<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>RuangPsikologi.Com &#187; ramadion</title>
	<atom:link href="http://ruangpsikologi.com/author/ramadion/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ruangpsikologi.com</link>
	<description>Webzine Psikologi Modern</description>
	<pubDate>Fri, 11 May 2012 03:33:31 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Siapkah Saya Menikah?</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/kesiapan_menika</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/kesiapan_menika#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 03:33:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ramadion</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi perkembangan]]></category>

		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[Fungsi]]></category>

		<category><![CDATA[Kedewasaan]]></category>

		<category><![CDATA[Kesiapan]]></category>

		<category><![CDATA[menikah]]></category>

		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>

		<category><![CDATA[Tugas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=1786</guid>
		<description><![CDATA[Sedang berpikir untuk melanjutkan hubungan pacaran ke jenjang pernikahan? Cek 8 point "Marriage Readiness" ini untuk mengetahui apakah kamu sudah benar-benar siap menjalani dunia suami-istri.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 304px"><a href="http://imageshack.us/photo/my-images/443/kueeditedc.jpg/"><img class="  " title="Sumber foto: http://photos.weddingbycolor-nocookie.com/p000014794-m178862-p-photo-465539/photo.jpg" src="http://i46.tinypic.com/1hevo.jpg" alt="Benarkah kita sudah siap menikah?" width="294" height="184" /></a><p class="wp-caption-text">Benarkah saya sudah siap menikah?</p></div>
<p>Oleh: <a title="Author's Twitter Account" href="http://twitter.com/nadiaika" target="_blank">Nadia Ikayanti S.Psi</a></p>
<p>Photos by: <a title="Professional Family Photographer" href="http://dailyphotostudio.com/" target="_blank">Daily Photo Studio</a></p>
<p>Memantapkan diri untuk melangkah menuju pernikahan bukanlah keputusan yang bisa diambil dalam waktu singkat. Banyak wanita salah mempersepsikan pesta pernikahan (<em>wedding</em>) dengan pernikahan (<em>marriage</em>) itu sendiri. Padahal, dalam pernikahan pasangan membuat komitmen jangka panjang yang mempunyai berbagai macam konsekuensi dan menuntut pengorbanan yang tak sedikit. Terasa menakutkan? Wajar bila kita merasa kuatir. Apalagi berdasarkan data dari Badan Urusan Peradilan Agama dan Mahkamah Agung, angka perceraian di Indonesia meningkat 70 persen antara tahun 2005 hingga 2010 (Purnama Putra, http://www.republika.co.id). Penyebab perceraian tersebut adalah ketidakharmonisan, tidak adanya tanggung jawab, dan masalah ekonomi.</p>
<p>Untuk bisa menghadapi konsekuensi yang timbul setelah menikah, diperlukan persiapan yang matang secara emosional dan finansial dari kedua pihak. Holman dan Bing (1997) mendefinisikan kesiapan pernikahan sebagai ‘<em>’. . . a perceived ability of an individual to perform in marital roles, and see it as an aspect of the mate selection or relationship developmental process</em>.’’ Sedangkan Dewi (2006) mendefinisikannya sebagai kesediaan individu untuk mempersiapkan diri membentuk ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami dan istri dengan tujuan membentuk keluarga dan rumah tangga yang kekal yang diakui secara agama, hukum, dan masyarakat. Dari kedua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa kesiapan pernikahan adalah kesediaan atau kemauan individu untuk menjalankan perannya di dalam pernikahan sebagai suami dan istri yang sah secara agama, hukum, dan masyarakat.</p>
<p>Berikut adalah beberapa hal untuk diperhatikan dalam menjawab pertanyaan, “apakah saya sudah siap untuk menikah?”</p>
<p>1. Kematangan Emosional</p>
<p>Kematangan atau kedewasaan emosional bisa dilihat dari cara individu dalam mengatasi dan beradaptasi terhadap perubahan-perubahan dan krisis dalam hidup. Seseorang juga dikatakan dewasa bila mampu membuat dan mempertahankan hubungan personal. Di dalam pernikahan, diperlukan kedewasaan yang lebih dari itu.</p>
<p>Jadi, coba renungkan sejenak, apakah kamu sudah mampu untuk tenang dalam menghadapi masalah dan tidak tenggelam dalam amarah atau air mata? Bagaimana pengalamanmu dalam menghadapi perubahan besar dalam hidup? Apakah kamu dapat dengan cepat beradaptasi, atau justru defensif dan tak mau keluar dari zona nyaman? Bagaimana pola pikirmu saat dilanda krisis? Apakah kamu dengan aktif mencari solusi, atau merasa tertekan sendiri? Setelah menikah, pasangan bisa menjadi potensi dari masalah selama 24 jam dalam sehari, lho.</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 355px"><a href="http://dailyphotostudio.com/wedding/mimoy-dion"><img title="Suami &amp; istri harus bekerja sama mempertahankan pernikahan" src="http://i46.tinypic.com/9pz85w.jpg" alt="Suami &amp; istri harus bekerja sama mempertahankan pernikahan" width="345" height="229" /></a><p class="wp-caption-text">Suami &amp; istri harus bekerja sama mempertahankan pernikahan</p></div>
<p>2. Kematangan Sosial</p>
<p>Oke, kamu dan pasangan sudah matang secara emosional. Selanjutnya apakah kalian sudah matang dalam aspek sosial? Bisa diketahui dari dua kriteria sebagai berikut</p>
<p style="padding-left: 30px;">a) Kencan (proses perkenalan) yang cukup – Meskipun lama berpacaran tidak bisa dijadikan tolak ukur yang pasti untuk kesiapan, selama waktu tersebut seberapa jauh kamu sudah mengenal pasangan? Banyak pasangan selalu berusaha menampilkan sisi terbaiknya sehingga ketika menikah banyak ‘surprise’ seperti kebiasaan-kebiasaan kecil yang mengganggu dan akhirnya menimbulkan masalah. Walaupun dapat diatasi, akan lebih baik bila kamu mengetahuinya sebelum menikah.</p>
