<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>RuangPsikologi.Com &#187; Nia Janiar</title>
	<atom:link href="http://ruangpsikologi.com/author/mynameisnia/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ruangpsikologi.com</link>
	<description>Webzine Psikologi Modern</description>
	<pubDate>Fri, 11 May 2012 03:33:31 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bohong, Bohong, dan Bohong!</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/bohong-bohong-dan-bohong</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/bohong-bohong-dan-bohong#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Sep 2011 15:26:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nia Janiar</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi Umum & Eksperimen]]></category>

		<category><![CDATA[bohong]]></category>

		<category><![CDATA[white lies]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=1700</guid>
		<description><![CDATA[Berbohong adalah aktivitas yang biasa ditemukan dalam keseharian. Namun aktivitas yang sangat dekat ini jarang dilakukan penelitian. Hingga Bella DePaulo, Ph.D., menemukan fakta-fakta menarik tentang berbohong.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1703" title="bohon" src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2011/09/bohon-150x150.jpg" alt="bohon" width="150" height="150" />Sudahkah Anda berbohong hari ini? Saya sudah. Saya sudah berbohong bahwa tentang alasan datang terlambat kepada seorang teman. Kemarin saya juga berbohong, walaupun sedikit. Kebohongan dilakukan oleh seorang individu yang sudah masuk dalam keseharian itu dinyatakan oleh Leonard Saxe, Ph.D., seorang profesor di Psikologi Universitas Brandeis mengatakan, &#8220;Berbohong sudah lama menjadi bagian dalam hidup. Kita tidak dapat melewati hari tanpa menipu seseorang.&#8221;</p>
<p>Jauh menjadi diri dewasa kita sekarang, seorang individu sudah berbohong semenjak umur tiga tahun. Anak-anak berbohong agar mereka dapat menghindari hukuman. Alasan individu berbohong adalah untuk melindungi diri sendiri dan menutupi kesalahan yang diperbuat. Selain itu, anak-anak juga diajarkan untuk berbohong oleh orang dewasa di sekitarnya seperti ‘Bilang Ayah tidak ada di rumah’ dan juga anak diajarkan berbohong untuk menjaga perasaan orang lain, misalnya ‘Bilang ke Tante Nina kalau kuenya enak.’ Fenomena ini biasa disebut white lies.</p>
<p>Namun fenomena keseharian ini jarang dikaji oleh para psikolog. Freud sendiri hanya menulis secara singkat sekali di buku <em>Encyclopedia of Psychology</em> (1984) yang jumlah halamannya sebanyak 1500 tentang aktivitas menipu ini. Tapi bagi para psikolog yang memperdalam tentang berbohong, mereka menemukan bahwa berbohong adalah sebuah fenomena yang umum sekaligus rumit.</p>
<p>Seorang psikolog di Universitas Virginia, Bella DePaulo, Ph.D., mengkonfirmasi pernyataan Nietzsche bahwa bohong adalah sebuah kondisi dalam hidup. Dalam penelitian tahun 1996, DePaulo dan rekan mengambil data dari 147 orang dengan rentang umur 18 hingga 71 tahun yang memiliki buku harian tentang kebohongan yang mereka ucapkan setiap minggu.</p>
<p>Dalam sebuah hubungan, kebohongannya tentu terjadi. Kebohongan terjadi satu dari dua percakapan antara hubungan remaja dan orang tua. Dalam hubungan romantis, 85% pasangan yang diwawancara pada penelitian tahun 1990 dilaporkan bahwa satu atau sepasang kekasih telah berbohong tentang hubungan masa lalu. Sedangkan dalam hubungan pernikahan, pasutri hanya berbohong sekitar 10% dari pembicaraan utama. Namun 10% itu hanyalah kebohongan-kebohongan kecil karena kebohongan besarnya melibatkan pengkhianatan yang dalam, yang terjadi secara luas di antara dua orang yang terlibat hubungan intim. “Kamu menyimpan kebohongan terbesarmu,” ujar DePaulo, “untuk orang yang sangat dekat denganmu.”</p>
<p>Penelitian menemukan bahwa semakin individu dengan seseorang, maka kebohongan yang disampaikan sifatnya lebih altruistik atau mengutamakan kepentingan orang lain. Ini banyak terjadi di perempuan. Meskipun semua jenis kelamin berbohong dalam frekuensi yang sama, namun perempuan berbohong dengan maksud untuk melindungi perasaan seseorang. Sementara itu laki-laki cenderung berbohong tentang dirinya—tipikal percakapan diantara dua orang laki-laki mengandung delapan kali kebohongan yang sifatnya berorientasi terhadap diri.</p>
