<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Cerahkan Harimu dengan Tawa</title>
	<atom:link href="http://ruangpsikologi.com/cerahkan-harimu-dengan-tawa/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ruangpsikologi.com/cerahkan-harimu-dengan-tawa</link>
	<description>Webzine Psikologi Modern</description>
	<pubDate>Fri, 18 May 2012 03:29:33 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: g.pribadi</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/cerahkan-harimu-dengan-tawa/comment-page-1#comment-341</link>
		<dc:creator>g.pribadi</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 13:46:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=559#comment-341</guid>
		<description>Wah..yon, berarti anak AUTIS lebih jujur dan gak 'fake' dong ya? :)

EHm...sayangnya orang Indonesia lebih menyukai humor (kemudian diartikan oleh gw sebagai: lebih sering tertawa karena) yang bersifat sarkastik. Inisih sebenernya hasil penelitian kecil temen gw (Grandis). Makanya di tv-tv lebih dominan acara lawak yang jahatin, ngehina orang dll. Liat aja gaya lawakan yang berkembang di sitkom TV2 sekarang. Giliran dikasih humor yang agak mikir...jadi males dan ga ngerti dah...hehehe...Sedih ya..apalagi kalo anak kecil yang banyak nonton!Huffh</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wah..yon, berarti anak AUTIS lebih jujur dan gak &#8216;fake&#8217; dong ya? <img src='http://ruangpsikologi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>EHm&#8230;sayangnya orang Indonesia lebih menyukai humor (kemudian diartikan oleh gw sebagai: lebih sering tertawa karena) yang bersifat sarkastik. Inisih sebenernya hasil penelitian kecil temen gw (Grandis). Makanya di tv-tv lebih dominan acara lawak yang jahatin, ngehina orang dll. Liat aja gaya lawakan yang berkembang di sitkom TV2 sekarang. Giliran dikasih humor yang agak mikir&#8230;jadi males dan ga ngerti dah&#8230;hehehe&#8230;Sedih ya..apalagi kalo anak kecil yang banyak nonton!Huffh</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ramadion</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/cerahkan-harimu-dengan-tawa/comment-page-1#comment-274</link>
		<dc:creator>ramadion</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Sep 2009 05:15:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=559#comment-274</guid>
		<description>Insert: 
Menurut William Hudenko, psikolog dari Itacha College, ada dua jenis tertawa. Tertawa yang bersuara (voiced) dan sunyi (unvoiced). Masih dibutuhkan penelitian yang lebih lanjut untuk mengetahui secara jelas perbedaan keduanya. Hipotesis sementara yang paling dapat diterima adalah tertawa yang bersuara biasanya berasal dari kondisi positif yang ada dalam diri sementara tertawa yang sunyi digunakan untuk negosiasi sosial.

Tertawa yang bersuara sifatnya lebih alami, suaranya kita keluarkan secara spontan. Sementara itu, tertawa yang sunyi biasanya dihasilkan dengan cara sadar. Kita berusaha menghasilkan gestur-gestur atau suara-suara yang membuat kita tampak seperti tertawa. Tertawa yang sunyi ini biasanya dilakukan untuk membuat suasana sosial lebih hidup.

Secara umum, proporsi orang dewasa melakukan keduanya hampir seimbang, sementara itu anak-anak lebih banyak melakukan tertawa yang bersuara. Saat dilakukan penelitian pada anak Autis, ternyata anak-anak tersebut hampir tidak pernah tertawa yang sunyi. Pada anak-anak normal masih ditemukan tertawa yang sunyi, sementara pada anak-anak Autis hampir tidak ditemukan hal tersebut. Hasil pengamatan tersebut membuat Hudenko menarik kesimpulan sementara bahwa anak Autis tidak menggunakan tertawa sama seperti orang kebanyakan. Menurutnya, anak-anak normal akan belajar menggunakan tertawa untuk menghadapi lingkungan sosialnya, sementara anak-anak Autis tidak melakukannya.

Dari hasil pengamatan tersebut dapat mendukung hipotesis awal dari Hudenko bahwa dua jenis tertawa mempunyai fungsi yang berbeda pula. Selain itu, melalui hasil tersebut dapat membantu para perawat untuk mengetahui cara anak Autis menghadapi lingkungan sosialnya. 

Adanya kaitan antara tertawa dengan lingkungan sosial ini diperkuat oleh penemuan dari Profesor Provine. Dia menemukan bahwa tidak semua tertawa merupakan reaksi dari suatu hal yang lucu. Setelah melakukan penelitian selama 10 tahun terhadap 2000 kasus tertawa, ditemukan bahwa seseorang dapat tertawa saat bersama orang lain meskipun hal yang dibicarakan bukan merupakan sesuatu yang lucu.

