<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>RuangPsikologi.Com &#187; Melita Tarisa</title>
	<atom:link href="http://ruangpsikologi.com/author/melita/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ruangpsikologi.com</link>
	<description>Webzine Psikologi Modern</description>
	<pubDate>Fri, 11 May 2012 03:33:31 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Warna-Warni Emosi dalam Musik.</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/warna-warni-emosi-dalam-musik</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/warna-warni-emosi-dalam-musik#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jul 2010 11:29:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Melita Tarisa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi Umum & Eksperimen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=1222</guid>
		<description><![CDATA[Pernah bertanya-tanya kenapa Anda bisa begitu menghayati suatu musik atau lagu? Misalnya, lagu melankolis yang Anda dengarkan ketika sedang patah hati atau lagu yang entah kenapa bisa membuat Anda begitu bersemangat? Nah, pertanyaan itu juga menjadi minat para peneliti yang mendalami teori emosi dalam musik. Ya, musik dapat mempunyai muatan emosi tertentu, tapi "di mana" letak fungsi afektif (emosional) musik itu. Pada musik itu sendiri atau pada pendengarnya? Dengan kata lain, kita bisa mengatakan musik itu mengekspresikan emosi tertentu karena properti inheren dari musik (melodi, tempo, dll) atau karena faktor personal dari pendengar?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2010/07/3761715913_2400b6e87b.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1223" src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2010/07/3761715913_2400b6e87b-300x199.jpg" alt="3761715913_2400b6e87b" width="300" height="199" /></a></p>
<p>Pernah bertanya-tanya kenapa Anda bisa begitu menghayati suatu musik atau lagu? Misalnya, lagu melankolis yang Anda dengarkan ketika sedang patah hati atau lagu yang entah kenapa bisa membuat Anda begitu bersemangat? Nah, pertanyaan itu juga menjadi minat para peneliti yang mendalami teori emosi dalam musik. Ya, musik dapat mempunyai muatan emosi tertentu, tapi &#8220;di mana&#8221; letak fungsi afektif (emosional) musik itu. Pada musik itu sendiri atau pada si pendengarnya? Maksudnya, kita bisa bilang musik itu mengekspresikan emosi tertentu karena properti inheren dari musik (melodi, tempo, dll) atau karena faktor personal dari kita sebagai si pendengar?</p>
<p>Menurut Alf Gabrielsson, seorang ahli di bidang psikologi music, untuk memahami ekspresi emosi dalam musik, kita perlu membedakan antara proses <strong>&#8220;emotion perception&#8221;</strong> dan <strong>&#8220;emotion induction&#8221;</strong>. Maksudnya, <em>seorang pendengar musik dapat saja menangkap ekspresi emosi dari sebuah musik tanpa perlu mengalami emosi itu sendiri</em>. Proses inilah yang dimaksud dengan emotion perception atau persepsi emosi yang terkandung dalam musik. Itu artinya ada nilai &#8220;objektif&#8221; dari fungsi emosional musik, yang membuat kita sebagai pendengar dapat mengenali musik yang bernuansa &#8217;sedih&#8217;, &#8216;gembira&#8217;, &#8216;relaxing&#8217; , dsb. Lebih jauh lagi, saat mendengar sebuah musik, <em>kita dapat &#8216;mengalami&#8217; emosi tertentu. Inilah proses emotion induction, di mana musik membawa kita hanyut dalam emosi tertentu</em>. Seseorang, karenanya, dapat dengan bebas memberikan respon emosi terhadap musik yang didengarnya. Secara gamang, emotion perception dimaksudkan sebagai kerja intelektual (sebatas proses persepsi kognitif) sementara emotion induction melibatkan respon emosional (apa yang dirasakan saat mendengar musik tertentu).</p>
<p>Seorang teman saya yang mempelajari gitar klasik, misalnya, mengakui bahwa dia cukup sering melakukan &#8220;analisa&#8221; saat memainkan sebuah lagu. Pada saat melakukan kerja intektual itu, dia cenderung tidak memberikan respon emosi, tapi lebih menekankan pada pengenalan kunci gitar, ketukan, dan properti music lainnya. Seorang teman lain yang juga mempelajari teknik bermain gitar klasik juga setuju bahwa kalau sedang belajar komposisi gitar lewat audio file, ia akan cenderung &#8220;cuek&#8221; dengan emosi yang ada dalam lagu tersebut. Tapi, mereka dapat memahami muatan emosi yang terkandung dalam musik yang mereka dengar. Misalnya, tempo cepat untuk musik yang riang dan tangga nada minor untuk menyampaikan kesedihan. Sampai di sini, mereka melakukan proses penilaian musik secara intelektual (persepsi emosi). Di lain pihak, mereka memahami bahwa musik bisa juga mencuatkan sisi melankolis mereka (terinduksi emosi). Contohnya, saat mendengar alunan string instruments seperti cello, biola, atau gitar, dari komposisi tertentu.</p>