<p>Lalu siapa yang suka berbohong? Menurut <em>Journal of Personality and Social Psychology</em>, DePaulo dan  Deborah A. Kashy, Ph.D., melaporkan bahwa para pembohong cenderung manipulatif. Penelitian lainnya menunjukkan bahwa orang-orang yang ekstrovert atau yang lebih suka bersosialisasi lebih cenderung berbohong, dan beberapa trait kepribadian dan fisik—terutama kepercayaan diri dan keadaan fisik yang lebih atraktif—dihubungkan dengan kemampuan individu berbohong saat berada di bawah tekanan.</p>
<p>Apakah kebohongan dapat dideteksi? Jawabannya, bisa. Geoffrey C. Bunn, Ph.D., seorang psikolog dan sejarahwan poligraf di Canada&#8217;s York University menyebutkan bahwa <em>lie detector</em> dinyatakan bukan instrumen ilmiah atau hanya sebuah instrumen hiburan saja. Alat itu mendeteksi ketakutan, bukan kebohongan. Beberapa penelitian mengatakan bahwa kebohongan dalam dideteksi dengan cara keragu-raguan dalam berbicara atau ada perubahan nada pada suara, mengenal beberapa kebiasaan <em>nervous </em>seperti menggaruk, mengedip, atau gelisah. Selain itu juga ada pola yang bisa diprediksi dari seseorang yang sedang berbohong misalnya pembohong jarang menggunakan kata ganti pertama ‘saya’ dalam menulis atau berbicara. Mereka juga sering menggunakan kata-kata yang emosional seperti sakit atau marah, kata-kata kognitif seperti mengerti atau memahami.</p>
<p>Orang-orang berbohong dengan alasan yang berbeda. Semua orang melakukannya. Beberapa orang frekuensi berbohongnya lebih banyak dari orang lain. Dan karena begitu terkaitnya dengan kehidupan keseharian, bohong hanya menjadi sifat lain dalam diri manusia saja. (Nia Janiar)</p>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fbohong-bohong-dan-bohong&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/bohong-bohong-dan-bohong/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sindrom Stockholm: Bertahan di Hubungan Yang Penuh Kekerasan</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/sindrom-stockholm-bertahan-di-hubungan-yang-penuh-kekerasan</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/sindrom-stockholm-bertahan-di-hubungan-yang-penuh-kekerasan#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jun 2011 13:56:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nia Janiar</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi Umum & Eksperimen]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi perkembangan]]></category>

		<category><![CDATA[hubungan romantis]]></category>

		<category><![CDATA[kekerasan]]></category>

		<category><![CDATA[Sindrom Stockholm]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=1614</guid>
		<description><![CDATA[Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana korban kekerasan dalam sebuah hubungan interpersonal atau romantis masih bisa mencintai, mendukung, dan bahkan membela pelaku kekerasan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1616" title="images" src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2011/06/images-150x150.jpg" alt="images" width="150" height="150" /></p>
<p>Seberapa sering Anda mendengar adanya kekerasan dalam hubungan romantis seperti hubungan pacaran atau hubungan rumah tangga namun korban masih bertahan di dalamnya? Pernahkah Anda mencoba membantu korban untuk keluar dari situasi tersebut namun ia marah, menolak, dan malah memutuskan hubungan dengan Anda? Kondisi psikologis dimana korban merasa simpati pada pelaku kekerasan (<em>abuser</em>) atau pelaku yang memegang kendali utama (<em>controller</em>) dalam sebuah hubungan, bahkan mencintai, mendukung, dan membela pelaku, bernama Sindrom Stockholm.</p>
<p>Asal mula kata Sindrom Stockholm ini berasal pada tanggal 23 Agustus 1973 dimana dua orang bersenjata mesin memasuki sebuah bank di Stockholm. Sambil mengacungkan senjata, salah satu penjahat yang baru keluar dari penjara—Jan-Erik Olsson meneriakkan, “Pesta sudah dimulai!” Dua pembobol bank itu menyandera empat korban (tiga perempuan dan satu laki-laki) yang diikat bom pada tubuhnya.</p>
