Home » Essay, Psikologi sosial

Budaya Indonesia yang Terlalu Berbeda

24 May 2009 2,192 views 10 Comments
Kemarin ini, saya menghadiri pernikahan seorang teman yang menyatukan dua kebudayaan yang berbeda: Jawa dan Sunda. Dalam sebuah pernikahan adat Jawa yang dihadiri oleh keluarga Sunda, terdapat beberapa perbedaan seperti cara berperilaku, cara bertutur kata, cara berpikir, cara menghadapi masalah, dan lainnya. Yang Sunda merasa tersinggung dengan sikap Jawa yang tidak berbasa basi, yang Jawa merasa aneh dengan Sunda yang terlalu banyak berbasa basi. Yang Jawa duduk tegap dan berbicara dengan bahasa yang dijaga, yang Sunda duduk santai sambil melontarkan gurauan ke orang tua. Yang Jawa memakai baju muslim, yang Sunda memakai kebaya dan celana jeans. Yang Jawa mengutamakan bibit, bebet, dan bobot, yang Sunda mengutamakan latar belakang materi seseorang. Kata orang Jawa, yang penting cinta dan kasih dari pasangan. Kata orang Sunda, materi itu penting karena perempuan butuh jaminan hidup dan tidak bisa naif hanya bermodalkan cinta.

Kemudian mereka saling mengumpat, “Dasar Jawa!” dan “Dasar Sunda!”
Hanya dua kebudayaan yang menghuni pulau yang sama saja, sudah ada pertengkaran kecil yang membawa nama budaya. Lalu apa kabar Indonesia yang konon katanya punya banyak kebudayaan? Saya teringat dengan beberapa isu etnis yang menjadi topik utama di media, salah satunya Sampit.

Etnik-etnik yang terpisah secara geografis dan sosial-budaya yang berbeda, mempunyai cara dalam mengembangkan pengalaman psikologis masing-masing, yang pada akhirnya menghasilkan identitas etnik masing-masing. Seperti yang sudah saya kemukakan di atas, pulau Jawa yang terdiri dari Jawa (Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Solo, dan lainnya) dan Sunda (Priangan, Banten, Cirebon, dan lainnya) serta kelompok kecil seperti Madura dan Betawi saja sudah menimbulkan percekcokan.

Selalu ada prasangka yang diyakini benar dalam menilai orang lain. Ini disebut dengan stereotype. Dimulai dari gambaran seseorang tentang orang lain (personifikasi). Personifikasi adalah perasaan, sikap, dan konsepsi kompleks yang timbul karena mengalami kepuasan kebutuhan atau kecemasan. Personifikasi-personifikasi yang dimiliki sejumlah orang disebut stereotype. Ini adalah konsepsi yang diakui bersama, yaitu ide-ide yang diterima secara luas di antara anggota masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Mengubah stereotype tidaklah semudah membalikkan telapak tangan karena ini sifatnya turun temurun dan mengakar di pikiran individu. Dan individu sadar akan hal itu, namun ia menyakini apa yang dipikirkannya itu benar. Apalagi jika orang lain berperilaku seperti stereotype yang ia akui, maka ia merasa dikuatkan. Hanya karena perilaku satu orang, ia menyamaratakan kepada golongannya.

Ambil contoh kasus besar yang sudah ada pertumpahan darah seperti kasus Sampit antara Madura dengan Dayak.

Proses saling sangka ini menghambat akulturasi bangsa, yang konon disebut Bhinneka Tunggal Ika (bagi saya, ini konon, karena sekarang sepertinya sudah diragukan keberadaannya). Pemerintahan Indonesia ketika orde baru meneriakkan semangat sama-rata-sama-rasa demi persatuan dan kesatuan. Bahkan slogan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Namun pasca reformasi, rupanya slogan Bhinneka Tunggal Ika hanya isapan jempol belaka karena untuk sebuah kebijakan penyeragaman oleh negara, sebuah sistem kehidupan masyarakat sengaja dipaksa dan diatur. Bahkan untuk penyeragaman, harus ada penduduk yang menjadi korban, dibantai dan kepalanya diarak keliling kota Sampit. Apalagi terkait kasus dengan Madura-Dayak, beberapa sumber mencetuskan bahwa awal mula konflik ini karena transmigrasi yang waktu itu dicanangkan oleh pemerintah agar adanya penyamarataan pembangunan di semua pulau.
Sebenarnya konflik etnis sudah ada dari era pemerintahan sebelumnya namun di era reformasi kecenderungan konfliknya lebih meningkat. Setiap konflik etnik pada masa Orde Baru relatif dapat diredam. Keberhasilan menumpas setiap konflik SARA di masa Orde Baru merupakan bagian integral dari upaya mewujudkan “keamanan dan ketertiban umum” bagi seluruh lapisan masyarakat di seluruh bagian Nusantara. Ini adalah strategi utama yang diterapkan bagi rezim otoriter. Pada era reformasi, konflik bernuansa etnis/kedaerahan dan agama meningkat. Hal ini lebih disebabkan akumulasi ketidak-adilan dalam proses politik dan distribusi kekuasaan serta ketidakadilan dalam menikmati hasil pembangunan.

