Home » Essay, Featured, Headline, Psikologi Industri & Behavioral Economy

Awas Terlilit “Setan” Kredit!

29 July 2009 2,440 views 10 Comments

debtstress

Oleh: Ricci Saadi Wijaya S.Psi

Perilaku berhutang tampaknya sudah sangat melekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Tanpa disadari, kita seringkali berhutang baik karena memang tidak punya uang atau “malas” untuk membayar. Selain itu, banyak juga yang tidak menyadari bahwa ketika menggunakan kartu kredit sebenarnya kita sedang berhutang dengan bunga tinggi.

Pada zaman modern yang serba cepat dan serba praktis seperti sekarang ini, berhutang tidak lagi dianggap sebagai suatu hal yang tabu. Beberapa peneliti seperti Lea, Webley & Walker (1995) serta Chien & Devaney (2001) menyatakan bahwa pertumbuhan yang pesat dalam penggunaan kredit selama dua puluh tahun terakhir terjadi karena sikap masyarakat terhadap kredit sudah mulai bergeser. Para peneliti itu menemukan bahwa masyarakat yang dahulu menjauhi kredit, sekarang sudah mulai menerima kredit sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat konsumen modern. Bahkan, kredit sekarang juga sudah dianggap sebagai salah satu alternatif pendapatan (Bird, Hagstrom, & Wild, 1997; Norton, 1993; dalam Chien & Devaney, 2001). Hal ini bisa dilihat dari banyaknya masyarakat yang menggunakan kartu kredit untuk menutupi kekurangan penghasilannya tiap bulan. Sebagai contoh, seorang kepala keluarga dengan gaji pokok Rp 2.000.000,00 tiap bulan ternyata dapat mencukupi kebutuhan keluarganya sebesar Rp 2.500.000,00 dengan “pendapatan” tambahan dari kartu kreditnya sebesar Rp 500.000,00.

Lea, Webley, dan Levine (1995) menemukan bahwa orang berhutang untuk memelihara dan meningkatkan gaya hidupnya. Budaya berhutang ini tampaknya juga terjadi di Indonesia. Di Indonesia sendiri, pada tahun 2008 saja, kredit konsumsi yang telah disalurkan oleh bank-bank umum mencapai Rp 1.297 trilyun (http://www.bi.go.id). Fakta lainnya, kredit macet sebesar 3,9% pada bank umum dan 2,2% pada perusahaan multifinance menunjukkan bahwa ada beberapa masyarakat di Indonesia yang berhutang melebihi kemampuannya membayar atau biasa dikenal dengan istilah “besar pasak daripada tiang”.

Menurut Williams (2004), perilaku berhutang yang “besar pasak daripada tiang” tersebut dapat mengakibatkan berbagai macam dampak negatif bagi individu yang berhutang baik secara ekonomi (kemiskinan), sosial (dikucilkan masyarakat), maupun psikologis (stress kronis). Oleh karena itu, untuk memahami dan mengendalikan perilaku berhutang masyarakat, tidak cukup hanya dilihat dari faktor ekonomi saja tetapi juga harus dilihat dari faktor psikologis para debitur. Salah satu faktor psikologis yang perlu untuk diteliti adalah sikap terhadap kredit. Hal ini penting untuk diteliti karena sikap ternyata dapat menjadi prediktor yang baik dari suatu perilaku asalkan pengukuran sikap dilakukan dengan metode yang tepat.

Menurut Allport (1954), sikap adalah kecenderungan yang dipelajari untuk berpikir, merasa, dan berperilaku terhadap suatu objek dengan cara tertentu. Berdasarkan definisi dari Allport tersebut, dapat disimpulkan bahwa sikap mempunyai tiga komponen yang saling mempengaruhi, yaitu komponen affective (emosi dan perasaan individu), komponen behavior (intensi dan kecenderungan berperilaku individu), dan komponen cognitive (pengetahuan dan persepsi individu)

Di Indonesia, penelitian mengenai sikap dan perilaku berhutang masih sangat jarang dilakukan. Penelitian yang dilakukan oleh Prasadjaningsih (1999) menemukan bahwa sikap terhadap kredit secara signifikan dapat memprediksi pilihan perilaku berhutang. Orang yang memiliki sikap positif terhadap kredit akan cenderung berhutang sedangkan orang yang memiliki sikap negatif terhadap kredit cenderung tidak akan berhutang. Untuk memperdalam hasil temuan Prasadjaningsih, penulis melakukan penelitian lebih lanjut untuk melihat apakah sikap terhadap kredit berhubungan dengan tinggi rendahnya tingkat hutang.

