<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Identitas Sosial: Bhinneka Tunggal Ika</title>
	<atom:link href="http://ruangpsikologi.com/bhinnekatunggalika/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ruangpsikologi.com/bhinnekatunggalika</link>
	<description>Webzine Psikologi Modern</description>
	<pubDate>Fri, 18 May 2012 02:50:13 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Menyelami Rasa Cinta Tanah Air : Aku Cinta Indonesia? &#124; ruangpsikologi.com</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/bhinnekatunggalika/comment-page-1#comment-141</link>
		<dc:creator>Menyelami Rasa Cinta Tanah Air : Aku Cinta Indonesia? &#124; ruangpsikologi.com</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 15:02:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=448#comment-141</guid>
		<description>[...] Di skala nasional, rasa cinta yang bernapaskan etnosentrisme dapat berfungsi sebagai media promosi kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa. Schaefer (2006) menilai perilaku merendahkan bangsa dan negara atau budaya lain dapat menumbuhkan semangat patriotik bagi suatu bangsa. Bangsa Indonesia cukup akrab dengan bentuk cinta tanah air yang bernapaskan etnosentrisme ini. Bahkan, ketika menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, Soekarno sempat memanfaatkan napas etnosentrisme ini untuk menumbuhkan semangat persatuan dengan menyebarluaskan jargon “Ganyang Malaysia”, “Amerika kita Seterika”, “Jepang kita Panggang”, dan “Inggris kita Linggis” (baca tulisan ini). [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Di skala nasional, rasa cinta yang bernapaskan etnosentrisme dapat berfungsi sebagai media promosi kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa. Schaefer (2006) menilai perilaku merendahkan bangsa dan negara atau budaya lain dapat menumbuhkan semangat patriotik bagi suatu bangsa. Bangsa Indonesia cukup akrab dengan bentuk cinta tanah air yang bernapaskan etnosentrisme ini. Bahkan, ketika menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, Soekarno sempat memanfaatkan napas etnosentrisme ini untuk menumbuhkan semangat persatuan dengan menyebarluaskan jargon “Ganyang Malaysia”, “Amerika kita Seterika”, “Jepang kita Panggang”, dan “Inggris kita Linggis” (baca tulisan ini). [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