<p style="padding-left: 30px;">b) <em>Enough of single life</em> - sebagai seorang dewasa muda, individu sudah merasakan mengeksplorasi potensi diri, mempunyai pekerjaan, dan menentukan hidup sendiri. Baru kemudian kamu dapat melangkah ke tahap berikutnya. Pastikan kamu sudah melakukan semua hal yang tidak bisa kamu lakukan jika sudah memiliki pasangan, seperti tenggelam dalam hobi, berlibur atau pulang larut karena pergi bersama teman, dan lainnya.</p>
<p>3. Kesehatan Emosional</p>
<p>Individu dikatakan sehat secara emosional bila stabil, tidak cemas, dan merasa aman (<em>secure)</em>. Ingat, saat sudah menikah, kamu harus memikirkan pasangan selain dirimu sendiri.</p>
<p>4. Persiapan Peran</p>
<p>Kamu harus mengetahui peran sosial sebagai seorang pasangan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. Hal ini bisa dilihat dari <em>significant others</em> (Bandura dalam Wortman, 2004) atau pencarian informasi dari literatur/ konseling. Sudahkah kamu mengecek ke pasangan mengenai harapan-harapan yang dimilikinya dalam kehidupan ber-rumah tangga? Bisakah kamu memenuhinya? Jika belum, apa yang harus dilakukan agar tercapai kompromi?</p>
<p>5. Kemampuan Komunikasi</p>
<p><em>We cannot not communicate</em>. Apa pun kebutuhanmu, kini akan dirasakan oleh suami atau istrimu. Tapi tak semua orang dapat menangkap kebutuhan pasangannya, dan tak semua orang dapat menjelaskan apa yang dibutuhkannya. Jadi, daripada merajuk, apakah sekarang kamu sudah memakai pola yang lebih komunikatif saat pasanganmu tidak mengerti apa yang kamu inginkan?</p>
<p>6. Kemampuan Finansial</p>
<p>Kemampuan finansial di sini tidak terbatas dalam arti kemampuan pasangan untuk membeli rumah, mobil dan materi lainnya. Kemampuan finansial juga berarti visi dalam mengelola bersama pemasukan yang didapatkan tiap bulannya, kemampuan untuk menabung dan menahan diri untuk tidak membeli barang yang tidak dibutuhkan, dan kemampuan untuk mencari investasi masa depan. Untuk pasangan baru, kemampuan finansial juga berarti kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan uang yang masih sangat terbatas tanpa sokongan dari orangtua. Have you?</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 355px"><a href="http://dailyphotostudio.com/wedding/mimoy-dion"><img class="   " title="Komunikasi adalah senjata utama dalam perkawinan" src="http://i46.tinypic.com/2h3d83b.jpg" alt="Komunikasi adalah senjata utama dalam perkawinan" width="345" height="229" /></a><p class="wp-caption-text">Komunikasi adalah senjata utama dalam perkawinan</p></div>
<p>7. Kemampuan Memotivasi Pasangan</p>
<p>Duvall dan Miller (1985) mengatakan bahwa pernikahan dapat disimbolkan oleh roller-coaster: kadang kita berada di atas (bahagia), kadang kita berada di bawah (menghadapi masalah). Karena masalah adalah hal yang sudah dapat dipastikan kedatangannya, maka pasangan harus memiliki motivasi untuk mempertahankan hubungan mereka, seperti apa pun situasinya. Jika pasangan tidak dapat saling memotivasi untuk mempertahankan hubungan, maka bukan tidak mungkin bahwa solusi pertama yang diambil saat menemui hambatan adalah memutuskan hubungan.</p>
<p>Coba ingat terakhir kali kamu dan pasangan bertengkar hebat. Berapa lamakah kalian dapat bertahan sebelum berpikir, “kalau begini, lebih baik putus saja, deh”?</p>
<p>8. Kemampuan Menerima Tekanan dari Keluarga Pasangan</p>
<p>Walau tidak bermaksud seperti itu, keluarga terkadang memburu-burukan suatu pasangan dalam menjalankan hidupnya. Keluarga sering kali “menekan” pasangan untuk cepat-cepat punya anak, membeli rumah, menguasai peran sebagai suami/istri, dan lain-lain. Terkadang, dilema antara mementingkan pasangan dan memenuhi “tekanan” keluarga dapat menjadi sumber pertengkaran. Kamu dan pasangan sebaiknya mulai memupuk kemampuan untuk “menolak” tekanan yang memang belum saatnya untuk dijalankan dan fokus kepada prioritas kalian berdua. Sekali-sekali, sedikit berkompromi dengan kemauan keluarga memang ada baiknya juga, tetapi pastikan kedua pasangan sudah menyetujuinya.</p>
<p>Bagaimana, sudah siapkah kamu menikah?</p>
<p>Tentang Penulis:</p>
<p>Nadia Ikayanti S.Psi is a 20 something sport enthusiast that has graduated from Psychology UI. For her, to live with optimum health is considered as a lifetime goal. <a title="Author's twitter account" href="http://twitter.com/nadiaika" target="_blank">Click here</a> to follow her twitter account.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Dewi, Ika Sari. (2006). <em>Kesiapan Menikah pada Wanita Dewasa Awal yang Bekerja</em>. Medan: USU Repository</p>
<p>Duvall, Evelyn M. &amp; Miller, Brent C. (1985). <em>Marriage and Family Development</em>. Harper &amp; Row Publishers.</p>
<p>Holman, T.B., dan Bing, Dao Li.(1997). Premarital Factors Influencing Perceived Readiness for Marriage. <em>Journal of Family Issues</em>. 1997:122-144. Sage Publication</p>
<p>Purnama, Erik Putra. (2012). <em>Angka Perceraian Pasangan Indonesia Naik Drastis 70 Persen</em>.     http://www.republika.co.id</p>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fkesiapan_menika&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/kesiapan_menika/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hati-hati Dengan Ahli Psikologi. Apakah Dia yang Kamu Butuhkan?</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/cabang-psikologi</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/cabang-psikologi#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 May 2012 04:03:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ramadion</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi Industri & Behavioral Economy]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi Umum & Eksperimen]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi klinis]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi perkembangan]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi sosial]]></category>

