Home » Essay, Featured, Headline, Psikologi Umum & Eksperimen

Cerahkan Harimu dengan Tawa

20 September 2009 2,310 views 2 Comments

laughing baby

Oleh: Christian Hermawan

Tertawa sangat disukai oleh manusia. Setiap hari, manusia dewasa rata-rata tertawa 17 kali. Berbagai cara dilakukan oleh manusia untuk membuat sesamanya tertawa, bahkan ada profesi khusus yang berusaha membuat orang tertawa, yaitu pelawak. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya tertawa dalam hidup manusia. Penelitian-penelitian tentang tertawapun dilakukan oleh para ilmuwan. Dari penelitian-penelitian tersebut, berhasil ditemukan bahwa tertawa dapat berperan penting dalam dunia kesehatan.

Para ilmuwan percaya kalau tertawa dapat mengeluarkan emosi-emosi negatif yang disimpan oleh tubuh manusia. Dengan mengeluarkan emosi-emosi negatif tersebut, maka emosi yang tertinggal dalam tubuh akan cenderung positif. Saat tubuh menyimpan emosi positif maka penyakit-penyakit tidak akan dengan mudah menyerang tubuh manusia. Dengan dasar pemikiran ini, saat ini berkembang terapi tertawa (Junkins, 1999). Melalui terapi tertawa, klien diajak untuk mengeluarkan emosi-emosi negatif yang tersimpan dalam diri mereka (katarsis).

Terapi tertawa ini memang tidak mengubah fakta kalau kita memiliki masalah. Melalui terapi tertawa dapat membuat kita mengubah cara pandang terhadap suatu masalah yang dihadapi. Kalau sebelumnya saat ada masalah kita memandang dengan cara pandang yang negatif sehingga menghasilkan emosi yang negatif juga, maka melalui terapi tertawa cara pandang juga menjadi positif.

Selain itu, dengan tertawa kita dapat membuat otak kita berpikir bahwa kita sedang senang. Hal ini disebabkan gestur tubuh kita juga dapat mempengaruhi pikiran dan emosi kita. Dengan membuat kita senang, maka tentunya stress akan berkurang, kesehatan juga akan terjaga.

Lalu, hal lain yang membuat tertawa penting bagi kesehatan adalah tertawa dapat merangsang 15 otot muka untuk berkontraksi dan banyak rangsangan elektrik di seluruh mulut. Hal ini membuat otot muka kita jadi lebih sehat dan tampak lebih segar karena seringnya digerakan dengan baik. Dengan penemuan-penemuan tersebut, maka tertawa cukup terbukti dapat membuat hidup kita lebih sehat.

Dari penemuan-penemuan para peneliti, maka terbukti bahwa tertawa dapat membantu kesehatan manusia. Dengan tertawa kita dapat melihat dunia dengan lebih baik. Oleh karena itu, apapun masalah Anda saat ini, berusahalah tetap dapat tertawa agar dunia menjadi lebih cerah.

Sumber :

http://www.laughtertherapy.com/Articlebestbetforblues.htm#Article:%20Power%20of%20Laughter

http://health.howstuffworks.com/

Sumber foto: http://www.flickr.com/photos/darrowassoc/3914104557/

Info Penulis:

Christian Hermawan adalah mahasiswa tahun terakhir Fakultas Psikologi UI. Dia aktif dalam klub peminatan Teater Psikologi dengan peran-peran yang sering mengundang tawa. Christian juga sering tampil sebagai MC jenaka acara-acara di kampus.

2 Comments »

  • ramadion (author) said:

    Insert:
    Menurut William Hudenko, psikolog dari Itacha College, ada dua jenis tertawa. Tertawa yang bersuara (voiced) dan sunyi (unvoiced). Masih dibutuhkan penelitian yang lebih lanjut untuk mengetahui secara jelas perbedaan keduanya. Hipotesis sementara yang paling dapat diterima adalah tertawa yang bersuara biasanya berasal dari kondisi positif yang ada dalam diri sementara tertawa yang sunyi digunakan untuk negosiasi sosial.