Hasil utama penelitian yang dilakukan oleh penulis menunjukkan bahwa semakin positif sikap seseorang terhadap kredit maka tingkat hutangnya pun akan semakin tinggi. Begitu pula sebaliknya, semakin tinggi tingkat hutang seseorang maka semakin positif sikap terhadap kreditnya. Hal ini menunjukkan bahwa sikap terhadap kredit dan perilaku berhutang mempunyai hubungan yang sifatnya dua arah. Oleh karena itu, jika seseorang menganggap berhutang sebagai sesuatu yang positif maka orang tersebut cenderung akan lebih banyak berhutang. Sebaliknya, semakin banyak hutang yang dimiliki seseorang maka sikap terhadap kreditnya akan berubah menjadi lebih positif seiring dengan meningkatnya tingkat hutang yang dimilikinya.

Ada beberapa kesimpulan menarik lainnya yang di temukan penulis, antara lain:
1. Dalam memutuskan untuk berhutang atau tidak, kebanyakan masyarakat Indonesia tidak lagi menggunakan pengetahuan dan persepsi mereka mengenai kredit (komponen cognitive) sebagai dasar pertimbangan mereka berhutang. Mereka mungkin saja akan tetap berhutang walaupun sebenarnya mereka sudah mengetahui bahwa berhutang itu tidak bijaksana atau membuat mereka harus membayar lebih banyak.

2. Intensi dan kecenderungan seseorang untuk berhutang (komponen behavioral) belum tentu dapat memprediksi perilaku berhutang seseorang. Mereka mungkin saja akan tetap berhutang walaupun mereka pada awalnya tidak mempunyai intensi dan kecenderungan untuk berhutang sama sekali. Hal ini dapat disebabkan oleh kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi atau perilaku konsumtif masyarakat Indonesia yang membuat mereka mudah tergoda untuk berhutang.

3. Masyarakat Indonesia pada umumnya merupakan masyarakat yang lebih menuruti emosi dan perasaannya daripada menggunakan logika ketika berhutang. Oleh karena itu, mereka cenderung akan mulai mengubah atau menghentikan perilaku berhutangnya ketika mereka mulai merasakan emosi dan perasaan negatif akibat jumlah hutang mereka yang terlalu banyak. Perasaan dan emosi negatif yang mungkin mereka rasakan, antara lain: sedih, malu, takut, khawatir, perasaan bersalah, dan stress. Sebaliknya, jika mereka merasa senang ketika berhutang maka mereka cenderung akan lebih banyak berhutang sampai suatu titik dimana hutang mereka sudah mulai terlalu banyak dan perasaan serta emosi mereka menjadi negatif.

Tips-tips Menghindari Hutang
Setelah Anda membaca uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa sikap terhadap kredit yang Anda miliki berperan penting dalam pembentukan perilaku berhutang Anda. Oleh karena itu, mulai sekarang cobalah mengubah sikap Anda terhadap kredit agar Anda tidak terjebak dalam lingkaran hutang. Berikut ini ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan:
1. Buang jauh-jauh kartu kredit Anda atau gunakan seperlunya saja. Jangan menganggap kartu kredit sebagai alat pembayaran yang cepat dan praktis karena tanpa disadari sebenarnya Anda sedang berhutang dengan bunga tinggi ketika menggunakan kartu kredit.
2. Biasakan diri Anda untuk membayar dengan uang tunai. Hindarilah berhutang karena ketika Anda sudah terbiasa berhutang maka akan sangat sulit untuk mengubah kebiasaan tersebut. Selain itu, semakin sering Anda berhutang maka secara tidak disadari dapat membuat sikap Anda terhadap kredit menjadi semakin positif.

3. Pengaruh orangtua terhadap sikap dan perilaku anak-anak sangatlah besar (Oskamp & Schultz, 2005). Orangtua yang mendukung hutang dan sering berhutang menyebabkan anak-anaknya juga cenderung bersikap mendukung hutang dan lebih banyak berhutang (Lea et al., 1995). Oleh karena itu, biasakanlah menabung dan ajari juga anak Anda untuk menabung sedini mungkin agar terbentuk sikap terhadap menabung yang positif.

Sumber:
Berthoud R. & Kempson, E. (1992). Credit & Debt: The PSI Report. London: BPCC Wheatons.
Brotoharsojo, H., dkk. (2005). Psikologi Ekonomi dan Konsumen. Depok: Bagian Psikologi Industri dan Organisasi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Erwin, P. (2001). Pyschology Focus: Attitudes and Persuasion. Hove: Psychology Press Ltd.
Oskamp, S. & Schultz, P. W. (2005). Attitudes and Opinions (3rd ed.). New Jersey: Lawrence Earlbaum Associates, Inc.