		<category><![CDATA[Industri dan organisasi]]></category>

		<category><![CDATA[klinis]]></category>

		<category><![CDATA[neuropsikologi]]></category>

		<category><![CDATA[perkembangan]]></category>

		<category><![CDATA[Psikolog]]></category>

		<category><![CDATA[psikologi]]></category>

		<category><![CDATA[psikologi positif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=1776</guid>
		<description><![CDATA[Yuk, kenali cabang-cabang dari Psikologi serta kemampuan para ahli dari cabang tersebut. Gunanya, agar kamu bisa pergi ke ahli yang sesuai dengan masalah yang kamu hadapi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: <a title="Akun twitter penulis" href="http://twitter.com/@ramadion_syam" target="_blank">Ramadion Syam S.Psi</a></p>
<p>Bagaimanakah perasaanmu jika anggota keluarga kita yang masih muda (anak atau adik) yang dibawa ke seorang psikolog karena sudah beberapa kali berkelahi di sekolah, didiagnosis &#8220;memiliki kecenderungan menjadi psikopat&#8221;? Lalu, bagaimanakah perasaanmu ketika kamu membawa anak ini ke psikolog lain yang mengatakan bahwa “kenakalan”-nya hanyalah sebuah fase yang akan hilang dengan sendirinya? Dan apa yang akan kamu perbuat saat kenalan lain yang kamu tahu adalah seorang profesor psikologi mengatakan bahwa ia tak mengerti apa-apa tentang dunia anak-anak dan tak bisa membantu anak atau adikmu ini?</p>
<p>Jangan bingung, karena kamu baru saja bertemu dengan tiga orang ahli psikologi yang memiliki spesialisasi yang berbeda, dan kebingungan ini adalah (sayangnya) salahmu sendiri.</p>
<p>Seperti di bidang kedokteran, psikologi juga memiliki spesialisasinya sendiri. Seperti para dokter yang memiliki keahlian khusus untuk menangani jantung, syaraf, tulang dan lain-lain, spesialisasi di bidang psikologi membuat para praktisinya memiliki keahlian khusus masing-masing (dan mungkin nol pengetahuan di area psikologi lainnya). Seharusnya, para ahli psikologi ini secara otomatis tidak menerima keluhan-keluhan klien yang bukan keahliannya. Hanya saja, kadang ada ahli psikologi yang nakal dan menerima semua klien demi uang atau alasan lain.</p>
<p>Maka, adalah tugas kamu untuk mencari tahu keahlian para praktisi psikologi ini sebelum datang konseling. Dalam artikel ini Ruang Psikologi akan menjabarkan keahlian para praktisi psikologi sesuai dengan cabang yang ada di dunia psikologi (serta penjabaran tambahan mengenai “tiga Profesi Psikolog di Indonesia” di bagian <em>Catatan</em>). Oh ya, artikel ini juga berguna untuk kamu yang merasa tidak memerlukan bantuan ahli psikologi karena kamu “tidak gila”, di artikel ini kamu akan menemukan bahwa ada ahli-ahli psikologi yang juga dapat memberikan manfaat bagi manusia yang sehat. Berikut adalah cabang-cabang di psikologi dan apa saja kemampuan yang dimiliki para ahlinya:</p>
<p>1. Psikologi Abnormal</p>
<p><a href="http://0.tqn.com/d/careerplanning/1/0/Q/C/clinical-psychologist.jpg"><img class="alignleft" title="Sumber foto: www.careerplanning.about.com" src="http://0.tqn.com/d/careerplanning/1/0/Q/C/clinical-psychologist.jpg" alt="" width="369" height="369" /></a>Cabang dari psikologi ini meneliti dan melakukan intervensi kepada gangguan-gangguan kejiwaan, seperti autisme, perilaku seksual menyimpang, gangguan kepribadian, dan lain-lain. Tugas mereka adalah mendiagnosa gangguan apa yang dimiliki seseorang dan melakukan terapi agar orang tersebut dapat hidup dengan normal di dalam masyarakat. Biasanya, pandangan masyarakat umum dari sesuatu yang namanya “psikolog” adalah apa yang digambarkan dari praktisi cabang psikologi ini. Praktisinya biasanya dikenal dengan sebutan psikolog (klinis), konselor atau psikoterapis.</p>
<blockquote><p><em><span style="text-decoration: underline;">Catatan:</span> Psikolog Klinis</em> adalah profesi yang harus kamu datangi jika memiliki keluarga yang mengalami gangguan psikologis. Terdapat dua macam Psikolog Klinis, yaitu mereka yang secara khusus menangani atau mencegah gangguan psikologi pada ANAK dan mereka yang mengkhususkan diri untuk menangani orang DEWASA. Untuk kasus yang terdapat di awal artikel ini, sebaiknya anak tersebut dibawa ke Psikolog Klinis Anak, karena psikolog ini juga akan mempertimbangkan proses perkembangan anak. Pada beberapa anak, memang terdapat fase “kenakalan” yang sebenarnya akan hilang dengan sendirinya seiring dengan makin dewasanya anak. Psikolog Klinis Dewasa akan bekerja paling efektif jika berhadapan dengan mereka yang sudah hidup dengan mandiri.</p></blockquote>
<p>2. Psikologi Pendidikan</p>
<p>Psikologi Pendidikan mempelajari tentang hal-hal yang membantu atau menghambat proses mengajar di sekolah. Misalnya, persepsi murid kepada guru, di mana persepsi ini dapat membantu atau menghalangi murid dalam menerima materi yang diajarkan. Kadang, ahli psikologi di bidang pendidikan juga memiliki kemampuan memberikan terapi kepada anak yang memiliki gangguan psikologis, tapi sebenarnya terapi bukanlah bidang utama mereka. Sebaiknya, jika anak memiliki gangguan psikologis, anak tetap dibawa ke ahli psikologi perkembangan atau psikolog klinis.</p>
<blockquote><p><em><span style="text-decoration: underline;">Catatan:</span> Psikolog Pendidikan</em> adalah profesi yang tugasnya memastikan siswa di sebuah lembaga pendidikan dapat menerima materi pelajaran dengan optimal. Ia harus memastikan kondisi keluarga siswa, kondisi psikologis siswa (motivasi anak, gaya belajar anak, dan lain-lain), serta kondisi fisik di tempat belajar tidak akan mengganggu penyerapan materi pelajaran. Untuk kasus di awal artikel, psikolog pendidikan dapat berperan sebagai orang yang memberikan diagnosa awal. Tetapi, sebaiknya diagnosa final dan penanganannya dilakukan oleh psikolog klinis.</p></blockquote>
<p>3. Psikologi Industri dan Organisasi</p>
<p>Cabang ini meneliti tentang kondisi terbaik agar karyawan di sebuah perusahaan dapat bekerja dengan maksimal, mulai dari kondisi fisik dari tempat bekerja sampai dengan kondisi psikologis karyawan. Tema yang dibahas oleh ahli di bidang ini mulai dari tingkat terangnya cahaya di tempat kerja, interaksi karyawan-atasan, motivasi karyawan, kepuasan kerja sampai dengan penanganan masalah di rumah yang dapat mengganggu performa di tempat kerja.</p>
<blockquote><p><em><span style="text-decoration: underline;">Catatan:</span> Psikolog Industri dan Organisasi</em> adalah profesi yang biasanya bekerja di Human Resource Department. Mereka berfungsi untuk mencari orang dengan bakat yang paling cocok untuk sebuah jabatan, memberi pelatihan agar <em>skill</em> karyawan makin terasah, sampai mendeteksi karyawan yang memiliki gangguan psikologi. Tentu psikolog dari cabang ini sangat tidak cocok untuk menangani kasus seperti yang dijabarkan di awal artikel. Bahkan, seperti yang dijabarkan di awal artikel juga, mungkin mereka adalah profesor di bidang ini tapi tak mengerti apa-apa mengenai kondisi psikologis anak.</p></blockquote>
<p>4. Biopsikologi</p>
<p>Cabang ini mempelajari bagaimana otak mengontrol perilaku. Misalnya, jika ada seseorang yang kurang mampu memusatkan fokusnya, maka mungkin ada yang salah dengan syaraf, neurotransmiter atau komposisi kimia di otakmu. Jika kesalahan ini diperbaiki dengan obat atau operasi, maka gangguan psikologismu akan tersembuhkan. Ahli di bidang ini biasanya bekerja di laboratorium atau di rumah sakit. Bagi kamu yang butuh konseling biasa, tidak perlu menghubungi mereka.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.lsa.umich.edu/psych/research&amp;labs/berridge/images/Opto%20PCA%20Crop_4736.jpg"><img class="aligncenter" title="Sumber foto: http://www.lsa.umich.edu/psych/research&amp;labs/berridge/research/techniques.html" src="http://www.lsa.umich.edu/psych/research&amp;labs/berridge/images/Opto%20PCA%20Crop_4736.jpg" alt="" width="499" height="333" /></a></p>
<p>5. Psikologi Kognitif</p>
<p>Ahli psikologi kognitif adalah mereka yang tertarik pada proses berpikir manusia. Mereka mempelajari bagaimana memori itu dibentuk, bagaimana motivasi membuat manusia melakukan sesuatu, proses manusia memecahkan masalah (<em>problem solving</em>), membuat keputusan (<em>decision making</em>), dan lain-lain. Jika kamu perlu untuk “curhat” tentang gangguan kejiwaan keluargamu, ahli psikologi di bidang ini mungkin tidak akan terlalu tepat, karena mereka lebih memiliki kemampuan untuk melihat proses psikologis yang lebih sempit.</p>
<p>6. Psikologi Komparatif</p>