Dalam kasus Madura-Dayak, rupanya penduduk Madura lebih unggul satu langkah daripada orang Dayak di sektor informal sehingga menggusur penduduk asli keluar dari pekerjaannya. Sebenarnya mereka tidak unggul - seperti kriteria Nietzsche bahwa seseorang yang unggul harus memiliki kecerdasan, kekuatan, dan kebanggaan - karena dalam kecerdasan, mereka sama-sama rendah. Rupanya orang Madura yang dahulu menjadi pekerja kasar dan menderita, kini bisa lebih sukses. Ini hampir serupa dengan filsuf yang dikagumi Nietzsche – Schopenhauer – yang mempunyai pandangan ‘Orang bijak menarik hikmah dari kepedihan, bukan dari kesenangan.’ Jika Indonesia melihat ini sebagai permasalahan, tetapi tidak bagi Nietzsche karena menurutnya memang seperti itulah kehidupan yang tidak menentang kodrat alam. Di dalam hidup ini yang kuatlah yang akan menang, kebajikan utama dalam kehidupan adalah kekuatan. Permasalahan Madura-Dayak bukanlah harus diselesaikan dengan jalan perundingan, pemungutan suara, tetapi melalui darah dan baja.

Bahkan, mungkin sebelum konflik terjadi, Nietzsche sudah tidak setuju dengan slogan Bhinneka Tunggal Ika karena menurutnya slogan ini hanya untuk orang-orang yang ingin bersaing, meskipun meminta perlindungan diatas haknya. Dan slogan ini tidak akan menghasilkan pemimpin yang agung. Selain itu, kritiknya mengenai kesetaraan adalah konsep ciptaan manusia yang palsu dan ujung-ujungnya merusak itu benar karena pasca reformasi banyak bermunculan konflik etnis seperti Ambon dan Poso.

Dayak sebagai penduduk lokal yang menghargai hukum adatnya. Hukum adat memegang peranan penting bagi orang Dayak. Tanah yang mereka miliki adalah warisan leluhur yang harus mereka pertahankan. Mengikuti teori Nietzsche, jika orang Dayak sungguh-sungguh hendak menjadi pencipta, haruslah lebih dahulu menunjukkan keberaniannya untuk memusnahkan nilai-nilai lama. Seseorang harus terlebih dahulu menihilkan segala nilai lama dan mempersetankan segala nilai yang sudah mantap karena nilai-nilai lama hanya akan menghalangi untuk mencipta.

Tapi, itu menurut pandangan Nietzsche. Jangan salah mengartikan untuk menghalalkan yang namanya peperangan. Entah setuju atau tidak, ini bisa dijadikan pengetahuan.
Semoga Bhinneka Tunggal Ika masih tetap ada.

10 Comments »

  • vivi said:

    perbedaan itu udah fitrahnya manusia..it’s given!
    menurut sy, harusnya yang ditekankan itu bukan kenapa bisa beda?kenapa berantem gara2 beda? tapi lebih pada kemauan buat melihat sesuatu itu dari sudut pandang yang ‘lebih’… lebih terbuka, lebih berimbang, lebih toleransi dan lebih menghargai…
    ketika sesuatu itu baik adanya, berbeda gak bakal ada masalah, baik buat masing-masing pihak..untukku budaya ku, untukmu budayamu..

