Home » Essay, Featured, Headline, Psikologi pendidikan, Psikologi perkembangan

Ayo Makan, Dek!

5 May 2010 1,467 views No Comment

childeatinghabit

Anak-anak seusia Dino, mulai dari usia 2 hingga 4 tahun, memang dikenal sebagai picky eaters atau si pemilih makanan. Ini adalah masalah makan yang lazim ditemukan pada anak. Umumnya, mereka lebih memilih makan makanan yang manis seperti kue, es krim, coklat, permen, dan yang paling banyak mengkhawatirkan orang tua : anak-anak suka sekali makan mie goreng. Sementara itu, orang tua lebih menginginkan anaknya makan makanan yang dikenal menyehatkan seperti sayur hijau, ati ayam, dan nasi. Para ahli gizi pun menganjurkan pemberian menu makan yang bergizi seimbang untuk menunjang tumbuh kembang anak. Gizi seimbang sulit sekali ditemukan dalam jenis makanan yang biasanya disukai anak. Upaya membuat anak mau mengkomsumsi makanan sehat inilah yang biasanya menjadi perjuangan tersendiri saat jam makan anak.

Menurut para ahli perkembangan anak, masalah makan seperti memilih atau bahkan menolak makan pada anak balita terkait dengan perkembangan ketrampilan makannnya. Pada usia 2 hingga 4 tahun, anak sedang berada dalam masa peralihan. Contohnya saja, mereka sedang dibiasakan untuk makan makanan dalam bentuk padat yang membutuhkan proses menguyah dulu sebelum dapat ditelan. Padahal dulu mereka terbiasa dengan makanan cair yang mudah ditelan. Selain itu, anak juga sedang berkembang menjadi pribadi yang lebih sosial. Maka, biasanya anak lebih tertarik pada aspek sosial makan. Misalnya, berbincang dengan teman saat makan bersama atau memainkan makanannya.

Tapi, masalah makan pada anak ini bukannya tidak dapat diatasi kok. Ada dua prinsip utama yang berlaku dalam mengelola masalah makan pada anak balita.

Pertama, berikan makanan sesuai kebutuhan anak.</b>

Susunlah menu yang memenuhi kebutuhan gizi anak dan berikan dalam porsi dan frekuensi yang sesuai dengan anak. Hindari memberikan porsi yang berlebihan bagi anak. Selain menurunkan motivasi anak untuk makan, nilai gizi yang diberikan tidak lagi seimbang. Jenis zat gizi yang dibutuhkan anak balita serupa dengan kebutuhan orang dewasa, hanya saja porsinya lebih kecil. Misalnya, anak balita cukup mengkonsumsi 1 porsi karbohidrat (senilai setengah mangkok nasi/pasta/sereal), 2 porsi protein (senilai 1 butir telur ayam untuk protein hewani dan setengah mangkok sayur untuk protein nabati) dilengkapi dengan segelas susu dan atau buah dalam sekali makan. Biasakan memberi makan anak 3 kali sehari diselingi 2 kali kudapan (pagi dan sore, selisih 1-2 jam dari makan besar).

O iya, sekedar tips, dalam menyusun menu makan, cobalah untuk lebih variatif untuk membiasakan anak beradaptasi dengan berbagai macam jenis makanan. Silahkan intip beberapa resep di sini http://www.infoanak.com/tag/resep-masakan/

Prinsip kedua : berikan motivasi untuk makan pada anak dengan menciptakan suasana makan yang menyenangkan.

Hindari memaksa anak untuk makan. Hal ini hanya akan membuat anak semakin malas makan, bahkan mungkin ia malah akan menghindari waktu makan. Anda bisa membuat tampilan makanan menarik bagi anak. Hal ini dapat dilakukan dengan memvariasikan warna atau bentuk makanan.

Pengasuh : Loh, Anna tidak mau makan?

Anna : (menggeleng)

Pengasuh : Wah, sayang sekali….. Padahal itu kacangnya enak deh, keliatannya. Coba, lucu lagi… Bentuknya kayak badut (sambil menyusun kacang membentuk wajah orang)

Pengasuh : Liat ini ada matanya, ada hidungnya, ada.. ada mulutnya juga. Hihi. Lagi senyum.