<p>Psikologi Komparatif membandingkan antara perilaku yang ada di manusia dengan perilaku yang terdapat pada binatang lain yang memiliki otak. Hal ini dipelajari karena dalam beberapa hal, sistem kerja otak dan binatang cukup mirip. Misalnya, dalam bagaimana sebuah kelompok memilih pemimpin, bagaimana kelompok menghukum anggotanya yang melanggar peraturan, bagaimana cara individu mengatasi ketakutan, dan lain-lain. Karena subjek utama yang diteliti ahli psikologi di bidang ini adalah binatang, maka curhat dengan mereka akan membuahkan penjelasan yang lebih primitif atau kembali ke akar evolusi. Misalnya, jika ada anak yang takut akan gelap, mereka akan menjelaskan bahwa ketakutan ini adalah warisan dari nenek moyang kita yang masih hidup di alam liar, sehingga akan terancam keamanannya oleh hewan karnivora di tempat gelap.</p>
<p>7. Psikologi Cross-cultural (lintas-budaya)</p>
<p>Cabang ini membandingkan antara struktur psikologis manusia dari beberapa budaya yang berbeda. Misalnya, perbandingan motivasi berprestasi dari orang Indonesia yang memiliki budaya kolektif dengan motivasi berprestasi orang Singapura yang lebih individualistis. Psikolog yang mendalami studi lintas-budaya biasanya tidak terlalu menajamkan kemampuan memberi terapi, tapi lebih ke kemampuan pengukuran psikologi.</p>
<p>8. Psikologi Perkembangan</p>
<p>Ahli di cabang ini adalah pilihan yang tepat untuk gangguan psikologis yang berhubungan dengan perkembangan (pertumbuhan) manusia, seperti yang dijabarkan di awal artikel ini. Mereka mempelajari kematangan perkembangan pikiran manusia di masa muda, serta penurunan kualitas pikiran di masa tua. Mereka biasanya lebih sensitif dengan anomali (penyimpangan) yang sebenarnya normal, yang merupakan bagian dari perkembangan.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://smu.edu/education/CCCD/MultipleSystems.gif"><img class="aligncenter" title="Sumber foto: http://smu.edu/education/CCCD/conceptualframework.asp" src="http://smu.edu/education/CCCD/MultipleSystems.gif" alt="" width="336" height="335" /></a></p>
<p>9.  Psikologi Behavioral</p>
<p>Cabang dari psikologi ini mempelajari cara membentuk suatu perilaku dengan proses pengkondisian. Misalnya, agar anak selalu rajin belajar, anak harus diberikan hadiah (<em>positive reinforcement</em>) setelah dia belajar. Praktisi dari cabang psikologi ini bisa menjadi konselor di lembaga psikologi (memberi terapi), pendamping guru di sekolah, atau bekerja di bidang yang lebih luas seperti membuat peraturan di suatu lingkungan (lengkap dengan konsekuensinya). Konsultasi dengan ahli di bidang ini akan menghasilkan sebuah sistem <em>reward-punishment</em> dalam menyelesaikan masalahmu. Psikologi behavioral merupakan cabang yang sudah mulai menurun pemakaiannya, meskipun masih dapat dipakai dalam beberapa kasus</p>
<p>10. Psikologi Eksperimental</p>
<p>Psikolog eksperimental adalah mereka yang bekerja di laboratorium (baik laboratorium di ruangan mau pun laboratorium terbuka yang berada di masyarakat) untuk membuktikan hal-hal yang mempengaruhi kondisi psikologi seseorang. Misalnya, dengan bekerja sama dengan ahli Psikologi Pendidikan, mereka mencari tahu efek suara bising dengan kemampuan seorang murid untuk menyerap materi pelajaran. Ahli psikologi di cabang ini lebih mampu untuk melihat pola di masyarakat secara general (sebagai kelompok) dibandingkan memberikan terapi untuk orang-per-orang.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://valadoo.com/static/experimental.jpg"><img class="aligncenter" title="Sumber foto: http://www.nature.com/srep/2011/111026/srep00130/fig_tab/srep00130_F1.html" src="http://valadoo.com/static/experimental.jpg" alt="" width="556" height="266" /></a></p>
<p>11. Psikologi Forensik</p>
<p>Psikologi Forensik berhubungan dengan bidang hukum. Pekerjaan mereka adalah memberikan kesaksian ahli di persidangan, mewawancara anak yang dicurigai menjadi korban abuse, membantu anak menyiapkan diri untuk memberi kesaksian, dan mengukur kondisi mental terdakwa.</p>
<p>12. Psikologi Kesehatan</p>
<p>Cabang ini mempelajari tentang cara untuk menjaga kesehatan dan menghadapi masa sakit. Mereka memiliki kompetensi untuk menasihati pasien, keluarga pasien atau bahkan orang yang masih sehat tentang cara untuk mempertahankan kondisi tubuh agar tetap sehat. Tentu sebaiknya kita hanya pergi berkonsultasi ke mereka jika memiliki masalah psikologis yang mempengaruhi kesehatan fisik seseorang.</p>
<p>13. Psikologi Kepribadian</p>
<p><a href="http://www.thecitysheartbeat.com/wp-content/uploads/2012/01/myersbriggpost.png"><img class="alignleft" title="Sumber foto: http://www.thecitysheartbeat.com/extrovert/" src="http://www.thecitysheartbeat.com/wp-content/uploads/2012/01/myersbriggpost.png" alt="" width="139" height="236" /></a>Setiap orang itu unik, dan cabang psikologi ini mencoba memetakan kepribadian-kepribadian yang ada di dunia. Misalnya, dengan alat ukur yang sudah distandarkan, ahli di cabang ini bisa mengetahui apakah kamu seorang ekstrovert atau introvert, serta berdasarkan temuan ini mengetahui bagaimana cara terbaik untukmu mendapatkan energi tambahan. Serta dengan alat ukur lain, bisa diketahui apakah kamu seorang pemikir (<em>thinking</em>) atau orang yang mengandalkan intuisi (<em>feeling</em>), dan pekerjaan apa yang cocok untuk dirimu. Ahli di bidang ini cukup baik untuk menjadi tempat konsultasi mengenai bakatmu dan pekerjaan seperti apa yang cocok denganmu.</p>
<p>14. Psikologi Sosial</p>
<p>Cabang Psikologi Sosial tertarik dengan perilaku sosial manusia (interaksi antara satu manusia dengan manusia lain): komunikasi nonverbal, rasisme, perilaku sebuah kelompok, interaksi sosial, dan lain-lain. Ahli di cabang ini biasanya lebih mampu mengatasi masalah psikologi kemasyarakatan daripada individu.</p>
<p>15. Psikologi Positif</p>
<p>Cabang ini adalah yang paling muda diantara yang lain. Pendekatan yang diambil adalah menguatkan nilai atau ciri positif yang dimiliki seseorang, sehingga dia dapat meraih kematangan dan kesuksesan yang optimal dalam hidupnya. Cabang psikologi positif ini melihat manusia sebagai mahluk yang dari sananya (ketika dilahirkan) sudah memiliki nilai positif. Ahli di bidang ini dapat menjadi konselor yang cukup baik, walau pun sebaiknya tidak menangani keluhan abnormalitas pada kejiwaan.</p>
<p>Bagaimanakah cara untuk mengetahui kemampuan yang dimiliki ahli psikologi yang akan kamu datangi untuk konsultasi? Cara termudah adalah dengan melihat titel yang dimilikinya, orang yang memiliki titel sebagai psikolog (Psi.) adalah mereka yang dididik khusus untuk menjadi terapis. Cara lain adalah dengan menghubungi tempat prakteknya langsung dan menanyakan pendidikan spesialisasi yang telah dia tempuh. Tetapi jika kamu tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, kamu bisa melakukan googling dari namanya pun sudah cukup. Kamu bisa mengecek di mana ia menyelesaikan study-nya, dan apakah pendidikannya tersebut sesuai dengan permasalahan yang kamu atau keluargamu hadapi.</p>
<p>Jadi, selamat melakukan proses pencarian untuk menemukan ahli psikologi yang tepat bagi dirimu atau keluarga.</p>
<p>Daftar Pustaka:</p>
<p>Cherry, Kendra. (2012). <em>Branches of Psychology</em>. Diambil 2012, Maret 29 dari <a href="http://psychology.about.com/od/branchesofpsycholog1/tp/branches-of-psychology.htm">http://psychology.about.com/od/branchesofpsycholog1/tp/branches-of-psychology.htm</a></p>
<p>Halida, Aril. (2009). <em>Psikolog&#8230; Sahabat Sejati Dalam Suka &amp; Duka</em>. Diambil 2012, Maret 29 dari <a href="http://www.yarsi.ac.id/web-directory/kolom-dosen/73-fakultas-psikologi/146-psikologsahabat-sejati-dalam-suka-a-duka.html">http://www.yarsi.ac.id/web-directory/kolom-dosen/73-fakultas-psikologi/146-psikologsahabat-sejati-dalam-suka-a-duka.html</a></p>
<p>Wortman, C., Loftus, E., &amp; Weaver, C. (1999). <em>Psychology</em>. New York: McGraw-Hill College.</p>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fcabang-psikologi&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/cabang-psikologi/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Menghadapi Wawancara Pekerjaan (sambungan dari bagian 1)</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/tips-menghadapi-wawancara</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/tips-menghadapi-wawancara#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jul 2010 03:45:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ramadion</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi Industri & Behavioral Economy]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi Umum & Eksperimen]]></category>