  • Nia Janiar (author) said:

    Dan seharusnya perbedaan itu menjadi saling melengkapi, bukan meniadakan :)

  • onohaw said:

    jangan pandang perbedaan suatu bencana, justru dari perbedaan kita bisa pintar dr perbedaan kita bisa berilmu dari perbedaan kita lahir. sebab cinta ada juga dari perbedaan bukan dari persamaan.bayangkan apabila semua manusia memiliki keinginan yang sama dunia ini akan membosankan. yang perlu dipertanyakan apakah kita dapat menghargai sesama?

  • Nia Janiar (author) said:

    Yap, betul. Menghargai memang proses yang sulit namun bukan proses yang tidak mungkin. Kadang kalau ada pendapat yang berbeda, kita belum bisa menerimanya.

  • Diky said:

    menurut saya bhineka tunggal ika bukan berarti menyamaratakan segala sesuatunya hal tersebut lah yang justru menghancurkan bhineka tunggal ika itu sendiri, karena kebudayaan sudah menjadi warna tersendiri bagi bangsa kita. yang terpenting adalah menghargai warna orang lain dan menyadari bahwa kita semua satu kebangsaan.

  • Nia Janiar (author) said:

    Hai, Diky. Thanks untuk tanggapannya. Menghargai warna orang lain dan menyadari kalau kita semua satu kebangsaan membuat saya teringat betapa bermasalahnya anak didik saya akan diversity.

  • vendy said:

    hmmm…
    terlepas dari semboyan negara sendiri, akhir2 ini gw jg membaca masalah serupa di Singapore n Malaysia. “critical issue” they say.

    back again ketika Hitler sedang gila2nya dengan PD n PD2, dimana (katanya) dia begitu mengagungkan rasnya, sempat terpikir “ini orang udah dicuci kali otaknya ya? kebanyakan deterjen masa lalu..” bukan berarti gw pengen nendang nilai2 lama, tapi kita kan berevolusi. nilai2nya masa ga ikut berevolusi? mungkin karena beberapa di antara kita memang susah untuk keluar dari zona aman?

    apa sih yang ga berubah?

    *cheers =D

  • Nia Janiar (author) said:

    Kalau gue percaya bahwa itu diawali dari sebuah prasangka yang diturunkan turun temurun oleh orang tua. Masalahnya, kita yang sudah pra-knowledge seperti itu lalu ternyata di lapangannya menemukan sebuah perbuatan yang sesuai dengan apa yang kita prasangkai sebelumnya. Terjadi penguatan, istilahnya. Jadi mau nilai-nilai berevolusi kek, kagak ada ngaruhnya jika apa yang menjadi keyakinan itu terus dikuatkan.

    Zona nyaman? Bisa jadi, Ven. Misalnya kayak kasus Sampit dimana orang Madura lebih maju ketimbang penduduk asalnya sendiri - Dayak. Merasa diri mereka tidak maju di tanah sendiri, malah orang lain yang sukses tentu akan menganggu zona nyaman, Ven.

    Atau pembantaian ras karena dianggap ras tersebut punya potensi untuk maju. Susah sepertinya mengakui kebesaran orang lain. He..

  • vendy said:

    atau law of nature masih exist dalam bentuk lain? entah itu dalam bentuk penjajahan, pembantaian, penguasaan di sektor ekonomi, mengaduk2 tatanan keamanan negeri lain, dst..

    tapi apa tujuannya? rasa takut? rasa bangga? ingin membuktikan keunggulan? atau keinginan untuk menguasai? kita bisa bilang katalisnya adalah para pendahulu dan nilai-nilai budaya. tapi tetep, yang melakukan bukan para pendahulu apalagi nilai-nilai budaya.

    pada akhirnya, untuk setiap peristiwa berdarah2 yang mengatasnamakan perbedaan, gw tetep setuju dengan Robin Williams: “Apes with gun kill people” =))

    beda tetap beda. tapi apakah kita bisa meletakkan kaki kita di dalam sepatu orang lain?

  • Nia Janiar (author) said:

    Perlu diingat bahwa insting manusia itu terdiri dan seks dan agresi - maka penjajahan atau perang merupakan salah satu bentuk agresinya.

    Ada beberapa teoritikus yang percaya - salah satunya Adler - bahwa manusia memiliki motif untuk menguasai lingkungan (will to power). Kalau diambil dari teori Adler, konflik yang muncul ketika manusia tidak bisa memenuhi tujuannya (power) adalah agresinya yang diekpresikan melaluipenjajahan dan peperangan.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word