<p>Di samping itu, perbedaan keduanya akan sangat terlihat ketika kita mencermati hubungan emotion perception dan emotion induction itu sendiri. Tidak secara otomatis penikmat musik akan merasakan emosi sejalan dengan ekspresi emosi yang ditampilkan dalam si musik. Sebagai penggemar Tárrega, kedua teman saya tadi mempunyai persepsi yang berbeda terhadap Lágrima, salah satu karya maestro gitar asal Spanyol tersebut. Lágrima yang mempunyai ciri khas &#8220;lagu sedih&#8221; (percaya atau tidak, ciri-ciri emosi dalam lagu itu mempunyai rumusan tersendiri) dimaknai salah seorang teman saya sebagai lagu yang membuat dia merasa senang, walaupun dia tahu nuansa &#8220;asli&#8221; lagu tersebut. Apalagi kami sama-sama tahu Lágrima berarti air mata. More or less, it shows how we can differ &#8220;knowing the feel of the music&#8221; and &#8220;feeling the music&#8221;.</p>
<p>Jadi, dapat disimpulkan bahwa musik yang ekspresif nilainya ada pada musik itu sendiri (karenanya dapat dilakukan emotion perception) sekaligus pada si pendengar (terkait dengan emotion induction). Yang perlu diperhatikan lagi adalah adanya faktor ketiga : faktor situasional. Bagaimana musik itu dipresentasikan berpengaruh juga dalam urusan emosi ini. Misalnya, coba saja bandingkan sensasi emosional Anda saat mendengar sebuah musik sendu saat sebenarnya Anda sedang merasa senang dan saat Anda sedang meresa sedih. Saya jamin berbeda!</p>
<p>Sumber gambar : http://www.flickr.com/photos/gromaler/3761715913/</p>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fwarna-warni-emosi-dalam-musik&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/warna-warni-emosi-dalam-musik/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ayo Makan, Dek!</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/ayo-makan-dek</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/ayo-makan-dek#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 May 2010 07:38:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Melita Tarisa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi perkembangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=1127</guid>
		<description><![CDATA[Saat jam makan siang bersama di sekolah, Dino (3 tahun) menolak makan meski sudah dibujuk oleh ibu gurunya. Sup telur puyuh yang dibawa dari rumah pun hanya dijadikan mainan oleh Dino. Telur diremas-remas dengan tangan dan kuah pun berceceran di sekitar mangkok. Ibu guru Dino sudah mulai putus asa mengajak Dino makan, hanya sesekali mengingatkan agar Dino tidak memainkan makanan. Dino memang terkenal sulit makan. Hal ini pun dikeluhkan oleh Ibu dan pengasuh Dino di rumah. Namun, bila tiba jam makan kudapan, Dino dengan senang hati melahap biskuit coklat yang dibawakan Ibunya. Ia bahkan tidak perlu diminta dua kali untuk makan makanan tersebut. Apa yang sebenarnya terjadi?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2010/05/childeatinghabit.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1129" src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2010/05/childeatinghabit.jpg" alt="childeatinghabit" width="300" height="303" /></a></p>
<p>Anak-anak seusia Dino, mulai dari usia 2 hingga 4 tahun, memang dikenal sebagai picky eaters atau si pemilih makanan. Ini adalah masalah makan yang lazim ditemukan pada anak. Umumnya, mereka lebih memilih makan makanan yang manis seperti kue, es krim, coklat, permen, dan yang paling banyak mengkhawatirkan orang tua : anak-anak suka sekali makan mie goreng. Sementara itu, orang tua lebih menginginkan anaknya makan makanan yang dikenal menyehatkan seperti sayur hijau, ati ayam, dan nasi. Para ahli gizi pun menganjurkan pemberian menu makan yang bergizi seimbang untuk menunjang tumbuh kembang anak. Gizi seimbang sulit sekali ditemukan dalam jenis makanan yang biasanya disukai anak. Upaya membuat anak mau mengkomsumsi makanan sehat inilah yang biasanya menjadi perjuangan tersendiri saat jam makan anak.</p>
<p>Menurut para ahli perkembangan anak, masalah makan seperti memilih atau bahkan menolak makan pada anak balita terkait dengan perkembangan ketrampilan makannnya. Pada usia 2 hingga 4 tahun, anak sedang berada dalam masa peralihan. Contohnya saja, mereka sedang dibiasakan untuk makan makanan dalam bentuk padat yang membutuhkan proses menguyah dulu sebelum dapat ditelan. Padahal dulu mereka terbiasa dengan makanan cair yang mudah ditelan. Selain itu, anak juga sedang berkembang menjadi pribadi yang lebih sosial. Maka, biasanya anak lebih tertarik pada aspek sosial makan. Misalnya, berbincang dengan teman saat makan bersama atau memainkan makanannya.</p>
<p>Tapi, masalah makan pada anak ini bukannya tidak dapat diatasi kok. Ada dua prinsip utama yang berlaku dalam mengelola masalah makan pada anak balita.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Pertama, berikan makanan sesuai kebutuhan anak.&lt;/b&gt;</span></strong></p>
