat tergantung pada penanaman norma dan nilai-nilai moral. Lalu bagaimana dengan id dan ego? Ada nggak sesuatu yang bisa menguatkan kedua sistem tersebut? Atau setiap orang memang sudah dikasih jatah id dan egonya masing2 yang nggak bisa diubah-ubah lagi?
Thanks buat tanggapannya.
Kalau kata saya, id tidak dapat diubah dengan pengalaman karena ia tidak berhubungan dengan dunia luar (subjektif). Namun id dapat dikontrol oleh ego yang bertindak sebagai reality testing.
Misalnya dari id, saya memiliki hasrat seksual. Ego yang bertindak untuk menyalurkan hasrat saya dengan dunia luar yang dapat diterima oleh lingkungan. Ini yang disebut reality testing. Kalau saya memiliki hasrat seksual kemudian saya menggoda setiap laki-laki (dan tentunya bagi masyarakat sekitar ini tidak dapat diterima), maka saya akan mencoba cara lain. Nah, disini superego masuk. Ternyata nilai moral yang saya anut adalah saya tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain dan tidak masalah kalau saya menggoda laki-laki, maka saya hajar saja untuk menggoda laki-laki.
Cara ego deal dengan lingkungan bisa dicapai melalui pengalaman, latihan, dan pendidikan.
Intinya, jangan melihat ini sebagai keadaan terpisah karena id, ego, dan superego adalah sebuah sistem.
Leave your response!
Follow us!
ISBA Award - Gold Blog
Tags
anak belajar bicara di depan umum cinta diri ekonomi eksperimen emosi freud gangguan gender homoseksual indonesia karir kecemasan kematian kepribadian kesehatan klinis leader makanan neuropsikologi orang tua pacaran pendidikan perempuan Perilaku seksual perkembangan psikologi psikologi anak psikologi ekonomi Psikologi Industri & Behavioral Economy Psikologi klinis Psikologi pendidikan Psikologi perkembangan psikologi positif psikologi seks Psikologi sosial Psikologi Umum & Eksperimen public speaking remaja seks seksual sosial wanita Blog (10)
Essay (148)
Featured (140)
Headline (136)
Lain-lain (35)
News (6)
Psikologi Industri & Behavioral Economy (17)
Psikologi klinis (44)
Psikologi Olahraga (2)
Psikologi pendidikan (15)
Psikologi Perilaku Seksual (5)
Psikologi perkembangan (29)
Psikologi sosial (45)
Psikologi Umum & Eksperimen (31)
Uncategorized (7)
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck requires Flash Player 9 or better.
Ruang Psikologi's Friends
Facebook Friends
Already a member?Login
Newsletter subscription
Recent Comments
Blogroll
Browse by Authors
- amarilldo (RSS) (11)
- edelia (RSS) (4)
- Jono (RSS) (35)
- Khrisnaresa adytia (RSS) (23)
- Lois (RSS) (13)
- Melita Tarisa (RSS) (8)
- Nia Janiar (RSS) (24)
- Penulis Tamu (RSS) (22)
- ramadion (RSS) (22)
Powered by Authors WidgetArchives
How many people are with us?
Link to us!
Want to spread the word about Ruangpsikologi.com?
Here's how to add the above picture to your website. Click inside the box, press ctrl+a, left click your mouse and click copy. Paste it into your webpage.
Recent Trackbacks