<p>Setelah diselamatkan, para korban menunjukkan sikap yang berbeda setelah diancam, disiksa, atau ditakut-takuti selama lima hari. Dalam media, mereka menunjukkan bahwa mereka mendukung para penyandera dan takut kepada para polisi yang menolong mereka. Korban mulai merasa bahwa sebenarnya penyandera mau melindungi mereka dari polisi. Bahkan salah satu dari perempuan itu bertunangan dengan salah satu penyandera. Di sini terlihat jelas bahwa korban telah menjalin ikatan emosional dengan penyanderanya. Seperti yang ditulis di atas, kondisi psikologis dimana korban merasa simpati terhadap penyandera/penyiksa itu bernama Sindrom Stockholm. Keterikatan emosional dengan pelaku adalah strategi untuk bertahan dari kekerasan dan intimidasi.</p>
<p>Sindrom Stockholm bisa ditemukan di keluarga, hubungan interpersonal, dan hubungan romantis. Pelakunya bisa suami atau istri, pacar, ayah atau ibu, atau siapapun yang berperan sebagai pelaku kekerasan (<em>abuser</em>) dan memiliki posisi otoriter dan mengendalikan situasi (<em>controller</em>).</p>
<p>Setiap sindrom memilih simptom-simptom atau gejala-gejala, termasuk juga sindrom ini. Simptom-simptomnya Sindrom Stockholm adalah:</p>
<p>a.<span> </span>Korban memiliki perasaan positif terhadap pelaku</p>
<p>b.<span> </span>Memiliki perasaan negatif terhadap keluarga atau teman yang mencoba menolongnya</p>
<p>c.<span> </span>Mendukung alasan atau perilaku pelaku</p>
<p>d.<span> </span>Korban berperilaku positif yang mendukung pelaku</p>
<p>e.<span> </span>Ketidakmampuan membebaskan diri sendiri dari situasi</p>
<p>Telah ditemukan empat situasi atau kondisi yang mengembangkan sindrom Stockholm ini:</p>
<p>1.<span> </span>Hadirnya ancaman bagi keberlangsungan hidup seseorang (secara fisik dan psikologis) dan terdapat keyakinan bahwa pelaku akan melaksanakan ancaman.</p>
<p>Dalam hubungan, pelaku mengancam bahwa korban tidak akan pernah bisa meninggalkannya atau mendapatkan pasangan baru. Jika korban memutuskan untuk pergi, maka pelaku akan mengingatkan korban bahwa orang-orang di masa lalunya (pelaku) yang tidak mau mengikuti keinginannya telah mendapatkan ganjaran yang setimpal. Selain itu ada ancaman bahwa mereka telah melakukan balas dendam terhadap korban-korban yang telah meninggalkannya di masa lalu. Cerita pembalasan dendam ini untuk mengingatkan korban bahwa pembalasan dendam akan terjadi jika mereka pergi.</p>
<p>2.<span> </span>Ada persepsi kebaikan kecil yang ditunjukkan pelaku.</p>
<p>Dalam situasi yang penuh intimidasi dan ancaman, korban melihat sebuah harapan ketika mereka melihat ada tanda-tanda kecil bahwa situasi akan berkembang lebih baik. Ketika pelaku menunjukkan kebaikan kecil, meskipun ada manfaat untuk pelaku itu sendiri, korban menginterpretasi bahwa kebaikan tersebut merupakan sifat baik dari pelaku. Contoh kebaikan kecil dalam hubungan pacaran adalah memberikan kado, memberikan sms manis, dan lainnya. Biasanya kebaikan kecil ini diberikan setelah periode kekerasan terjadi atau bentuk perlakuan khusus agar diinterpretasikan bahwa pelaku tidak sepenuhnya jahat dan mungkin untuk beberapa waktu membenarkan perilakunya.</p>
<p>Hal yang sama dengan persepsi kebaikan kecil yang ditunjukkan adalah persepsi adanya sisi lembut dari pelaku. Selama hubungan, pelaku bercerita tentang masa lalunya—bagaimana mereka diperlakukan salah, disiksa, dihiraukan, atau disalahkan. Korban mulai merasa bahwa pelaku dapat memperbaiki perilaku buruk mereka dan mulai merasa mereka (pelaku) adalah seorang “korban” juga. Di sini simpati terhadap pelaku berkembang dan korban yang mengalami Sindrom Stockholm ini membela pelaku dengan mengucapkan, “Saya tahu ia telah mematahkan rahang atau rusuk saya .. tapi dia dalam masalah. Dia memiliki masa lalu yang tidak baik!” Setelah menyiksa korban, pelaku biasanya mengakui bahwa mereka membutuhkan bantuan psikolog/psikiater dan mengakui bahwa mereka memiliki gangguan mental. Simpati yang korban berikan tidak membawa perubahan pada perilaku mereka. Kenyataannya, itu malah memperpanjang waktu korban untuk disiksa. Sementara “kisah sedih” selalu dimasukkan dalam permintaan maaf mereka—setelah event penyiksaan—perilaku mereka tidak akan berubah.</p>
<p>3.<span> </span>Isolasi  perspektif lain selain pelaku.</p>
<p>Dalam hubungan yang penuh dengan kekerasan dan pengendalian, korban merasa bahwa mereka berjalan di atas telur – takut dalam berkata dan bertindak yang mungkin dapat memunculkan aksi kekerasan/intimidasi. Agar bisa bertahan, korban mulai melihat dunia melalui perspektif pelaku. Mereka mulai memperbaiki hal-hal yang dapat memunculkan aksi kekerasan/intimidasi, bertindak hal-hal yang dapat membuat si pelaku bahagia, menjauhi aspek-aspek dari kehidupan mereka yang memunculkan masalah. Korban menjadi berusaha memenuhi kebutuhan, hasrat, dan kebiasaan si pelaku.</p>
