Home » Archive

Articles in the Psikologi perkembangan Category

Essay, Featured, Headline, Lain-lain, Psikologi klinis, Psikologi perkembangan, Psikologi sosial »

[24 Dec 2011 | 2 Comments | 1,197 views]
Perceraian Orangtua dan Akibatnya terhadap Hubungan Asmara Anak

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak yang orangtuanya bercerai besar kemungkinan akan memiliki hubungan romantis yang buruk di masa yang akan datang. Dimulai dari singkatnya durasi berpacaran hingga kecendrungan yang lebih tinggi pula untuk bercerai ketika mereka menikah.

Essay, Featured, Headline, Lain-lain, Psikologi pendidikan, Psikologi perkembangan »

[28 Aug 2011 | No Comment | 1,158 views]
Disleksia Bukan Penghalang Kesuksesan

Menderita disleksia tidak berarti memiliki masa depan suram tanpa kesuksesan. Banyak individu - individu sukses meski mengalami disleksia. Artikel ini akan semakin memperjelas argumen tersebut.

Essay, Featured, Headline, Psikologi Umum & Eksperimen, Psikologi perkembangan »

[4 Jun 2011 | 23 Comments | 2,822 views]
Sindrom Stockholm: Bertahan di Hubungan Yang Penuh Kekerasan

Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana korban kekerasan dalam sebuah hubungan interpersonal atau romantis masih bisa mencintai, mendukung, dan bahkan membela pelaku kekerasan.

Blog, Featured, Headline, Psikologi perkembangan »

[9 Mar 2011 | 58 Comments | 7,065 views]
Membimbing anak agar menjadi individu yang percaya diri

Rumah adalah tempat anak belajar untuk pertama kali tentang seperti apakah dunia, apakah indah atau menyeramkan. Orang tua adalah guru pertama yang akan membentuk anak, apakah akan menjadi manusia yang percaya diri atau rendah diri. Menjaga perkembangan anak adalah tugas utama orang tua. Lalu, apa yang harus orang tua lakukan saat konflik pribadi (yang pasti akan muncul) berpotensi merusak perkembangan anak?

Essay, Featured, Headline, Psikologi pendidikan, Psikologi perkembangan »

[5 May 2010 | No Comment | 1,466 views]
Ayo Makan, Dek!

Saat jam makan siang bersama di sekolah, Dino (3 tahun) menolak makan meski sudah dibujuk oleh ibu gurunya. Sup telur puyuh yang dibawa dari rumah pun hanya dijadikan mainan oleh Dino. Telur diremas-remas dengan tangan dan kuah pun berceceran di sekitar mangkok. Ibu guru Dino sudah mulai putus asa mengajak Dino makan, hanya sesekali mengingatkan agar Dino tidak memainkan makanan. Dino memang terkenal sulit makan. Hal ini pun dikeluhkan oleh Ibu dan pengasuh Dino di rumah. Namun, bila tiba jam makan kudapan, Dino dengan senang hati melahap biskuit coklat yang dibawakan Ibunya. Ia bahkan tidak perlu diminta dua kali untuk makan makanan tersebut. Apa yang sebenarnya terjadi?