		<category><![CDATA[job interview]]></category>

		<category><![CDATA[psikologi]]></category>

		<category><![CDATA[wawancara pekerjaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=1246</guid>
		<description><![CDATA[Empat tips tambahan untuk meningkatkan kemungkinan lolosnya kamu dalam wawancara pekerjaan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-1247" href="http://ruangpsikologi.com/tips-menghadapi-wawancara/4274545804_99b8e1afd1_z"><img class="alignleft size-medium wp-image-1247" title="4274545804_99b8e1afd1_z" src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2010/07/4274545804_99b8e1afd1_z-300x200.jpg" alt="4274545804_99b8e1afd1_z" width="300" height="200" /></a></p>
<p style="text-align: right;">Oleh: Ramadion</p>
<p>Setelah mempelajari tiga tips di artikel sebelumnya, sekarang kamu bisa lebih jauh meningkatkan performa kamu saat menghadapi wawancara pekerjaan. Berikut adalah 4 tips lanjutan yang telah dikumpulkan oleh RuangPsikologi.com:</p>
<ul>
<li><strong>Cari informasi tentang perusahaan yang akan kamu masuki</strong></li>
</ul>
<p>Perusahaan mencari orang yang akan memberi keuntungan baginya. Yaitu, orang-orang yang peduli dengan kondisi perusahaan dan mencoba memberikan ide untuk meningkatkan kinerja perusahaan, bukan sekedar orang yang mengejar gaji yang diberikan.</p>
<p>Coba cari tahu segala hal tentang perusahaan yang akan kamu masuki, khususnya yang berkaitan dengan departemen sasaranmu. Jika jawaban dari wawancaramu bisa dikaitkan dengan kondisi perusahaan, pasti itu akan menjadi nilai plus bagimu. Selain itu, jika kamu bertanya tentang hal yang berkaitan langsung dengan perusahaan, pewawancara akan menilai kamu peduli dengan kondisi perusahaan.</p>
<ul>
<li><strong>Perhatikan penampilan</strong></li>
</ul>
<p>Tina Seelig, penulis dan orang yang berpengalaman dalam mewawancara calon pekerja, mengatakan bahwa impresi yang kamu berikan pada 90 detik pertama wawancara sangatlah menentukan. Maka, pastikan perhatian pewawancara pada resume-mu tidak akan terganggu oleh kukumu yang panjang dan hitam. (Coba lihat foto yang ada di bagian atas artikel. Menurut kamu, apakah penampilan kedua orang yang melamar pekerjaan sudah tepat?)</p>
<p>Kamu tidak harus ganteng atau cantik, yang penting rapi. Menyemir sepatu sampai mengilap tentu akan menambah bagus penampilanmu. Sebelum masuk ruang tunggu wawancara, cek dulu rapinya baju dan rambutmu. Siapkan permen menthol agar nafasmu selalu segar. Saat berjabat tangan, berikan jabatan yang mantap. Jangan lupa untuk mematikan telepon genggam-mu agar ia tak berdering ditengah wawancara.</p>
<ul>
<li><strong>Persiapan lainnya</strong></li>
</ul>
<p>Masih berkaitan dengan impresi, kamu harus menjaga fisik menjelang hari wawancara. Setidaknya, tidurlah yang cukup pada malam sebelum wawancara agar kamu terlihat segar pada saat hari yang menentukan itu. Dr. Mark Goulston, seorang ahli persuasi menyarankan agar kamu berolahraga sebelum berangkat wawancara agar ketegangan bisa tersalurkan dan kamu jadi lebih waspada.</p>
<p>Sebuah tips yang cukup bermanfaat adalah pastikan alamat kantor yang akan kamu datangi. Jangan sampai karena salah lantai atau masalah dengan keamanan di pintu masuk membuatmu terlambat sampai ke tempat wawancara.</p>
<ul>
<li><strong>Bereskan akun facebook-mu</strong></li>
</ul>
<p>Percaya atau tidak, kamu tahu apa yang akan dilakukan oleh pewawancara jika mereka harus memilih beberapa kandidat yang sama baiknya? Mereka akan melihat akun facebookmu. Sebaiknya kamu buat foto-foto atau <em>notes</em>-mu yang nakal menjadi <em>private</em>.</p>
<p>Sekarang kamu tahu kalau berbagai hal dapat memengaruhi diterima atau tidaknya kamu dalam sebuah pekerjaan, mulai dari hal yang sangat berkaitan dengan pekerjaan, sampai dengan yang sangat tidak berkaitan (bahkan beberapa staf HRD akan bertanya pada resepsionis untuk mengetahui kelakuanmu pada saat kamu menunggu giliran). Jadi, siapkan strategi dengan baik agar masa depanmu tidak tersandung oleh hal tali sepatumu yang lupa diikat.</p>
<p>Sumber:<br />
- Mata Kuliah Metode Wawancara. Fakultas Psikologi UI.<br />
- Brooks, Katherine. (2010). Ten Tips for the Shy Job Seekers. <em>Psychology Today Blogs</em>. Available: http://www.psychologytoday.com/blog/career-transitions/201005/ten-tips-the-shy-job-seeker<br />
- Goulston, Mark. (2010) A Job Interview is a Terrible Thing to Waste. <em>Psychology Today Blogs. </em>Available: http://www.psychologytoday.com/blog/just-listen/201003/job-interview-is-terrible-thing-waste<br />
- Seelig, Tina. (2010). Secrets to a Successful Job Interview. <em>Psyhcology Today Blogs.</em> Available: http://www.psychologytoday.com/blog/creativityrulz/201002/secrets-successful-job-interview</p>
<p>Sumber foto: http://www.flickr.com/photos/jobingcolin/4274545804/</p>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Ftips-menghadapi-wawancara&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/tips-menghadapi-wawancara/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Wawancara Pekerjaan: Setengah Jam yang dapat Mengubah Hidupmu</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/wawancara-pekerjaan-setengah-jam-yang-dapat-mengubah-hidupmu</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/wawancara-pekerjaan-setengah-jam-yang-dapat-mengubah-hidupmu#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2010 05:01:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ramadion</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi Industri & Behavioral Economy]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi Umum & Eksperimen]]></category>

