<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Budaya Indonesia yang Terlalu Berbeda</title>
	<atom:link href="http://ruangpsikologi.com/budaya-indonesia-yang-terlalu-berbeda/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ruangpsikologi.com/budaya-indonesia-yang-terlalu-berbeda</link>
	<description>Webzine Psikologi Modern</description>
	<pubDate>Fri, 18 May 2012 02:50:43 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Nia Janiar</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/budaya-indonesia-yang-terlalu-berbeda/comment-page-1#comment-153</link>
		<dc:creator>Nia Janiar</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 07:54:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=12#comment-153</guid>
		<description>Perlu diingat bahwa insting manusia itu terdiri dan seks dan agresi - maka penjajahan atau perang merupakan salah satu bentuk agresinya. 

Ada beberapa teoritikus yang percaya - salah satunya Adler - bahwa manusia memiliki motif untuk menguasai lingkungan (will to power). Kalau diambil dari teori Adler, konflik yang muncul ketika manusia tidak bisa memenuhi tujuannya (power) adalah agresinya yang diekpresikan melaluipenjajahan dan peperangan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Perlu diingat bahwa insting manusia itu terdiri dan seks dan agresi - maka penjajahan atau perang merupakan salah satu bentuk agresinya. </p>
<p>Ada beberapa teoritikus yang percaya - salah satunya Adler - bahwa manusia memiliki motif untuk menguasai lingkungan (will to power). Kalau diambil dari teori Adler, konflik yang muncul ketika manusia tidak bisa memenuhi tujuannya (power) adalah agresinya yang diekpresikan melaluipenjajahan dan peperangan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: vendy</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/budaya-indonesia-yang-terlalu-berbeda/comment-page-1#comment-151</link>
		<dc:creator>vendy</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 07:16:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=12#comment-151</guid>
		<description>atau law of nature masih exist dalam bentuk lain? entah itu dalam bentuk penjajahan, pembantaian, penguasaan di sektor ekonomi, mengaduk2 tatanan keamanan negeri lain, dst..

tapi apa tujuannya? rasa takut? rasa bangga? ingin membuktikan keunggulan? atau keinginan untuk menguasai? kita bisa bilang katalisnya adalah para pendahulu dan nilai-nilai budaya. tapi tetep, yang melakukan bukan para pendahulu apalagi nilai-nilai budaya.

pada akhirnya, untuk setiap peristiwa berdarah2 yang mengatasnamakan perbedaan, gw tetep setuju dengan Robin Williams: "Apes with gun kill people" =))

beda tetap beda. tapi apakah kita bisa meletakkan kaki kita di dalam sepatu orang lain?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>atau law of nature masih exist dalam bentuk lain? entah itu dalam bentuk penjajahan, pembantaian, penguasaan di sektor ekonomi, mengaduk2 tatanan keamanan negeri lain, dst..</p>
<p>tapi apa tujuannya? rasa takut? rasa bangga? ingin membuktikan keunggulan? atau keinginan untuk menguasai? kita bisa bilang katalisnya adalah para pendahulu dan nilai-nilai budaya. tapi tetep, yang melakukan bukan para pendahulu apalagi nilai-nilai budaya.</p>
<p>pada akhirnya, untuk setiap peristiwa berdarah2 yang mengatasnamakan perbedaan, gw tetep setuju dengan Robin Williams: &#8220;Apes with gun kill people&#8221; =))</p>
<p>beda tetap beda. tapi apakah kita bisa meletakkan kaki kita di dalam sepatu orang lain?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nia Janiar</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/budaya-indonesia-yang-terlalu-berbeda/comment-page-1#comment-150</link>
		<dc:creator>Nia Janiar</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 07:04:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=12#comment-150</guid>
		<description>Kalau gue percaya bahwa itu diawali dari sebuah prasangka yang diturunkan turun temurun oleh orang tua. Masalahnya, kita yang sudah pra-knowledge seperti itu lalu ternyata di lapangannya menemukan sebuah perbuatan yang sesuai dengan apa yang kita prasangkai sebelumnya. Terjadi penguatan, istilahnya. Jadi mau nilai-nilai berevolusi kek, kagak ada ngaruhnya jika apa yang menjadi keyakinan itu terus dikuatkan.