<p>Melihat dunia berdasarkan perspektif pelaku sebagai teknik untuk bertahan yang secara intens dilakukan oleh korban dapat mengembangkan kemarahan kepada orang-orang yang mencoba menolongnya. Pelaku akan marah kepada semua orang yang memberikan dukungan pada korban sehingga pelaku akan melakukan berbagai metode dan manipulasi untuk mengisolasi korban dari lingkungannya. Contohnya jika korban berhubungan dengan keluarganya dan membuat pelaku tidak suka, korban akan takut bahwa berhubungan dengan keluarga akan menambah penyebab kekerasan yang terjadi. Maka korban akan memutuskan komunikasi dengan keluarga. Korban akan melihat bahwa keluarga menjadi penyebab masalah dan harus dihindari.</p>
<p>4.<span> </span>Ketidakmampuan lari dari situasi.</p>
<p>Dalam kasus perampokan sebuah bank, dimana korban diancam dengan senjata, mudah untuk dimengerti bahwa korban tidak mampu lari dari situasi. Dalam hubungan yang romantis, kepercayaan bahwa tidak mampu lari dari situasi juga sangat umum. Banyak hubungan yang penuh kendali dan kekerasan yang terkunci bersama oleh masalah finansial yang saling menguntungkan, situasi legal seperti pernikahan, dan lainnya. Pada remaja dan dewasa muda, korban tertarik dengan individu yang dapat mengendalikan keadaan karena korban merasa dirinya tidak berpengalaman, tidak aman, dan kewalahan dengan perubahan yang terjadi pada hidupnya sehingga membutuhkan orang yang bisa mengendalikan untuk menstabilkan hidupnya.</p>
<p>Sindrom Stockholm ini bukanlah hal yang jarang dalam sebuah hubungan. Sindrom ini menciptakan hubungan yang tidak sehat antara keduanya. Ini menjadi alasan mengapa korban terus mendukung pelaku setelah hubungan berakhir. Mereka terus melihat “sisi baik” dari pelaku dan muncul simpati kepada seseorang yang melakukan kekerasan secara fisik dan psikis kepada mereka. (Nia Janiar)</p>
<p>Daftar pustaka:</p>
<p>Carver, Joseph M. Love and Stockholm Syndrome: The Mystery of Loving an Abuser.</p>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fsindrom-stockholm-bertahan-di-hubungan-yang-penuh-kekerasan&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/sindrom-stockholm-bertahan-di-hubungan-yang-penuh-kekerasan/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Asal Usul Preferensi Warna Yang Dimiliki Manusia</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/asal-usul-preferensi-warna-yang-dimiliki-manusia</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/asal-usul-preferensi-warna-yang-dimiliki-manusia#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Apr 2011 14:28:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nia Janiar</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi Umum & Eksperimen]]></category>

		<category><![CDATA[psikologi warna]]></category>

		<category><![CDATA[warna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=1600</guid>
		<description><![CDATA[Warna ditemukan oleh Sir Isaac Newton pada tahun 1666 ketika ia melihat cahaya melewati sebuah prisma dan menghasilkan warna-warna yang berbeda. Dari beragamnya warna, individu memilih satu atau beberapa warna sebagai warna kesukaan. Ternyata pengalaman-pengalaman positif dan negatif mendasari manusia dalam memilih dan menggemari suatu warna. Untuk melihat bagaimana keterkaitannya, simak artikel berikut ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1601" title="crowded_crayon_colors3" src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2011/04/crowded_crayon_colors3-150x150.jpg" alt="crowded_crayon_colors3" width="150" height="150" />Di sebuah <em>showroom </em>mobil, terpajang beragam jenis mobil dengan berbagai warna. Bahkan ada juga mobil yang harganya tergantung dengan warna mobil tersebut padahal fungsinya sama saja. Selain mobil, dalam membeli sesuatu pun pilihan-pilihan manusia terpengaruh oleh warna misalnya pakaian, cat untuk kamar, <em>handphone</em>, dan lain-lainnya. Bahkan jika sudah terpatok pada suatu warna tertentu, barang-barang yang lain berwarna seragam. Tapi dari manakah datangnya preferensi warna yang dimiliki manusia?</p>