<p><strong>Susunlah menu yang memenuhi kebutuhan gizi anak dan berikan dalam porsi dan frekuensi yang sesuai dengan anak</strong>. Hindari memberikan porsi yang berlebihan bagi anak. Selain menurunkan motivasi anak untuk makan, nilai gizi yang diberikan tidak lagi seimbang. Jenis zat gizi yang dibutuhkan anak balita serupa dengan kebutuhan orang dewasa, hanya saja porsinya lebih kecil. Misalnya, anak balita cukup mengkonsumsi 1 porsi karbohidrat (senilai setengah mangkok nasi/pasta/sereal), 2 porsi protein (senilai 1 butir telur ayam untuk protein hewani dan setengah mangkok sayur untuk protein nabati) dilengkapi dengan segelas susu dan atau buah dalam sekali makan. Biasakan memberi makan anak 3 kali sehari diselingi 2 kali kudapan (pagi dan sore, selisih 1-2 jam dari makan besar).</p>
<p>O iya, sekedar tips, dalam menyusun menu makan, cobalah untuk lebih variatif untuk membiasakan anak beradaptasi dengan berbagai macam jenis makanan. Silahkan intip beberapa resep di sini http://www.infoanak.com/tag/resep-masakan/</p>
<p><strong><strong><span style="text-decoration: underline;">Prinsip kedua : berikan motivasi untuk makan pada anak dengan menciptakan suasana makan yang menyenangkan.</span></strong></strong></p>
<p>Hindari memaksa anak untuk makan. Hal ini hanya akan membuat anak semakin malas makan, bahkan mungkin ia malah akan menghindari waktu makan. Anda bisa membuat tampilan makanan menarik bagi anak. Hal ini dapat dilakukan dengan <em>memvariasikan warna atau bentuk makanan</em>.</p>
<p>Pengasuh : Loh, Anna tidak mau makan?</p>
<p>Anna : (menggeleng)</p>
<p>Pengasuh : Wah, sayang sekali&#8230;.. Padahal itu kacangnya enak deh, keliatannya. Coba, lucu lagi&#8230; Bentuknya kayak badut (sambil menyusun kacang membentuk wajah orang)</p>
<p>Pengasuh : Liat ini ada matanya, ada hidungnya, ada.. ada mulutnya juga. Hihi. Lagi senyum.</p>
<p>Anna : (mengambil kacang di daerah mata) Matanya ilang.</p>
<p>Pengasuh : Waah.. Matanya hilang. Ada di mana itu ya?</p>
<p>Anna : Di perut Anna. Hehehe. (mengambil lagi kacang di daerah lain lalu dimakan)</p>
<p>Dalam menciptakan suasana yang menyenangkan, <em>dapat diciptakan aktivitas yang menarik bagi anak saat makan</em>. Beberapa pengasuh di tempat penulis pernah bekerja dulu biasanya bermain sulap, di mana anak menyulap makanan hingga hilang dalam mulutnya. Kegiatan ini cukup digemari anak dan dapat memotivasi anak untuk menghabiskan makanannya. Kita juga dapat mengajak anak untuk berimajinasi tentang sebuah cerita saat makan untuk membantu anak berkemauan untuk makan. Trik ini pernah saya coba pada Doni.</p>
<p>Pengasuh : Doni, kok makanannya dimainin? Sayang dong. Doni gak mau makan?</p>
<p>Doni : (menggeleng)</p>
<p>Pengasuh : Waaah, kok gak mau makan. Padahal&#8230; loh, loh (memegang perut Doni).. Ini &#8230; Perutnya Doni katanya minta telur loh&#8230;.</p>
<p>Pengasuh : Coba.. Coba&#8230;. &#8216;Doni, aku mau telur&#8217; katanya. Ayo, Don, kasih!</p>
<p>Doni : Minta telur ya? (melahap telur)</p>
<p>Pengasuh : Wah, wah&#8230;.. Ini ada bunyi telur di perut Doni. Titutitutitutitu&#8230; Waaah&#8230;</p>
<p>Doni : (tertawa)</p>
<p>Pengasuh : Coba kalo nasi bunyinya gimana, Don? Coba, Don?</p>
<p>Doni : (makan nasi)</p>
<p>Hal ini berlanjut hingga Doni mau selesai makan. Selain membantu anak termotivasi untuk menghabiskan makanannya, kita dapat mengajak anak untuk mengembangkan imajinasinya. Apabila kita tau triknya, kegiatan makan pun dapat jadi kegiatan belajar. Kita dapat menginformasikan pada anak kandungan gizi pada makanan yang sedang dimakannya, mengenalkan konsep warna dan bentuk, hingga berhitung. Coba simak yang satu ini.</p>
<p>Pengasuh : Lihat ini, kentangnya ada banyak.</p>
<p>Ita : Kentangnya?</p>
<p>Pengasuh : Iya, lihat. Ada satu, dua, tiga, empat!</p>
<p>Ita : Empat yah.</p>
<p>Pengasuh : Iya. Coba ya&#8230; Bisa berkurang gak ya?</p>
<p>Ita : (makan satu kentang) Coba hitung ada berapa.</p>
<p>Pengasuh : Wah, tadi ada empat, dimakan satu, jadi tinggal&#8230; satu&#8230; dua&#8230;</p>
<p>Ita : Tiga..</p>
<p><strong>Jangan lupa memberikan penghargaan atas prestasi makan anak</strong>. Misalnya, pujilah anak dengan tepuk tangan saat ia bersedia mencoba sayur brokoli untuk pertama kalinya atau saat ia mau menghabiskan porsi makannya. <em>Namun, hindari memberikan iming-iming hadiah pada anak</em>. Apabila anak-anak terbiasa diiming-imingi soal makan, maka akan terbentuk motivasi yang keliru tentang makan. Berhati-hatilah dalam menggunakan kalimat bujukan seperti, &#8220;Nanti kalau makannya habis Ibu kasih hadiah deh.&#8221; Anak bisa jadi belajar bahwa ia harus makan untuk mendapat hadiah ketimbang memahami pentingnya makan bagi dirinya sendiri. Untuk memuji prestasi makan anak, cobalah yang satu ini.</p>
<p>Pengasuh : Wah, hebat. Amir makannya banyak. Dapat tepuk tangan besar.</p>