		<category><![CDATA[job interview]]></category>

		<category><![CDATA[karir]]></category>

		<category><![CDATA[psikologi]]></category>

		<category><![CDATA[wawancara pekerjaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=1238</guid>
		<description><![CDATA[Ketahui bagaimana cara orang HRD berpikir untuk meningkatkan kemungkinan berhasilnya dirimu dalam menghadapi wawancara pekerjaan (job interview).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-1239" href="http://ruangpsikologi.com/wawancara-pekerjaan-setengah-jam-yang-dapat-mengubah-hidupmu/attachment/75627778"><img class="alignleft size-medium wp-image-1239" title="75627778" src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2010/07/4441733804_d65ea7891c-300x200.jpg" alt="75627778" width="300" height="200" /></a></p>
<p style="text-align: right;">Oleh: Ramadion</p>
<p>Bagi banyak orang, wawancara kerja (<em>job interview</em>) masih menjadi momok yang menakutkan. Khususnya bagi mereka yang belum banyak memiliki pengalaman kerja, diterima atau tidaknya seseorang pada pekerjaan yang dilamar masih sangat bergantung pada impresi yang terbangun di saat wawancara.</p>
<p>Beberapa opini yang pernah saya temui adalah, bahwa wawancara kerja itu sangat tergantung pada nasib, karena kadang orang yang kemampuannya dibawah kita justru mendapatkan pekerjaan tersebut sedangkan kita tidak. Sebenarnya saya kurang setuju dengan pendapat di atas. Tapi, memang hanya orang yang “beruntung” yang bisa lolos dari wawancara pekerjaan.</p>
<p>Kenapa saya menggunakan kata “beruntung”? Karena, banyak sekali faktor yang bermain pada wawancara pekerjaan. Saat kita memasuki ruangan wawancara, kemampuan kita (walau pun tetap menjadi faktor utama) bukanlah satu-satunya hal yang menjamin diterimanya kita dalam suatu pekerjaan.</p>
<p>Berikut adalah beberapa tips yang dapat meningkatkan kemungkinan lolosnya kamu dalam wawancara pekerjaan. Beberapa tips mungkin akan terdengar sepele. Tapi, saat kamu bersaing dengan pelamar lain yang mungkin memiliki kemampuan yang sama denganmu, hal-hal kecillah yang akan menentukan pemenangnya.<br />
<strong><br />
</strong></p>
<ul>
<li><strong> Berusahalah untuk memiliki <em>chemistry</em> dengan pewawancara</strong></li>
</ul>
<p>Kenyataan pertama yang harus kita terima, adalah, bahwa staf HRD yang mewawancarai kamu adalah manusia. Artinya, penilaian subjektif dia, diakui atau tidak, akan mempengaruhi hasil tanya jawab antara kalian yang akan ia laporkan pada calon atasanmu.</p>
<p>Strategi dasar untuk membangun <em>chemistry</em> tentu saja adalah dengan tersenyum. Untuk sejenak, jangan pikirkan tentang keharusanmu untuk mendapatkan pekerjaan itu. Tapi pikirkan juga bahwa orang yang berada didepanmu telah dan akan menghadapi banyak pelamar. Tentu sedikit senyum akan mencerahkan harinya (dan meningkatkan kemungkinan diingatnya dirimu saat akan menentukan siapa yang pantas mendapatkan pekerjaan).</p>
<p>Selalu jaga <em>eye-contact</em>, karena susah sekali untuk percaya pada orang yang berbicara pada lantai. Jangan memberikan jawaban yang terlalu panjang, karena justru hanya sedikit yang akan diingat oleh pewawancara.</p>
<p>Cara lain yang dapat kamu pakai adalah dengan membubuhkan hobimu menarikmu di <em>curriculum vitae</em> yang kamu ajukan. Wawancara pasti dimulai dengan sedikit perkenalan. Jika hobimu bisa menjadi topik pembicaraan, emosi positif yang dimunculkan mungkin akan mendongkrak nilaimu yang dituliskan oleh pewawancara.</p>
<p>Sebetulnya, cukup mudah untuk membuat strategi cara membangun chemistry dengan pewawancara. Pikirkan saja hal-hal yang akan membuatmu akrab dengan orang yang baru pertama kali bertemu denganmu, dan lakukan hal itu ketika wawancara. Pikirkan hal yang membuatmu risih, dan jangan lakukan itu ketika wawancara.</p>
<p>Terakhir, kirimkanlah<em> e-mail </em>untuk mengucapkan terima kasih atas kesempatan wawancara yang telah diberikan. Dalam <em>e-mail </em>ini, kamu juga bisa menambahkan jawaban-jawaban yang belum keluar saat wawancara.</p>
<ul>
<li><strong> Cari tahu <em>job-description</em>-mu</strong></li>
</ul>
<p>Staf HRD modern biasanya menggunakan strategi wawancara <em>competency-based</em>. Artinya, ia akan mencocokkan kompetensi yang kamu miliki dengan tuntutan dari pekerjaan yang kamu lamar. Misalnya, kalau pekerjaan yang ditawarkan adalah <em>human-relation</em>, maka staf HRD akan mencari tahu tentang kemampuan komunikasimu.</p>
<p>Dalam wawancara<em> competency-based</em>, pewawancara akan menyuruh kamu menceritakan pengalaman yang berhubungan dengan kemampuanmu. Jadi, setelah kamu membuat daftar dari kemampuan (kompetensi) yang dibutuhkan, coba ingat-ingat pengalamanmu yang berkaitan dengan hal itu. Misalnya, dalam contoh <em>human-relation </em>tadi, ingat-ingat kapan kamu pernah menjabat sebagai humas acara kampus, masalah apa yang kamu hadapi saat kamu memegang jabatan itu, dan bagaimana cara kamu menyelesaikannya.</p>
<ul>
<li><strong> Percaya diri</strong></li>
</ul>
<p>Saat kamu memegang sebuah jabatan, maka nasib perusahaan di bidang itu akan diserahkan kepadamu. Maka, staf HRD perlu mencari orang yang yakin bahwa ia mampu memegang tanggung jawab tersebut. Salah satu cara untuk mencari tahu apakah kamu yakin, adalah dengan menilai cara kamu menjawab pertanyaan. Jangan banyak memulai jawaban dengan kata “mungkin”, atau kata-kata tak berarti seperti “eee&#8230; aaa&#8230;”</p>
<p>Untuk meningkatkan percaya diri, coba buat simulasi wawancara berdasarkan daftar kemampuan yang kamu buat di tips sebelumnya. Kalau bisa, rekam sesi latihanmu, dan diskusikan dengan temanmu apa saja hal-hal yang dapat ditingkatkan. Coba juga ingat-ingat wawancara pekerjaan yang pernah kamu jalani, dan pelajari kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan yang kamu perlihatkan waktu itu.</p>
<p>(<em>bersambung ke bagian 2</em>)</p>
<p>Sumber foto: http://www.flickr.com/photos/toofabtobebroke/4441733804/</p>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fwawancara-pekerjaan-setengah-jam-yang-dapat-mengubah-hidupmu&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/wawancara-pekerjaan-setengah-jam-yang-dapat-mengubah-hidupmu/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ubah Pola Hidup Buah Hati Kita, Lindungi Jantungnya</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/pola-hidup-anak</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/pola-hidup-anak#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Apr 2010 12:38:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ramadion</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi Umum & Eksperimen]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi perkembangan]]></category>