<p>Dua orang psikolog, Stephen Palmer dan Karen Schloss dari UC Berkeley, menerapkan sudut pandang “tidak ada yang masuk akal di dunia biologi kecuali teori evolusi” yang dikemukakan oleh Theodosius Dobzhansky pada tahun 1973. Mereka menguji teori bahwa preferensi warna manusia itu adaptif. Maksudnya adalah manusia lebih cenderung bertahan hidup dan bereproduksi berhasil jika mereka tertarik pada objek dengan warna yang &#8220;terlihat baik&#8221; untuk mereka dan mereka akan menghindari objek dengan warna yang &#8220;tampak buruk &#8220;untuk mereka. Ide utamanya adalah semakin banyak umpan balik berdasarkan pengalaman ketika seseorang menerima warna tertentu yang berhubungan dengan pengalaman positif, semakin banyak individu akan cenderung menyukai warna itu. Misalnya jika manusia memiliki pengalaman-pengalaman positif dengan warna hijau karena melihat pohon teh laksana permadani, pohon yang meneduhkan, maka manusia itu akan cenderung menyukai warna hijau.</p>
<p>Stephen Palmer dan Karen Schloss melakukan penelitian yang hasilnya menyatakan bahwa secara umum, manusia menyukai warna cerah misalnya langit cerah dan air bersih (misalnya biru) dan tidak menyukai warna yang berhubungan dengan pengalaman negatif (misalnya cokelat yang berhubungan dengan makanan membusuk atau kotoran). Merah terang, biru, dan hijau, adalah warna yang paling banyak disukai.</p>
<p>Perbedaan warna yang digemari manusia menjadi berbeda karena setiap individu memiliki pengalaman yang berbeda-beda mengenai sebuah warna. Mungkin saya menyukai warna ungu karena mengingatkan pada dinding kamar ketika saya masih kecil dan banyak kenangan yang indah di dalamnya, atau mungkin Anda menyukai warna kuning karena mengingatkan pada optimisme sinar matahari di pagi hari.</p>
<p>Preferensi ini dikuatkan oleh industri makanan dengan menciptakan perwarna makanan. Contoh kecilnya ada di sekitar kita yaitu di pedagang buah. Seseorang enggan melihat semangka yang tidak merah atau mangga yang tidak kuning, oleh karenanya buah-buahan itu dicelup ke perwarna, selain agar penjualannya meningkat, tetapi juga untuk memenuhi preferensi manusia. (Nia Janiar)</p>
<p><strong>Sumber:</strong></p>
<p>Fields, Douglas R. (2011, 1 April). Psychology Today:  Why We Prefer Certain Colors. Psychology Today [Online]. Tersedia:  http://www.psychologytoday.com/blog/the-new-brain/201104/why-we-prefer-certain-colors</p>
<div></div>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fasal-usul-preferensi-warna-yang-dimiliki-manusia&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/asal-usul-preferensi-warna-yang-dimiliki-manusia/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Lucid Dream</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/lucid-dream</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/lucid-dream#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Feb 2011 11:41:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nia Janiar</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi klinis]]></category>

		<category><![CDATA[lucid dream]]></category>

		<category><![CDATA[mimpi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=1407</guid>
		<description><![CDATA[Pandangan bahwa mimpi adalah pengalaman mental yang pasif dan terjadi begitu saja sepertinya harus diubah karena beberapa individu pernah mengalami lucid dream: kondisi sadar di dalam mimpi bahwa ia sedang bermimpi. Adanya teknik tertentu agar individu bisa mengalami lucid dream membuat mimpi tidak hanya menjadi aktivitas mental yang menceritakan sesuatu secara sepihak karena kini individu bisa berpetualang di dalamnya. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1408" title="yerka_450" src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2011/02/yerka_450-150x150.jpg" alt="yerka_450" width="150" height="150" />Pada tahun 2010, bioskop Indonesia sempat dihadiri oleh film karya Christoper Nolan yang berjudul <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Inception_(film)"><em>Inception</em></a>. Singkatnya, film ini bercerita tentang Dom Cobb yang mencoba mengambil informasi dengan cara masuk ke dalam alam mimpi dan menginsepsi pikiran korbannya. Untuk bisa masuk dan menginsepsi, tentunya Dom Cobb harus sadar ia bermimpi. Tapi apakah betul manusia bisa sadar saat ia sedang bermimpi?</p>