Sumber gambar: http://img190.imageshack.us/img190/2859/debtstress.jpg

Info penulis:

Ricci Saadi Wijaya S.Psi baru saja menyelesaikan study S1 di fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Sumber utama dari artikel ini adalah skripsi buatannya, yang ia kerjakan di bawah bimbingan Dra. Bertina Sjabadhyni, M.Si, yang sudah berhasil dipertahankan di hadapan penguji. Di masa kuliahnya, Ricci aktif dalam kegiatan kemahasiswaan dengan prestasi terbaik mengumpulkan 21 juta dalam 6 bulan saat ia mengepalai Biro Dana Usaha BEM Fakultas Psikologi UI.

10 Comments »

  • amarilldo said:

    Yeah! Hidup Debet! :D

  • ramadion (author) said:

    Wah, boro-boro kartu kredit. Uang buat beli bensin aja susah :(

    tapi lucu, ya, beberapa tahun lalu bank-bank malah meng-encourage orang-orang untuk bawa kartu kredit (dan atm) biar ga terlalu beresiko dicopet.

    jadi, sekarang… no cash (biar ga dicopet), no credit card (biar ga boros), just debit?

  • Anna said:

    Bener nih kartu kredit bisa bikin ketergantungan. Awal2nya cuma dikit2 pakainya tapi makin lama bisa kebablasan. Apalagi, banyak penawaran diskon dari kartu kredit yang bikin pengen pakai kartu kredit terus. Gw jadi inget film confession of the shopaholic :p

  • wynne said:

    bgs cay…like this

  • Al Fakir said:

    mulanya di tawarkan kartu kredit yang bebas biaya registrasi. lalu mulai tergoda menggunakannya karena meremehkan bunga pinjaman yang sedikit. lalu membayar dengan minimum payment, bunga lama-lama membengkak. akhirnya semakin besar dan tak terbayar lunas….

  • ramadion (author) said:

    @ al fakir: wah, sayang sekali artikel ini keluar setelah anda mengalami bencana itu. ya sudah, mulailah hidup hemat, dan cicil hutang sedikit demi sedikit. seperti confession of a shopaholic, lah :D

  • Perilaku Agresif: Bawaan Gen atau Dipelajari dari Lingkungan? | ruangpsikologi.com said:

    [...] Ricci Saadi Wijaya S.Psi adalah lulusan Fakultas Psikologi UI. Saat ini sudah bekerja, tetapi masih menyempatkan diri untuk berbagi ilmu pengetahuan mengenai aplikasi psikologi dalam kehidupan sehari-hari. Artikel ini adalah tulisan keduanya untuk http://www.ruangpsikologi.com. Tulisan pertamanya berjudul Awas Terlilit ‘Setan’ Kredit. [...]

  • g.pribadi said:

    Huwaa…telat ni komennya, tapi pas baca pas inget artikel di RD edisi Oktober 09:

    Menurut Prof. Hanneman Samuel (Sosiolog UI), yang disetujui sama Bank Indonesia,nilai transaksi kartu kredit diperkirakan akan mencapai Rp 139,9 triliun sampe akhir 2009 dengan volume transaksi 201, 3 juta. Ini meningkat dari tahun sebelumnya yang cuma (CUMA??) Rp 102,27 triliun dengan 166,7 juta transaski. Hal ini seiring dengan pertumbuhan kartu kredit yang pesat, yaitu mencapai 20,8 persen per tahun…

    Yah..kebanyakan dari mereka sih buta gara2 embel SALE gede2 an (sekarang lebih asyik kalo MIDNIGHT kali yaaa), tapi kalo utang, trus lama2 kebelit ya sama aja…bukan harga yang kepotong, tapi kantong yang buntung :) Hidup Kak Ricci…serem juga ni kalo masyarakat Indonesia makin gila ngutang..pantes aja negara banyak utang hehe

  • Dian Fitriani (Opit) said:

    wah bagus nih, kebetulan gw sedang kepikiran untuk bikin credit card, tp skrg gw jadi mikir lagi..apakah itu yang benar-benar gw butuhkan.

    sampe skrg, gw ga pernah beli sesuatu dengan kredit… mudah2an sih ngga akan pernah ya kecuali untuk rumah dan mobil :D

    kebiasaan buruk gw adalah suka lupa kalo gw lg ngutang sama temen.. biasanya pinjem yg kecil2 trus kelupaan .. tp ngga bermaksud jahat loh..lalu kebiasaan lagi kalo diutangin juga suka lupa.. waks gawat deh..

  • jauhari mk said:

    tulisan yang sangat menarik, berhutang dilihat dari sisi psikologi, perilaku dan tindakan2 yang dilakukan oleh para pengutang. Membuka wawasan baru.

    jika diperbolehkan saya ingin sharing dan turut membantu orang yang terlilit hutang. tips dan triks saya tulis di blog saya, mudah-mudahan bermanfaat, bisa di baca di http://finplanner-jauhari.blogspot.com/2011/12/ampuunn-saya-terlilit-hutang-gila.html

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word