		<category><![CDATA[anak]]></category>

		<category><![CDATA[diabetes]]></category>

		<category><![CDATA[kegemukan]]></category>

		<category><![CDATA[makanan]]></category>

		<category><![CDATA[obesitas]]></category>

		<category><![CDATA[overweight]]></category>

		<category><![CDATA[penyakit jantung]]></category>

		<category><![CDATA[psikologi anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=1084</guid>
		<description><![CDATA[Obesitas mulai menjangkiti anak-anak. Penyakit jantung pun mengancam mereka pada usia dini. Cegah dari sekarang agar masa depan mereka tak suram.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; text-align: left; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;"><a rel="attachment wp-att-1099" href="http://ruangpsikologi.com/pola-hidup-anak/gendut-bgt1"><img class="alignleft size-medium wp-image-1099" title="gendut-bgt1" src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2010/04/gendut-bgt1-300x198.jpg" alt="gendut-bgt1" width="300" height="198" /></a>Oleh: Ramadion</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">*Artikel ini sudah pernah di-publish di www.ripiu.com, situs berbagi informasi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Gaya hidup anak saat ini mulai mengkhawatirkan para ahli kesehatan. Pulang sekolah biasanya mereka akan duduk di depan TV, main internet, atau bermain <em>video games</em>. Saat diajak makan di pusat perbelanjaan, biasanya mereka akan memilih makanan cepat saji. Pizza, burger, dan makanan berkalori (sangat) tinggi lainnya “didorong” ke dalam perut dengan bantuan soda yang memiliki kadar gula juga (sangat) tinggi. Makanya, di Amerika Serikat sendiri, jumlah anak yang mengalami <em>overweight</em> melonjak sebanyak 20%.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Gaya hidup tersebut, yang kini mulai diadopsi oleh anak Indonesia, memang meningkatkan resiko anak untuk terkena diabetes, kolesterol tinggi, bahkan penyumbatan pembuluh darah yang bisa menyebabkan serangan jantung. Sayangnya, banyak orang tua yang mengabaikan masalah ini karena prinsip, ‘tidak apa-apa kalau anak gendut. Kan masih kecil.’</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Justru ini adalah pandangan yang salah. Hetherington dan Parke (1993) menemukan bahwa 86% anak laki laki (dan 80% anak perempuan) yang overweight akan menjadi orang dewasa yang overweight.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Tubuh manusia memang diciptakan untuk rentan terhadap kegemukan. Para ahli psikologi evolusionis mengatakan bahwa ini adalah warisan dari evolusi. Pada jaman dahulu, sumber daya makanan terbatas. Sehingga, untuk memperbesar kemungkinan <em>survive</em>, manusia menurunkan sifat kepada penerusnya untuk sebanyak-banyaknya menimbun makanan dalam tubuh. Sehingga, jika terjadi wabah kelaparan, kita bisa mengambil cadangan makanan dari tubuh kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Sayangnya, saat ini ketika sumber daya makanan sudah melimpah, badan kita “ketinggalan jaman”. Otak masih terus menyuruh otak untuk menimbun kalori, lemak, dan protein dengan memberikan zat kimia yang memberikan kenikmatan (<em>dopamine</em>) apabila kita melahap makanan, walau pun kita sudah kenyang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Maka, kunci untuk melindungi anak dari bahaya kegemukan berada di tangan orang tua sendiri. Ahli kesehatan menyarankan orang tua atau para pengasuh untuk memperketat gaya hidup anak untuk menyelamatkan anak dari bahaya penyakit jantung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Beberapa tips dari para ahli kesehatan anak yang dapat Anda terapkan pada anak Anda adalah:</span></p>
<ul>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Anak tak boleh hanya memakan makanan yang tinggi kalori. Mereka harus belajar untuk makan berbagai jenis makanan, khususnya buah dan sayuran. Anak juga harus belajar memilih roti dengan gandum-utuh yang lebih banyak serat daripada roti biasa. Anak juga harus diajarkan memakan ikan, ayam, dan daging yang diproses dengan lebih sehat, dan bukan hanya digoreng di dalam minyak yang meningkatkan jumlah kolesterol.</span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Penurunan jumlah makanan yang bersifat kolesterol tinggi harus dimulai sejak anak berumur 2 tahun. Jangan karena anak susah makan makanan sehat, lalu orang tua terburu-buru untuk memberi makanan cepat saji yang membuat anak lahap makan karena diiming-imingi mainan.</span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Mulailah kurangi jumlah garam dan gula yang dikonsumsi anak. Masakan Indonesia memang terlalu “berasa” karena banyak mengandung garam. Ada baiknya kalau jumlah garam pada masakan dikurangi. Minumah yang banyak mengandung gula adalah soda. Ajarkan anak untuk mencoba menikmati jus.</span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Anak harus berolahraga setidaknya satu jam dalam sehari. Tapi, jangan mengharapkan anak untuk segera mau disuruh berolahraga. Ajak anak berolahraga setahap demi setahap, dan berikan hadiah jika mereka konsisten melakukannya.</span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Menonton televisi dan main video games harus dikurangi. Jumlah waktu yang baik untuk dua kegiatan ini adalah 2 jam/hari. Turunkan jumlah waktu menonton dan main video game anak sedikit demi sedikit.</span></div>
</li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Mengubah gaya hidup anak memang tidak mudah. Tetapi dengan kerja sama dari orang-orang di sekitar anak dan memberi pengertian pada anak, hal tersebut bukan tidak mungkin untuk dilakukan. Percayalah, mengubah kebiasaan pada saat anak masih berusia muda lebih mudah dibandingkan saat anak sudah menjadi orang dewasa yang kelebihan berat badan dan beresiko terkena penyakit jantung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Sumber:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">www.ripiu.com</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Hetherington, E.M., &amp; Parke, R.D. (1993). Child Psychology: A Contemporary Viewpoint (4th ed.). New York: McGraw-Hill Inc.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Reader’s Digest (2004). 2004 Medical Breakthroughs. New York: The Reader’s Digest Association Inc.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; line-height: normal; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: IN;">Sumber foto: http://www.flickr.com/photos/11375782@N05/2249215992/</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt;"><span style="font-size: small; font-family: Calibri;"> </span></p>
<p><!--[if gte mso 10]><br />
<mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-language:EN-US;}  ></p>