<p>Dalam psikologi, nyatanya ada beberapa individu yang menyadari bahwa ia tahu ia sedang bermimpi. Aktivitas mental seperti ini dinamakan lucid dream. Lucid dream dapat terjadi melalui dua cara:<em> dream-initiated lucid dream</em> (DILD) yaitu saat manusia mengalami mimpi seperti biasa kemudian ia menyadari bahwa ia sedang bermimpi dan <em>wake-initiated lucid dream</em> (WILD) yaitu manusia sadar ia bermimpi semenjak ia dalam fase bangun hingga di alam mimpi. <em>Inception </em>adalah contoh dari WILD ini.</p>
<p>Konsep yang dikemukakan Frederik van Eden tentang individu mengontrol mimpi tersebut memang bertolak belakang dengan pandangan umum. Selama ini, penelitian menunjukan bahwa mimpi merupakan sebuah pengalaman mental orang yang sedang tidur yang terjadi begitu saja dan tanpa tujuan (Domhooff, 1996). Mimpi dilihat sebagai hal yang misterius, pasif, dan aktivitas mental yang diproduksi oleh bagian otak yang mengatur tentang tidur (Flanaga, 2000; Hobson, 2002; Windt &amp; Metzinger, 2007). Selain itu, para pemimpi dilihat memiliki kemampuan yang sangat kecil bahkan tidak ada sama sekali untuk mengendalikan kejadian-kejadian yang terjadi saat mimpi. Hobson’s (2002) menjelaskan—“secara normal kita kehilangan … kesadaran merefleksi diri; kita tidak sadar dimana kita berada; kita tidak dapat mengendalikan pikiran-pikiran kita; dan kita tidak bisa melakukan penilaian kritis” (hal 141)— secara eksplisit mengasumsikan bahwa sebagai besar orang dewasa mengalami pengalaman mimpi tanpa sadar bermimpi tersebut. Maka, eksistensi lucid dream, adalah dimana individu sadar bahwa ia sedang bermimpi dan mampu mengendalikan tindakan di dalam mimpi.</p>
<p>Dalam penelitian yang dilakukan oleh Schredl dan Erlacher (2004) ditemukan bahwa 82% dari partisipan pernah mengalami lucid dream setidaknya satu kali seumur hidup dan hampir 37% dilaporkan mengalami lucid dream setidaknya satu bulan satu kali. Individu yang memiliki keterlibatan lebih tinggi terhadap teknologi (seperti <em>video games</em>) dikatakan lebih sering mengalami lucid dreams dibanding individu lain (Gackenback, 2006, 2009). Lucid dream juga lebih sering dialami pada dewasa muda, sebagaimana pengalaman banyak dewasa muda yang dapat dengan mudah menghubungkan beberapa pengalaman sadar yang dikendalikan pada saat terbangun.</p>
<p>Individu yang berada pada tahap perkembangan dewasa muda, terutama wanita lebih mempercayai kemungkinan mengendalikan mimpi (Woolley &amp; Boerger, 2002) . Lalu penelitian selanjutnya setelah Woolley dan Boerger menemukan adanya hubungan gender, pengalaman mimpi, kepercayaan tentang mimpi, dan struktur batas. Sekitar 165 mahasiswa (68 perempuan) mengisi kuesioner <em>Control of Dreams Questionnaire </em>dan <em>Dream Experiences Interview</em>-nya Wolley dan Boerger dan ditemukan bahwa  sekitar 94% responden berusaha untuk mengendalikan mimpinya, 70% responden menjelaskan setidaknya ada satu yang episode mimpi yang berhasil kontrol, dan 80% yakin bahwa orang lain dapat mengendalikan mimpinya dalam situasi tertentu. Perempuan dilaporkan memiliki keberhasilan mengendalikan mimpi daripada laki-laki.</p>
<p>Lucid dream ini dijadikan <em>treatment </em>untuk mengurangi mimpi buruk. Dalam penelitian Antonio L. Zadra tahun 1997 dilakukan dalam 5 studi kasus. Penelitian yang berlangsung selama satu tahun ini menunjukkan bahwa 4 orang sudah tidak mengalami mimpi buruk dan 1 orang mengalami penurunan intensitas dan frekuensi mimpi buruk. Hasil ini mendukung ide bahhwa treatment menggunakan lucid dream ini dapat menjadi dasar dari terapetik.</p>
<p>Ada sebuah teknik mudah dari beragam teknik agar individu bisa mengalami lucid dream yaitu teknik <em>Stephen LaBerge’s Mnemonic Induction of Lucid Dreaming</em> (MILD).</p>
<p>a.<span> </span>Pasang alarm Anda untuk membangunkan 4.5, 6, atau 7.5 jam setelah tidur</p>
<p>b.<span> </span>Ketika Anda terbangun karena alarm, cobalah untuk mengingat mimpi yang telah Anda lalui sebanyak mungkin</p>
<p>c.<span> </span>Ketika Anda berpikir bahwa Anda dapat mengingat banyak, kembali ke tempat istirahat, imajinasikan Anda berada di mimpi sebelumnya dan menjadi sadar (<em>aware</em>) terhadap apa yang sedang dimimpikan. Bilang kepada diri Anda, “Saya akan sadar ketika saya bermimpi,” atau hal-hal lainnya. Lakukan hal ini hingga Anda hingga Anda benar-benar tenggelam di dalamnya lalu pergi tidur</p>