<p>Pengasuh : Coba, coba, Ibu lihat&#8230; Makannya banyak pasti jadi lebih kuat. Coba dorong [menawarkan tangan untuk didorong]</p>
<p>Amir : (mendorong)</p>
<p>Pengasuh : Wah hebat. Ibu sampai kalah. Pasti ini makannya pinter nih, banyak nih, makanya kuat! Hebat.</p>
<p>Pada dasarnya, dibutuhkan kesabaran dalam menghadapi anak yang sedang berada dalam fase sulit makan. Didukung dengan kegigihan dan ketelatenan, niscaya pelaksanaan prinsip dan tips-tips di atas dapat membantu Anda mengelola masalah makan anak dengan baik. Selamat mencoba! <img src='http://ruangpsikologi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>* Potongan-potongan adegan yang terncantum di atas diambil dari pengalaman penulis selama bekerja di salah satu taman pengembangan anak.</p>
<p></strong></p>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fayo-makan-dek&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/ayo-makan-dek/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Cerdas Kenali Emosi : Ajak Mereka Kenali dan Kendalikan Emosinya Sejak Dini!</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/anak-cerdas-kenali-emosi-ajak-mereka-kenali-dan-kendalikan-emosinya-sejak-dini</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/anak-cerdas-kenali-emosi-ajak-mereka-kenali-dan-kendalikan-emosinya-sejak-dini#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Mar 2010 01:04:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Melita Tarisa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi perkembangan]]></category>

		<category><![CDATA[emosi]]></category>

		<category><![CDATA[psikologi]]></category>

		<category><![CDATA[psikologi anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=1005</guid>
		<description><![CDATA[Ekspresi emosi adalah hal yang harus dipelajari oleh anak. Jika diajarkan semenjak usia dini, anak akan lebih mampu untuk mengendalikan emosi mereka kelak ketika mereka sudah dewasa. Orang tua atau kakak dapat bekerja sama menjalankan latihan-latihan mudah yang ditawarkan artikel ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.apple-style-span 	{mso-style-name:apple-style-span;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"><span class="apple-style-span"><span style="color: #333333;" lang="IN"><a rel="attachment wp-att-1006" href="http://ruangpsikologi.com/anak-cerdas-kenali-emosi-ajak-mereka-kenali-dan-kendalikan-emosinya-sejak-dini/kids-1"><img class="alignleft size-full wp-image-1006" title="kids-1" src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2010/03/kids-1.jpg" alt="kids-1" width="253" height="228" /></a></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: right;">Oleh: Melita Tarisa</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"><span class="apple-style-span"><span style="color: #333333;" lang="IN">Anak-anak adalah seorang petualang yang tekun. Secara teoritis, anak memang sedang memasuki tahap perkembangan di mana ia dituntut untuk mengembangkan inisiatifnya untuk mencoba hal-hal baru (Erikson, dalam Papalia, Olds, dan Feldman, 2007). Pada tahap ini, anak butuh dorongan dari orang dewasa di sekitarnya, baik orang tua, saudara, pengasuh ataupun guru, untuk mengembangkan kemauan dan kemampuannya bereksplorasi terhadap hal-hal baru dalam dunianya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"><span style="color: #333333;" lang="IN"><span class="apple-style-span">Salah satu hal baru yang mereka hadapi adalah ekspresi emosi. Mulai usia dua atau tiga tahun, anak berhadapan dengan beragam stimulus yang menghadirkan variasi emosi yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Misalnya Aji kesal karena diganggu saat bermain, Emil senang saat berjalan-jalan ke Taman Safari bersama Ayah dan Bunda, atau perasaan emosi lainnya, baik yang sederhana maupun yang kompleks. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"><span style="color: #333333;" lang="IN"><span class="apple-style-span">Pola berpikir dan perbendaharaan kata yang terbatas membuat anak kadang kesulitan memahami pergolakan emosi yang terjadi dalam dirinya. Ika menangis menjerit-jerit ketika dititipkan di Tempat Penitipan Anak dan ditinggal Ibunya pergi bekerja. Ia pikir, ia pasti sudah sangat nakal sehingga Ibu pergi meninggalkan dia di sana. Kendati reaksi emosinya begitu kuat, Ika belum dapat mengkomunikasikan kesedihan dan ketakutannya secara jelas dan tepat. Karenanya, penting bagi anak untuk mendapat bimbingan dari orang dewasa dalam mengenali emosi mereka. Selain itu, anak juga perlu dibimbing dalam menyalurkan emosi mereka.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"><span style="color: #333333;" lang="IN"><span class="apple-style-span">Untuk membantu anak mengenali emosi yang dirasakannya, Anda dapat melakukan aktivitas berikut (disarikan dari Papalia, Olds dan Feldman, 2007, dan Martin dan Colbert, 1997).</span></span></p>