<p><! [endif] ></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal;" mce_style="line-height: normal;"><a rel="attachment wp-att-1086" href="http://ruangpsikologi.com/pola-hidup-anak/gendut-bgt" mce_href="http://ruangpsikologi.com/pola-hidup-anak/gendut-bgt"><img class="alignleft size-medium wp-image-1086" title="gendut-bgt" src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2010/04/gendut-bgt-300x198.jpg" mce_src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2010/04/gendut-bgt-300x198.jpg" alt="gendut-bgt" width="300" height="198" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: right;" mce_style="line-height: normal; text-align: right;">Oleh: Ramadion</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: right;" mce_style="line-height: normal; text-align: right;">
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;" mce_style="line-height: normal; text-align: left;">*Artikel ini sudah pernah di-publish di www.ripiu.com, situs berbagi informasi</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal;" mce_style="line-height: normal;">
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal;" mce_style="line-height: normal;">Gaya hidup anak saat ini mulai mengkhawatirkan para ahli kesehatan. Pulang sekolah biasanya mereka akan duduk di depan TV, main internet, atau bermain <em>video games</em>. Saat diajak makan di pusat perbelanjaan, biasanya mereka akan memilih makanan cepat saji. Pizza, burger, dan makanan berkalori (sangat) tinggi lainnya &#8220;didorong&#8221; ke dalam perut dengan bantuan soda yang memiliki kadar gula juga (sangat) tinggi. Makanya, di Amerika Serikat sendiri, jumlah anak yang mengalami  <em>overweight</em> melonjak sebanyak 20%.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal;" mce_style="line-height: normal;">Gaya hidup tersebut, yang kini mulai diadopsi oleh anak Indonesia, memang meningkatkan resiko anak untuk terkena diabetes, kolesterol tinggi, bahkan penyumbatan pembuluh darah yang bisa menyebabkan serangan jantung. Sayangnya, banyak orang tua yang mengabaikan masalah ini karena prinsip, &#8216;tidak apa-apa kalau anak gendut. Kan masih kecil.&#8217;</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal;" mce_style="line-height: normal;">Justru ini adalah pandangan yang salah. Hetherington dan Parke (1993) menemukan bahwa 86% anak laki laki (dan 80% anak perempuan) yang overweight akan menjadi orang dewasa yang overweight.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal;" mce_style="line-height: normal;">Tubuh manusia memang diciptakan untuk rentan terhadap kegemukan. Para ahli psikologi evolusionis mengatakan bahwa ini adalah warisan dari evolusi. Pada jaman dahulu, sumber daya makanan terbatas. Sehingga, untuk memperbesar kemungkinan <em>survive</em>, manusia menurunkan sifat kepada penerusnya untuk sebanyak-banyaknya menimbun makanan dalam tubuh. Sehingga, jika terjadi wabah kelaparan, kita bisa mengambil cadangan makanan dari tubuh kita.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal;" mce_style="line-height: normal;">Sayangnya, saat ini ketika sumber daya makanan sudah melimpah, badan kita &#8220;ketinggalan jaman&#8221;. Otak masih terus menyuruh otak untuk menimbun kalori, lemak, dan protein dengan memberikan zat kimia yang memberikan kenikmatan (<em>dopamine</em>) apabila kita melahap makanan, walau pun kita sudah kenyang.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal;" mce_style="line-height: normal;">Maka, kunci untuk melindungi anak dari bahaya kegemukan berada di tangan orang tua sendiri. Ahli kesehatan menyarankan orang tua atau para pengasuh untuk memperketat gaya hidup anak untuk menyelamatkan anak dari bahaya penyakit jantung.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal;" mce_style="line-height: normal;">Beberapa tips dari para ahli kesehatan anak yang dapat Anda terapkan pada anak Anda adalah:</p>
<ul>
<li>Anak tak boleh hanya memakan makanan yang tinggi kalori. Mereka harus belajar untuk makan berbagai jenis makanan, khususnya buah dan sayuran. Anak juga harus belajar memilih roti dengan gandum-utuh yang lebih banyak serat daripada roti biasa. Anak juga harus diajarkan memakan ikan, ayam, dan daging yang diproses dengan lebih sehat, dan bukan hanya digoreng di dalam minyak yang meningkatkan jumlah kolesterol.</li>
</ul>
<ul>
<li>Penurunan jumlah makanan yang bersifat kolesterol tinggi harus dimulai sejak anak berumur 2 tahun. Jangan karena anak susah makan makanan sehat, lalu orang tua terburu-buru untuk memberi makanan cepat saji yang membuat anak lahap makan karena diiming-imingi mainan.</li>
</ul>
<ul>
<li>Mulailah kurangi jumlah garam dan gula yang dikonsumsi anak. Masakan Indonesia memang terlalu &#8220;berasa&#8221; karena banyak mengandung garam. Ada baiknya kalau jumlah garam pada masakan dikurangi. Minumah yang banyak mengandung gula adalah soda. Ajarkan anak untuk mencoba menikmati jus.</li>
</ul>
<ul>
<li>Anak harus berolahraga setidaknya satu jam dalam sehari. Tapi, jangan mengharapkan anak untuk segera mau disuruh berolahraga. Ajak anak berolahraga setahap demi setahap, dan berikan hadiah jika mereka konsisten melakukannya.</li>
</ul>
<ul>
<li>Menonton televisi dan main video games harus dikurangi. Jumlah waktu yang baik untuk dua kegiatan ini adalah 2 jam/hari. Turunkan jumlah waktu menonton dan main video game anak sedikit demi sedikit.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal;" mce_style="line-height: normal;">Mengubah gaya hidup anak memang tidak mudah. Tetapi dengan kerja sama dari orang-orang di sekitar anak dan memberi pengertian pada anak, hal tersebut bukan tidak mungkin untuk dilakukan. Percayalah, mengubah kebiasaan pada saat anak masih berusia muda lebih mudah dibandingkan saat anak sudah menjadi orang dewasa yang kelebihan berat badan dan beresiko terkena penyakit jantung.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal;" mce_style="line-height: normal;">
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal;" mce_style="line-height: normal;">Sumber:</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal;" mce_style="line-height: normal;">www.ripiu.com</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal;" mce_style="line-height: normal;">Hetherington, E.M., &amp; Parke, R.D. (1993). Child Psychology: A Contemporary Viewpoint (4th ed.). New York: McGraw-Hill Inc.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal;" mce_style="line-height: normal;">Reader&#8217;s Digest (2004). 2004 Medical Breakthroughs. New York: The Reader&#8217;s Digest Association Inc.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal;" mce_style="line-height: normal;">
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal;" mce_style="line-height: normal;">Sumber foto: http://www.flickr.com/photos/11375782@N05/2249215992/</p>
<p class="MsoNorma--> </p>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fpola-hidup-anak&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/pola-hidup-anak/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