<p>d.<span> </span>Jika ada pemikiran-pemikiran yang secara acak keluar ketika Anda mencoba untuk tidur, ulangi berimajinasi, beri sugesti pada diri, dan cobalah terus menerus. Jangan khawatir jika Anda memerlukan waktu yang lama untuk ini. Semakin lama waktu yang dibutuhkan, maka Anda akan jatuh tenggelam di dalamnya dan Anda akan merasakan lucid dream.</p>
<p>Selamat berpetualang di dunia mimpi!</p>
<p>(Nia Janiar)</p>
<p>Sumber:</p>
<p>Boerger, Elizabeth A., 2009. Associations among boundary structure, gender, and beliefs about control of dreams. Dreaming, Vol 19(3), Sep, 2009. pp. 172-186. US: Educational Publishing Foundation</p>
<p>Zadra, Antonio L. 1997. Lucid Dreaming as a Treatment For Recurrent Nightmares. Psychotherapy and Psychosomatics, Vol 66(1), Jan-Feb, 1997. pp. 50-55. Switzerland: Karger</p>
<p>Gambar diambil dari: <a href="http://www.yerkaland.com/">http://www.yerkaland.com/</a></p>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Flucid-dream&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/lucid-dream/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Identitas Gender: Androgini</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/identitas-gender-androgini</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/identitas-gender-androgini#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Jan 2011 12:09:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nia Janiar</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi sosial]]></category>

		<category><![CDATA[androgini]]></category>

		<category><![CDATA[gender]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=1384</guid>
		<description><![CDATA[Adam Lambert, Prince, David Bowie, adalah contoh-contoh besarnya. Dengan bedak tebal, alis yang dirapikan layaknya wanita, atau kadang memakai lipstick, mereka merepresentasikan sebuah istilah: androgini. Androgini bukan semata-mata fashion, tetapi ia juga merupakan identitas gender manusia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah melihat seseorang terlihat berwara-wiri di depan umum dengan pakaian yang biasa dipakai dengan lawan jenis? Perempuan berambut pendek dan memakai kemeja atau jas layaknya laki-laki, laki-laki memakai rok layaknya perempuan, tetapi mereka tetap berperilaku sebagaimana jenis kelaminnya. Perempuan berperilaku seperti perempuan, laki-laki berperilaku seperti laki-laki. Adam Lambert, Prince, David Bowie, adalah contoh-contoh besarnya. Dengan bedak tebal, alis yang dirapikan layaknya wanita, atau kadang memakai <em>lipstick</em>, mereka merepresentasikan sebuah istilah: androgini.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-1385" title="adam-lambert" src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2011/01/adam-lambert-150x150.jpg" alt="adam-lambert" width="150" height="150" /> <img class="alignnone size-thumbnail wp-image-1386" title="annie-lennox" src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2011/01/annie-lennox-150x150.jpg" alt="annie-lennox" width="150" height="150" /></p>
<p>Androgini bukan semata-mata fashion, tetapi ia juga merupakan identitas gender manusia.<span> </span></p>
<p><strong>Definisi</strong></p>
<p>Androgini adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Sandra Bem, seorang psikolog Universitas Stanford pada tahun 1974. Pada tahun 1977, ia mengeluarkan sebuah <em>inventory </em>pengukuran gender yang diberi nama The Bem Sex Role Inventory. Berdasarkan respon dari item-item pada <em>inventory</em> ini, individu diklasifikasikan memiliki salah satu dari orientasi peran gender: maskulin, feminin, androgini, dan <em>undifferentiated</em>.</p>
<p>Menurutnya, individu yang feminin adalah seseorang memiliki angka yang tinggi pada sifat feminin dan memiliki angka rendah dari sifat maskulin, individu yang maskulin adalah seseorang yang memiliki angka yang tinggi pada sifat maskulin dan memiliki angka yang rendah pada sifat feminin. Individu androgini adalah laki-laki atau perempuan yang memiliki angka tinggi pada sifat maskulin dan feminin. Individu <em>undifferentiated </em>memiliki angka yang rendah pada sifat maskulin dan femininnya.</p>
<p>Androgini berasal dari bahasa Yunani yang artinya “<em>andros</em>-” berarti laki-laki dan “<em>gyné </em>-“ berarti perempuan. Androgini adalah istilah dalam identitas gender dimana seseorang tidak termasuk dengan jelas ke dalam peran maskulin dan feminin yang ada di masyarakat. Banyak androgini yang diidentifikasi berada di antara laki-laki dan perempuan dan juga disebut tidak memiliki gender.</p>