Tertawa juga bersifat menular. Saat seseorang tertawa, maka sangat besar kecenderungan kita untuk mengikutinya. Hal ini membuktikan bahwa tertawa itu menular. Sophie Scott menemukan bahwa bagian otak yang bereaksi pada suara-suara yang diasosiasikan positif (suara kemenangan, tertawa) dan negatif (teriak, muntah-muntah) adalah bagian korteks premotor.

Selain itu, dia juga menemukan bahwa otak akan lebih berespons terhadap suara yang positif daripada yang negatif. Hal ini yang mendukung bahwa tertawa dapat menular. Menularnya tertawa merupakan faktor penting dalam kehidupan sosial. Kecenderungan untuk menular tersebut dapat membuat hubungan antar individu yang tertawa bersama lebih akrab. Beberapa peneliti bahkan percaya bahwa sebelum manusia dapat berbicara, mereka menggunakan tertawa untuk berkomunikasi.

Sumber:
http://www.msnbc.msn.com/id/31802854/ns/health-behavior/
http://www.msnbc.msn.com/id/16177354/
http://livescience.com</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Insert:<br />
Menurut William Hudenko, psikolog dari Itacha College, ada dua jenis tertawa. Tertawa yang bersuara (voiced) dan sunyi (unvoiced). Masih dibutuhkan penelitian yang lebih lanjut untuk mengetahui secara jelas perbedaan keduanya. Hipotesis sementara yang paling dapat diterima adalah tertawa yang bersuara biasanya berasal dari kondisi positif yang ada dalam diri sementara tertawa yang sunyi digunakan untuk negosiasi sosial.</p>
<p>Tertawa yang bersuara sifatnya lebih alami, suaranya kita keluarkan secara spontan. Sementara itu, tertawa yang sunyi biasanya dihasilkan dengan cara sadar. Kita berusaha menghasilkan gestur-gestur atau suara-suara yang membuat kita tampak seperti tertawa. Tertawa yang sunyi ini biasanya dilakukan untuk membuat suasana sosial lebih hidup.</p>
<p>Secara umum, proporsi orang dewasa melakukan keduanya hampir seimbang, sementara itu anak-anak lebih banyak melakukan tertawa yang bersuara. Saat dilakukan penelitian pada anak Autis, ternyata anak-anak tersebut hampir tidak pernah tertawa yang sunyi. Pada anak-anak normal masih ditemukan tertawa yang sunyi, sementara pada anak-anak Autis hampir tidak ditemukan hal tersebut. Hasil pengamatan tersebut membuat Hudenko menarik kesimpulan sementara bahwa anak Autis tidak menggunakan tertawa sama seperti orang kebanyakan. Menurutnya, anak-anak normal akan belajar menggunakan tertawa untuk menghadapi lingkungan sosialnya, sementara anak-anak Autis tidak melakukannya.</p>
<p>Dari hasil pengamatan tersebut dapat mendukung hipotesis awal dari Hudenko bahwa dua jenis tertawa mempunyai fungsi yang berbeda pula. Selain itu, melalui hasil tersebut dapat membantu para perawat untuk mengetahui cara anak Autis menghadapi lingkungan sosialnya. </p>
<p>Adanya kaitan antara tertawa dengan lingkungan sosial ini diperkuat oleh penemuan dari Profesor Provine. Dia menemukan bahwa tidak semua tertawa merupakan reaksi dari suatu hal yang lucu. Setelah melakukan penelitian selama 10 tahun terhadap 2000 kasus tertawa, ditemukan bahwa seseorang dapat tertawa saat bersama orang lain meskipun hal yang dibicarakan bukan merupakan sesuatu yang lucu.</p>
<p>Tertawa juga bersifat menular. Saat seseorang tertawa, maka sangat besar kecenderungan kita untuk mengikutinya. Hal ini membuktikan bahwa tertawa itu menular. Sophie Scott menemukan bahwa bagian otak yang bereaksi pada suara-suara yang diasosiasikan positif (suara kemenangan, tertawa) dan negatif (teriak, muntah-muntah) adalah bagian korteks premotor.</p>
<p>Selain itu, dia juga menemukan bahwa otak akan lebih berespons terhadap suara yang positif daripada yang negatif. Hal ini yang mendukung bahwa tertawa dapat menular. Menularnya tertawa merupakan faktor penting dalam kehidupan sosial. Kecenderungan untuk menular tersebut dapat membuat hubungan antar individu yang tertawa bersama lebih akrab. Beberapa peneliti bahkan percaya bahwa sebelum manusia dapat berbicara, mereka menggunakan tertawa untuk berkomunikasi.</p>
<p>Sumber:<br />
<a href="http://www.msnbc.msn.com/id/31802854/ns/health-behavior/" rel="nofollow">http://www.msnbc.msn.com/id/31802854/ns/health-behavior/</a><br />
<a href="http://www.msnbc.msn.com/id/16177354/" rel="nofollow">http://www.msnbc.msn.com/id/16177354/</a><br />
<a href="http://livescience.com" rel="nofollow">http://livescience.com</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