<ul>
<li><span style="color: #333333;" lang="IN"><span class="apple-style-span">Bertanya pada anak tentang apa yang dirasakannya saat mengalami berbagai macam kejadian dan bantu anak memberi “label” pada emosi yang dirasakannya</span></span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"><span style="color: #333333;" lang="IN">Contoh:</span><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> <!--[if gte mso 10]><br />
<mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --></p>
<p><!--[endif]--><span class="apple-style-span"><strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"><span class="apple-style-span"><strong><span style="color: #333333;" lang="IN">“Waktu Kakak kasih adik permen, apa yang adik rasain?”</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"><span class="apple-style-span"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;; color: #333333;" lang="IN">(Setelah anak menjawab, jelaskan juga padanya bahwa,) “itu namanya senang.&#8221;</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"><span class="apple-style-span"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;; color: #333333;" lang="IN"><br />
</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;">
<ul>
<li><span class="apple-style-span"><span style="color: #333333;" lang="IN">Rangsang ia melakukan kegiatan-kegiatan tertentu yang dapat merangsang emosi, dan kembali tanya apa yang ia rasakan. Kadang, kita perlu menggunakan pola kalimat yang lebih <em>to the point</em> untuk membantu anak menambah kosakata emosinya.</span></span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"><span style="color: #333333;" lang="IN"><span class="apple-style-span">Contoh:<strong></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"><span style="color: #333333;" lang="IN"><span class="apple-style-span"><strong>“Main petak umpet yuk, dik!”</strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"><span class="apple-style-span"><strong><span style="color: #333333;" lang="IN">(Setelah selesai bermain, tanyakan pada anak,) “Senang tidak main petak umpet?”</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"><span class="apple-style-span"><strong><span style="color: #333333;" lang="IN"><br />
</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;">
<ul>
<li><span style="color: #333333;" lang="IN"><span class="apple-style-span">Bermain “tebak-tebak emosi” dengan: bersama-sama membaca buku atau menonton kartun dan kemudian bertanya pada anak apa yang sedang dialami tokoh tersebut, apakah ia sedih, marah, senang, atau bahagia</span></span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"><span style="color: #333333;" lang="IN"><br />
<span class="apple-style-span">Contoh: <strong>“Lihat! Mickey-nya nangis. Kenapa ya?”</strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"><span style="color: #333333;" lang="IN"><span class="apple-style-span"><strong><br />
</strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;">
<ul>
<li><span style="color: #333333;" lang="IN"><span class="apple-style-span">Terlibatlah dalam permainan anak dan berbagi refleksi perasaan dengan anak</span></span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"><span style="color: #333333;" lang="IN"><br />
<span class="apple-style-span">Contoh: <strong>“Wah, seru. Ayah senang nih bisa main sama adik. Senang lihat adik ketawa terus.”</strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"><span style="color: #333333;" lang="IN"><span class="apple-style-span">Selain dibantu untuk mengenali emosinya, penting bagi anak untuk mendapat bimbingan dari lingkungannya untuk mengendalikan emosinya. Kita sebaiknya membuat pemahaman pada anak mengenai bentuk-bentuk ekspresi emosi yang dinilai tepat dan sesuai. Misalnya, saat menghadapi Ipin yang mencubit adiknya karena kesal mainannya direbut oleh sang adik, kita dapat mencoba menenangkan Ipin dan memberikan penjelasan, &#8220;Ibu tahu Ipin kesal karena mainannya direbut adik. Tapi tidak perlu mencubit. Sakit kalau dicubit. Ipin bisa minta baik-baik sama adik ya.&#8221;</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"><span style="color: #333333;" lang="IN"><span class="apple-style-span">Penting bagi orang dewasa untuk tidak menyalahkan anak atas perasaan atau emosi yang dimilikinya. Kita dapat mencoba lebih memahami perasaan-perasaan yang dialami anak dan menunjukkan empati terhadap emosi yang dirasakan anak sekaligus memberikan arahan bagi anak untuk dapat mengekspresikan emosinya secara sesuai.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="apple-style-span"><span style="color: #333333;" lang="IN">Sumber :</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="apple-style-span"><span style="color: #333333;" lang="IN">Martin, Carole A., dan Karen K Colbert. (1997). Parenting : A Life Span Perspective. New York : McGraw-Hill Companies, Inc.</span></span></p>