<p><strong>Peran gender</strong></p>
<p>Berdasarkan Sandra Bem, individu androgini lebih fleksibel dan lebih sehat secara mental daripada individu maskulin atau feminin. Dalam sebuah hubungan, gender feminin dan androgini lebih diinginkan karena mereka lebih ekspresif dalam sebuah hubungan. Sedangkan, individu dengan peran maskulin dan androgini lebih diinginkan dalam bidang akademik dan pekerjaan karena mereka memiliki tuntutan untuk bertindak dan asertif. Sebuah penelitian menemukan bahwa individu dengan peran maskulin dan androgini memiliki harapan lebih untuk bisa mengendalikan hasil dari usaha akademik yang mereka lakukan.</p>
<p>Seperti yang dikatakan Sandra Bem di atas, mereka bisa saja terlihat agresif atau penurut, memaksa atau lembut, sensitif atau asertif. Mereka bertindak sesuai dengan kebutuhan mereka dan sesuai apa yang dibutuhkan dalam sebuah situasi. Biasanya, orang kreatif dan cerdas cenderung androgini karena mereka lebih adaptif. Mereka berperilaku dalam cara yang lebih tepat sesuai dengan situasi yang diberikan. Misalnya, ketika mereka ditempatkan dalam sebuah situasi yang menekan, perempuan androgini lebih asertif dan independen daripada perempuan feminin.</p>
<p><strong>Androgini dan kreativitas</strong></p>
<p>Pada tahun 1980, Weinstein and Bobko menemukan bahwa IQ tidak berkorelasi dengan kreativitas. Lalu apakah yang berkorelasi dengan kreativitas? Androgini. Mengapa? Scott Barry Kaufman memberikan alasan bahwa “Menjadi individu androgini, terutama berada di masyarakat yang memiliki pandangan (<em>stereotype</em>) tertentu terhadap jenis kelamin, harus lebih terbuka pada pengalaman, fleksibel, menerima hal yang bersebrangan, tidak ambil pusing dengan norma-norma sosial, dan mandiri—sebagaimana sifat-sifat yang ada pada orang-orang kreatif.”</p>
<p>Dalam sebuah penelitian tahun 1981, Harrington dan Anderson menemukan bahwa partisipan yang masuk ke dalam kategori maskulin dan androgini memiliki skor yang tinggi pada kreativitas, daripada orang-orang yang ada dalam kategori feminin atau undifferentiated. Selain itu, Ellis Paul Torrance (1963) menunjukkan bahwa laki-laki yang kreatif memiliki karakteristik feminin yang lebih banyak dibandingkan kelompoknya, dan perempuan yang kreatif lebih maskulin dari perempuan lainnya.</p>
<p>Namun perlu dicatat bahwa androgini dan kreativitas tidak berkorelasi secara langsung tapi ada dua konsep yang tertanam yaitu kepribadian dan lingkungan.</p>
<p>Lalu apakah kreativitas hanya dimiliki oleh orang androgini? Tentu tidak. Layaknya kemampuan berpikir yang lain, kreativitas adalah sesuatu yang secara potensial dimiliki oleh setiap orang dan perlu dilatih untuk dikuasai. Selain beberapa ahli menyetujui bahwa kreativitas dapat diajarkan, dan dengan demikian ia dapat dimiliki oleh setiap manusia, meskipun mungkin dalam tingkatan yang berbeda.</p>
<p>Menjadi diri sendiri—tanpa perlu terpatri dengan suatu identitas gender tertentu—dan memaksimalkan seluruh potensi adalah jalan terbaik. (Nia Janiar)</p>
<p>Sumber:</p>
<p><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Androgyny">http://en.wikipedia.org/wiki/Androgyny</a></p>
<p>Gershaw , David A. <em>Homework Help: Social Studies: Psychology: ANDROGYNY: Masculine &amp; Feminine. </em>Artikel dapat diakses di <a href="http://www.jiskha.com/social_studies/psychology/androgyny.html">http://www.jiskha.com/social_studies/psychology/androgyny.html</a></p>
<p>Kaufman, Scott Barry. 2009. <em>From George and Lennox to Gaga and Lambert: Androgyny, Creativity, and Pop Culture.</em> Artikel dapat diakses di <a href="http://www.psychologytoday.com/blog/beautiful-minds/200912/george-and-lennox-gaga-and-lambert-androgyny-creativity-and-pop-culture">http://www.psychologytoday.com/blog/beautiful-minds/200912/george-and-lennox-gaga-and-lambert-androgyny-creativity-and-pop-culture</a></p>
<p>Strough, JoNell. Leszczynski, Jennifer Pickar. Neely, Tara L. Flinn, Jennifer A, Margrett, Jennifer. 2007. <em>From Adolescence to Later Adulthood: Femininity, Masculinty, and Androgyny in Six Age Groups.</em> Springer Science + Business Media</p>
<div></div>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fidentitas-gender-androgini&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/identitas-gender-androgini/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