Zona nyaman? Bisa jadi, Ven. Misalnya kayak kasus Sampit dimana orang Madura lebih maju ketimbang penduduk asalnya sendiri - Dayak. Merasa diri mereka tidak maju di tanah sendiri, malah orang lain yang sukses tentu akan menganggu zona nyaman, Ven.

Atau pembantaian ras karena dianggap ras tersebut punya potensi untuk maju. Susah sepertinya mengakui kebesaran orang lain. He..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau gue percaya bahwa itu diawali dari sebuah prasangka yang diturunkan turun temurun oleh orang tua. Masalahnya, kita yang sudah pra-knowledge seperti itu lalu ternyata di lapangannya menemukan sebuah perbuatan yang sesuai dengan apa yang kita prasangkai sebelumnya. Terjadi penguatan, istilahnya. Jadi mau nilai-nilai berevolusi kek, kagak ada ngaruhnya jika apa yang menjadi keyakinan itu terus dikuatkan.</p>
<p>Zona nyaman? Bisa jadi, Ven. Misalnya kayak kasus Sampit dimana orang Madura lebih maju ketimbang penduduk asalnya sendiri - Dayak. Merasa diri mereka tidak maju di tanah sendiri, malah orang lain yang sukses tentu akan menganggu zona nyaman, Ven.</p>
<p>Atau pembantaian ras karena dianggap ras tersebut punya potensi untuk maju. Susah sepertinya mengakui kebesaran orang lain. He..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: vendy</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/budaya-indonesia-yang-terlalu-berbeda/comment-page-1#comment-147</link>
		<dc:creator>vendy</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 06:49:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=12#comment-147</guid>
		<description>hmmm...
terlepas dari semboyan negara sendiri, akhir2 ini gw jg membaca masalah serupa di Singapore n Malaysia. "critical issue" they say.

back again ketika Hitler sedang gila2nya dengan PD n PD2, dimana (katanya) dia begitu mengagungkan rasnya, sempat terpikir "ini orang udah dicuci kali otaknya ya? kebanyakan deterjen masa lalu.." bukan berarti gw pengen nendang nilai2 lama, tapi kita kan berevolusi. nilai2nya masa ga ikut berevolusi? mungkin karena beberapa di antara kita memang susah untuk keluar dari zona aman?

apa sih yang ga berubah?

*cheers =D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>hmmm&#8230;<br />
terlepas dari semboyan negara sendiri, akhir2 ini gw jg membaca masalah serupa di Singapore n Malaysia. &#8220;critical issue&#8221; they say.</p>
<p>back again ketika Hitler sedang gila2nya dengan PD n PD2, dimana (katanya) dia begitu mengagungkan rasnya, sempat terpikir &#8220;ini orang udah dicuci kali otaknya ya? kebanyakan deterjen masa lalu..&#8221; bukan berarti gw pengen nendang nilai2 lama, tapi kita kan berevolusi. nilai2nya masa ga ikut berevolusi? mungkin karena beberapa di antara kita memang susah untuk keluar dari zona aman?</p>
<p>apa sih yang ga berubah?</p>
<p>*cheers =D</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nia Janiar</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/budaya-indonesia-yang-terlalu-berbeda/comment-page-1#comment-146</link>
		<dc:creator>Nia Janiar</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 06:31:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=12#comment-146</guid>
		<description>Hai, Diky. Thanks untuk tanggapannya. Menghargai warna orang lain dan menyadari kalau kita semua satu kebangsaan membuat saya teringat betapa bermasalahnya anak didik saya akan diversity.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hai, Diky. Thanks untuk tanggapannya. Menghargai warna orang lain dan menyadari kalau kita semua satu kebangsaan membuat saya teringat betapa bermasalahnya anak didik saya akan diversity.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