<p><span class="apple-style-span"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;; color: #333333;" lang="IN">Papalia, Diane E., Sally Wendkos Olds, dan Ruth Duskin Feldman. (2007). Human Development Tenth Edition. New York : McGraw-Hill COmpanies, Inc.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"><span style="color: #333333;" lang="IN"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"><span style="color: #333333;" lang="IN"><br />
</span></p>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fanak-cerdas-kenali-emosi-ajak-mereka-kenali-dan-kendalikan-emosinya-sejak-dini&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/anak-cerdas-kenali-emosi-ajak-mereka-kenali-dan-kendalikan-emosinya-sejak-dini/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kebetulan yang Menyenangkan.</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/kebetulan-yang-menyenangkan</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/kebetulan-yang-menyenangkan#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 12:17:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Melita Tarisa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi Umum & Eksperimen]]></category>

		<category><![CDATA[bandura]]></category>

		<category><![CDATA[chance encounters]]></category>

		<category><![CDATA[fortuitous events]]></category>

		<category><![CDATA[kebetulan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=871</guid>
		<description><![CDATA[Hidup dipenuhi oleh kebetulan-kebetulan. Tetapi, siapa sangka kalau ternyata seringkali kebetulan tersebut berubah menjadi hal yang menyenangkan, bahkan mengubah nasib Anda? Bahkan Bandura, orang yang mengenalkan teori "kebetulan" pun menjadi tokoh psikologi karena kebetulan yang menyenangkan.

Baca juga bagaimana caranya memperbesar kemungkinan kita untuk mendapatkan kebetulan yang menyenangkan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">
<p><a href="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2010/01/people-on-train.jpg"><img class="size-full wp-image-873 alignleft" src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2010/01/people-on-train.jpg" alt="kebetulan?" width="300" height="338" /></a></p>
<p style="text-align: left;">Pernahkah Anda mengalami sebuah kebetulan yang menyenangkan?</p>
<p style="text-align: left;">Menurut Bandura, seorang psikolog sosial dari Stanford University, kejadian yang bersifat kebetulan lumrah dialami manusia. Ia bahkan melihat bahwa jalan kehidupan manusia dipenuhi oleh kebetulan, yang membantu manusia menulis cerita kehidupan mereka.  Menurut Bandura, ada dua jenis kejadian yang bersifat kebetulan dalam kehidupan kita.</p>
<p style="text-align: left;">Pertama, <em>chance encounter</em>. Yang satu ini ia bahas selengkapnya dalam artikel berjudul The Psychology of Chance Encounters and Life Paths . Dalam artikel tersebut, Bandura (1982) mendefinisikan <em>chance encounters</em> sebagai &#8220;<em>unintended meeting of persons unfamiliar to each other</em>&#8220;-pertemuan tidak terencena antar individu yang tidak saling mengenal. Beberapa pertemuan tersebut meninggalkan kesan yang &#8220;hanya sesaat&#8221;, beberapa kesan bertahan lama, dan ada juga yang memberikan perubahan berarti dalam hidup (<em>turn-of-events</em>). Pertemuan yang kesannya mendalam biasanya menyangkut pertemuan dengan orang-orang yang influential bagi kita. Pasangan hidup, guru yang inspirasional, atau bentuk significant others lainnya. Bandura kemudian menyebutkan adanya faktor penentu personal (mis. kemampuan kita menyesuaikan diri dan afeksi yang terbagi antar pribadi dalam pertemuan tersebut) dan sosial (mis. perpisahan fisik) yang mempengaruhi kesan yang tertinggal lewat pertemuan tersebut.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Fortuitous events</em>, determinan kedua, merupakan &#8220;<em>environmental experience that is unexpected or unintended</em>&#8220;. Kalau chance encounters banyak bicara mengenai pertemuan tak terduga dengan orang-orang yang tidak kita kenal, maka fortuitous events mengajak kita melihat kejadian yang tak terduga dalam hidup kita. Di dunia psikologi, dikenal cerita tentang Eysenck sebagai contoh dari determinan yang kedua ini. Tokoh besar dalam psikologi kognitif itu rupanya mengenal psikologi lantaran &#8216;kebetulan&#8217;. Ia bermaksud memilih Matematika sebagai pilihan studinya di universitas, tapi ia tidak sengaja &#8217;salah&#8217; memilih jurusan. Kebetulan, jurusan yang salah dipilihnya itu adalah psikologi. Ia malah kemudian menjadi salah satu nama besar di bidang psikologi kognitif maupun kepribadian.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam keseharian pun, kita seringkali mengalami kejadian tak terduga, bukan? Karena hujan deras yang turun tiba-tiba, kita terpaksa menunda kepulangan dari kampus. Saat tengah menunggu, asyiknya mungkin bertemu seseorang yang awalnya tidak begitu kita sukai. Entah, mungkin karena dia selalu berkesan sombong. Tapi kali itu, dimulai dari obrolan basa-basi seputar kekesalan akan hujan, kita terlibat dalam obrolan yang menyenangkan. Siapa sangka makhluk yang awalnya menyebalkan itu kemudian menjadi seorang sahabat?</p>