Anna : (mengambil kacang di daerah mata) Matanya ilang.

Pengasuh : Waah.. Matanya hilang. Ada di mana itu ya?

Anna : Di perut Anna. Hehehe. (mengambil lagi kacang di daerah lain lalu dimakan)

Dalam menciptakan suasana yang menyenangkan, dapat diciptakan aktivitas yang menarik bagi anak saat makan. Beberapa pengasuh di tempat penulis pernah bekerja dulu biasanya bermain sulap, di mana anak menyulap makanan hingga hilang dalam mulutnya. Kegiatan ini cukup digemari anak dan dapat memotivasi anak untuk menghabiskan makanannya. Kita juga dapat mengajak anak untuk berimajinasi tentang sebuah cerita saat makan untuk membantu anak berkemauan untuk makan. Trik ini pernah saya coba pada Doni.

Pengasuh : Doni, kok makanannya dimainin? Sayang dong. Doni gak mau makan?

Doni : (menggeleng)

Pengasuh : Waaah, kok gak mau makan. Padahal… loh, loh (memegang perut Doni).. Ini … Perutnya Doni katanya minta telur loh….

Pengasuh : Coba.. Coba…. ‘Doni, aku mau telur’ katanya. Ayo, Don, kasih!

Doni : Minta telur ya? (melahap telur)

Pengasuh : Wah, wah….. Ini ada bunyi telur di perut Doni. Titutitutitutitu… Waaah…

Doni : (tertawa)

Pengasuh : Coba kalo nasi bunyinya gimana, Don? Coba, Don?

Doni : (makan nasi)

Hal ini berlanjut hingga Doni mau selesai makan. Selain membantu anak termotivasi untuk menghabiskan makanannya, kita dapat mengajak anak untuk mengembangkan imajinasinya. Apabila kita tau triknya, kegiatan makan pun dapat jadi kegiatan belajar. Kita dapat menginformasikan pada anak kandungan gizi pada makanan yang sedang dimakannya, mengenalkan konsep warna dan bentuk, hingga berhitung. Coba simak yang satu ini.

Pengasuh : Lihat ini, kentangnya ada banyak.

Ita : Kentangnya?

Pengasuh : Iya, lihat. Ada satu, dua, tiga, empat!

Ita : Empat yah.

Pengasuh : Iya. Coba ya… Bisa berkurang gak ya?

Ita : (makan satu kentang) Coba hitung ada berapa.

Pengasuh : Wah, tadi ada empat, dimakan satu, jadi tinggal… satu… dua…

Ita : Tiga..

Jangan lupa memberikan penghargaan atas prestasi makan anak. Misalnya, pujilah anak dengan tepuk tangan saat ia bersedia mencoba sayur brokoli untuk pertama kalinya atau saat ia mau menghabiskan porsi makannya. Namun, hindari memberikan iming-iming hadiah pada anak. Apabila anak-anak terbiasa diiming-imingi soal makan, maka akan terbentuk motivasi yang keliru tentang makan. Berhati-hatilah dalam menggunakan kalimat bujukan seperti, “Nanti kalau makannya habis Ibu kasih hadiah deh.” Anak bisa jadi belajar bahwa ia harus makan untuk mendapat hadiah ketimbang memahami pentingnya makan bagi dirinya sendiri. Untuk memuji prestasi makan anak, cobalah yang satu ini.

Pengasuh : Wah, hebat. Amir makannya banyak. Dapat tepuk tangan besar.

Pengasuh : Coba, coba, Ibu lihat… Makannya banyak pasti jadi lebih kuat. Coba dorong [menawarkan tangan untuk didorong]

Amir : (mendorong)

Pengasuh : Wah hebat. Ibu sampai kalah. Pasti ini makannya pinter nih, banyak nih, makanya kuat! Hebat.

Pada dasarnya, dibutuhkan kesabaran dalam menghadapi anak yang sedang berada dalam fase sulit makan. Didukung dengan kegigihan dan ketelatenan, niscaya pelaksanaan prinsip dan tips-tips di atas dapat membantu Anda mengelola masalah makan anak dengan baik. Selamat mencoba! :)

* Potongan-potongan adegan yang terncantum di atas diambil dari pengalaman penulis selama bekerja di salah satu taman pengembangan anak.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word