    Tertawa yang bersuara sifatnya lebih alami, suaranya kita keluarkan secara spontan. Sementara itu, tertawa yang sunyi biasanya dihasilkan dengan cara sadar. Kita berusaha menghasilkan gestur-gestur atau suara-suara yang membuat kita tampak seperti tertawa. Tertawa yang sunyi ini biasanya dilakukan untuk membuat suasana sosial lebih hidup.

    Secara umum, proporsi orang dewasa melakukan keduanya hampir seimbang, sementara itu anak-anak lebih banyak melakukan tertawa yang bersuara. Saat dilakukan penelitian pada anak Autis, ternyata anak-anak tersebut hampir tidak pernah tertawa yang sunyi. Pada anak-anak normal masih ditemukan tertawa yang sunyi, sementara pada anak-anak Autis hampir tidak ditemukan hal tersebut. Hasil pengamatan tersebut membuat Hudenko menarik kesimpulan sementara bahwa anak Autis tidak menggunakan tertawa sama seperti orang kebanyakan. Menurutnya, anak-anak normal akan belajar menggunakan tertawa untuk menghadapi lingkungan sosialnya, sementara anak-anak Autis tidak melakukannya.

    Dari hasil pengamatan tersebut dapat mendukung hipotesis awal dari Hudenko bahwa dua jenis tertawa mempunyai fungsi yang berbeda pula. Selain itu, melalui hasil tersebut dapat membantu para perawat untuk mengetahui cara anak Autis menghadapi lingkungan sosialnya.

    Adanya kaitan antara tertawa dengan lingkungan sosial ini diperkuat oleh penemuan dari Profesor Provine. Dia menemukan bahwa tidak semua tertawa merupakan reaksi dari suatu hal yang lucu. Setelah melakukan penelitian selama 10 tahun terhadap 2000 kasus tertawa, ditemukan bahwa seseorang dapat tertawa saat bersama orang lain meskipun hal yang dibicarakan bukan merupakan sesuatu yang lucu.

    Tertawa juga bersifat menular. Saat seseorang tertawa, maka sangat besar kecenderungan kita untuk mengikutinya. Hal ini membuktikan bahwa tertawa itu menular. Sophie Scott menemukan bahwa bagian otak yang bereaksi pada suara-suara yang diasosiasikan positif (suara kemenangan, tertawa) dan negatif (teriak, muntah-muntah) adalah bagian korteks premotor.

    Selain itu, dia juga menemukan bahwa otak akan lebih berespons terhadap suara yang positif daripada yang negatif. Hal ini yang mendukung bahwa tertawa dapat menular. Menularnya tertawa merupakan faktor penting dalam kehidupan sosial. Kecenderungan untuk menular tersebut dapat membuat hubungan antar individu yang tertawa bersama lebih akrab. Beberapa peneliti bahkan percaya bahwa sebelum manusia dapat berbicara, mereka menggunakan tertawa untuk berkomunikasi.

    Sumber:
    http://www.msnbc.msn.com/id/31802854/ns/health-behavior/
    http://www.msnbc.msn.com/id/16177354/
    http://livescience.com

  • g.pribadi said:

    Wah..yon, berarti anak AUTIS lebih jujur dan gak ‘fake’ dong ya? :)

    EHm…sayangnya orang Indonesia lebih menyukai humor (kemudian diartikan oleh gw sebagai: lebih sering tertawa karena) yang bersifat sarkastik. Inisih sebenernya hasil penelitian kecil temen gw (Grandis). Makanya di tv-tv lebih dominan acara lawak yang jahatin, ngehina orang dll. Liat aja gaya lawakan yang berkembang di sitkom TV2 sekarang. Giliran dikasih humor yang agak mikir…jadi males dan ga ngerti dah…hehehe…Sedih ya..apalagi kalo anak kecil yang banyak nonton!Huffh

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word