<p style="text-align: left;">Bandura tidak menempatkan ketakterdugaan (boleh juga dibilang kebetulan) ini sebagai sesuatu yang sepenuhnya berada di luar kendali/kontrol kita. Anda dapat memperbesar atau memperkecil kemungkinan Anda menghadapi dua faktor penentu terjadinya &#8220;kebetulan yang menyenangkan&#8221; di atas. Bagi Anda yang senang bermusik, misalnya, dapat aktif membangun relasi dengan orang-orang &#8217;setipenya&#8217;. Dengan begitu, Anda memperbesar kemungkinan terjadinya chance encounter dengan gitaris yang &#8216;jiwanya&#8217; cocok, pas. Kemudian, dengan bermodalkan kemampuan bermain gitar, Anda memperbesar kemungkinan terjadinya fortuitous event yang mungkin membuat Anda dan orang tersebut duo gitaris terkenal. Tidak sengaja ditemukan oleh produser musik, mungkin?</p>
<p style="text-align: left;">Dalam pemahaman ini, tidakkah hidup kemudian menjadi begitu menarik? Ada satu hal tentangnya yang dapat diprediksi, tapi di satu sisi kejadian-kejadian serta pertemuan tak terduga menunggu kita di setiap lekuknya. Membayangkan &#8220;siapa lagi teman baru yang akan saya temui hari ini&#8221;, &#8220;hal-hal tak terduga apa yang akan saya alami&#8221;, &#8220;belajar apa saya dari semua itu&#8221; saja membuat saya begitu bersemangat menghadapi hari, menghadapi waktu yang terus beranjak dewasa.</p>
<p style="text-align: left;">
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fkebetulan-yang-menyenangkan&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/kebetulan-yang-menyenangkan/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menyelami Rasa Cinta Tanah Air : Aku Cinta Indonesia?</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/menyelami-rasa-cinta-tanah-air-aku-cinta-indonesia</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/menyelami-rasa-cinta-tanah-air-aku-cinta-indonesia#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 15:00:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Melita Tarisa</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[cinta tanah air]]></category>

		<category><![CDATA[etnosentrisme]]></category>

		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[nasionalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=456</guid>
		<description><![CDATA[Kecintaan pada tanah air kemudian ditunjukkan dalam berbagai cara oleh masyarakat Indonesia. Ada yang berjuang mengharumkan nama bangsa di tingkat dunia dalam bidang olahraga, seni, dan ilmu pengetahuan, ada yang siap membela Indonesia dengan menjadi tentara, ada juga yang berusaha menjadi pribadi manusia Indonesia yang baik dalam kesehariannya, dan selalu saja akan ada tanya, "Selain karena secara faktual dan hukum tercatat sebagai orang Indonesia, kenapa kita harus mencintai Indonesia?"]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2009/08/indonesia1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-496" title="indonesia1" src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2009/08/indonesia1-300x244.jpg" alt="indonesia1" width="300" height="244" /></a>Ada banyak tanda yang diberikan kepada kita, masyarakat Indonesia, untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air dalam diri kita masing-masing. Mulai dari pelajaran kewarganegaraan di berbagai jenjang pendidikan, penuturan sejarah dan fakta yang menyanjung kemakmuran Indonesia, hingga sepotong bait dalam lagu kebangsaan Indonesia raya ini :</p>
<p>&#8220;Indonesia Raya, merdeka merdeka. Tanahku, Negriku, yang kucinta.<br />
Indonesia Raya, merdeka merdeka. Hiduplah Indonesia raya.&#8221;</p>
<p>Kecintaan pada tanah air kemudian ditunjukkan dalam berbagai cara oleh masyarakat Indonesia. Ada yang berjuang mengharumkan nama bangsa di tingkat dunia dalam bidang olahraga, seni, dan ilmu pengetahuan, ada yang siap membela Indonesia dengan menjadi tentara, ada juga yang berusaha menjadi pribadi manusia Indonesia yang baik dalam kesehariannya, dan selalu saja akan ada tanya, &#8220;Selain karena secara faktual dan hukum tercatat sebagai orang Indonesia, kenapa kita harus mencintai Indonesia?&#8221;</p>
<p>Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan manusia tentang negara dan bangsanya mulai berkembang pada usia lima tahun. Pada usia itu, anak mulai mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari suatu bangsa. Hal itu juga disertai pengetahuan geografi dasar seperti mengenali nama ibu kota negara tempat ia tinggal, bendera negara, dan sebagainya. Pada usia sepuluh tahun, anak mulai dapat menggambarkan karakteristik-karakteristik yang menjadi ciri khas bangsanya. Di Indonesia, hal ini diperkuat dengan disusunnya kurikulum pendidikan kewarganegaraan di tingkat sekolah dasar dan menegah. Secara langsung, anak Indonesia diajar untuk mengenali karakteristik bangsanya sesuai petunjuk buku pegangan sekolah : murah senyum, suka menolong, ramah, dan sebagainya.</p>
<p>Anak memaknai dirinya sebagai bagian dari bangsa dan negaranya dengan menunjukkan semangat etnosentrisme. Definisi etnosentrisme di sini disempitkan pada sikap menunjukkan preferensi terhadap bangsa dan negaranya sendiri di banding yang lain. Hal ini, menurut Tajfel dkk. disebabkan oleh pengalaman anak berinteraksi dengan sikap dan perilaku yang memang menunjukkan preferensi terhadap bangsa dan negaranya. Artinya, anak akan cenderung melekatkan sikap dan perilaku yang menurutnya baik sebagai bagian dari skap dan perilaku bangsanya.</p>
<p>Untuk membuktikan hipotesis tersebut, Tajfel dkk. melakukan sebuah eksperimen yang melibatkan anak-anak dalam rentang usia 6-12 tahun. Eksperimen tersebut dilakukan di enam negara : Inggris, Belanda, Austria, Skotlandia, Belgia, dan Italia. Dalam eksperimen tersebut, anak-anak dihadapkan pada dua puluh tiga foto laki-laki dan diminta untuk menyelesaikan dua buah tugas. Pada tugas pertama, mereka diminta untuk menilai tingkat kesukaan mereka pada laki-laki dalam foto. Respon mereka terukur dari skala 1 sampai 4, di mana 1 adalah &#8220;Aku sangat suka dia&#8221; dan 4 adalah &#8220;Aku sangat tidak suka dia.&#8221; Kemudian, mereka diberitahu bahwa sebagian dari orang dalam foto tersebut berasal dari negara yang sama, sedangkan sebagian lagi tidak. Tugas mereka selanjutnya adalah menentukan siapa saja dari kumpulan foto tersebut yang berasal dari negara yang sama dengan mereka.</p>
<p>Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya kecenderungan anak-anak untuk menganggap orang yang mereka sukai sebagai orang yang berasal dari negara yang sama dengan mereka. Hal ini menunjukkan preferensi anak terhadap bangsanya sebagai sesuatu yang &#8220;baik&#8221; dan &#8220;disukai&#8221;. Namun, kecenderungan ini menurun seiring pertambahan usia (dilakukan perbandingan kelompok usia 6-8 tahun dan 9-12 tahun). Anak-anak yang lebih dewasa diperkirakan sudah bisa mempertimbangkan faktor karakteristik fisik orang dari negara asalnya saat melakukan tugas kedua. Hal ini diperkuat dengan membandingkan hasil eksperimen di lima negara (Austria, Inggris, Belanda, SKotlandia, dan Belgia) dengan hasil di Italia. Anak-anak Italia dapat lebih akurat menentukan kelompok orang yang berasal dari negara yang sama dengan mempertimbangkan perbedaan ciri fisik mereka dengan orang-orang di lima negara lain (kebanyakan orang di negara tersebut berambut pirang, Italia berambut gelap).</p>
<p>Di skala nasional, rasa cinta yang bernapaskan etnosentrisme dapat berfungsi sebagai media promosi kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa. Schaefer (2006) menilai perilaku merendahkan bangsa dan negara atau budaya lain dapat menumbuhkan semangat patriotik bagi suatu bangsa. Bangsa Indonesia cukup akrab dengan bentuk cinta tanah air yang bernapaskan etnosentrisme ini. Bahkan, ketika menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, Soekarno sempat memanfaatkan napas etnosentrisme ini untuk menumbuhkan semangat persatuan dengan menyebarluaskan jargon “Ganyang Malaysia”, “Amerika kita Seterika”, “Jepang kita Panggang”, dan “Inggris kita Linggis” (baca tulisan <a href="http://ruangpsikologi.com/bhinnekatunggalika" target="_blank">ini</a>).</p>
<p>Lebih dalam lagi, rasa cinta terhadap tanah air kemudian berkembang sebagai semangat kebangsaan yang dilandaskan pada kesadaran akan &#8220;keanggotaan dalam suatu bangsa yg secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu&#8221; (definisi nasionalisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia). Kecintaan ini didasarkan kesadaran akan identitas bangsanya dan semangat untuk mewujudkan kesejahteraan bersama, tidak semata untuk membela bangsa dari ancaman dalam maupun luar negeri. Seperti ketika kita bangga Pulau Komodo masuk dalam nominasi Keajaiban Dunia dan tergerak untuk memberikan suara dalam voting UNESCO, bukan karena saingan kita Malaysia, tapi karena bagi kita, keindahan Indonesia begitu membanggakan untuk dibagi dengan dunia.</p>
<p>Seperti apakah cintamu untuk Indonesia?</p>
<input id="gwProxy" type="hidden"><!--Session data--></input>
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fmenyelami-rasa-cinta-tanah-air-aku-cinta-indonesia&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/menyelami-rasa-cinta-tanah-air-aku-cinta-indonesia/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

