<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>RuangPsikologi.Com &#187; Jono</title>
	<atom:link href="http://ruangpsikologi.com/author/jono/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ruangpsikologi.com</link>
	<description>Webzine Psikologi Modern</description>
	<pubDate>Fri, 11 May 2012 03:33:31 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Menghindari Prasangka</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/menghindari-prasangka</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/menghindari-prasangka#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Apr 2012 01:25:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jono</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=1770</guid>
		<description><![CDATA[Di artikel kali ini, akan dibahas cara untuk meminimalisir serta menghindari munculnya prasangka.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span>Di dua artikel sebelumnya telah dibahas </span><span lang="IN">dampak buruk </span><span>dan </span><span lang="IN">penyebab dari prasangka. Di artikel kali ini </span><span>akan dibahas lebih lanjut </span><span lang="IN">beberapa tips untuk mengurangi prasangka.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN">1.<span> </span></span></strong><!--[endif]--><strong><span lang="IN">Sejak kecil, ajari anak untuk toleransi terhadap kelompok lain dan hindari fanatisme terhadap kelompok sendiri</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Anak kecil memang seperti spons yang dapat menyerap segala informasi di sekitarnya. </span><span> <span lang="IN">Aturan-aturan sederhana di keluarga (seperti makan harus di meja makan, memanggil orang yang lebih tua dengan panggilan tertentu) biasanya akan bertahan </span></span><span>hingga </span><span lang="IN">dewasa. </span><span>Hal tersebut juga berlaku untuk </span><span lang="IN">toleransi. </span><span>Dengan mengajarkan toleransi sejak kecil, hal tersebut akan </span><span lang="IN">terus terbawa </span><span>hingga </span><span lang="IN">dewasa. Akan tetapi, untuk mengajarkan anak sebaiknya </span><span>tidak</span><span lang="IN"> hanya dengan kata-kata. Anak-anak sangat mudah belajar dengan cara mencontoh lingkungan. Oleh karena itu, cara terbaik untuk mengajarkan toleransi </span><span>adalah dengan </span><span lang="IN">memberi contoh nyata toleransi terhadap orang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoListParagraph"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN">2.<span> </span></span></strong><!--[endif]--><strong><span lang="IN">Manfaatkan pengaruh sosial untuk mengurangi prasangka</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Secara sederhana, metode ini menggunakan media sosial untuk mengurangi prasangka. Dengan</span><span lang="IN"> makin banyak gerakan yang </span><span>mengajak masyarakat untuk menghindari</span><span lang="IN"> prasangka, maka jumlah orang yang berprasangka juga akan makin menurun.<strong></strong></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN">3.<span> </span></span></strong><!--[endif]--><strong><span lang="IN">Perbanyak interaksi dengan kelompok lain </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dengan </span><span lang="IN">berinteraksi sebanyak-banyaknya dengan kelompok </span><span>lain </span><span lang="IN">maka </span><span>kemungkinan terjadi </span><span lang="IN">kesalahpahaman yang menimbulkan prasangka </span><span>akan semakin kecil</span><span lang="IN">. </span><span>Cara yang mungkin lebih mudah adalah dengan </span><span lang="IN">mencari informasi objektif tentang kelompok </span><span>lain </span><span lang="IN">tersebut</span><span>. </span><span lang="IN">Pada intinya, kita harus terbuka untuk </span><span>berinteraksi dengan </span><span lang="IN">kelompok lain sebelum menentukan sikap </span><span>suka tidak suka </span><span lang="IN">terhadap kelompok </span><span>tertentu.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN">4.<span> </span></span></strong><!--[endif]--><strong><span>Tersenyumlah</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Tersenyum</span><span> memiliki </span><span lang="IN">banyak fungsi dalam </span><span>kehidupan sehari - hari</span><span lang="IN">. Selain sudah terbukti </span><span>bahwa tersenyum dapat </span><span lang="IN">membuat </span><span>individu </span><span lang="IN">lebih sehat, penelitian </span><span>lain </span><span lang="IN">membuktikan </span><span>jika </span><span lang="IN">tersenyum (atau tertawa) dapat mengurangi prasangka terhadap kelompok lain. Penelitian </span><span>tersebut menjelaskan jika A </span><span lang="IN">tersenyum sebelum melihat </span><span>B</span><span lang="IN">, maka prasangka </span><span>A </span><span lang="IN">terhadap </span><span>B </span><span lang="IN">akan berkurang. Cara ini adalah yang paling mudah dilakukan. </span><span>Saat individu memiliki </span><span lang="IN">pikiran yang buruk tentang </span><span>individu </span><span lang="IN">lain cobalah </span><span>untuk</span><span lang="IN"> tersenyum sehingga pikiran negatif yang memicu prasangka itu dapat berkurang.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN">5.<span> </span></span></strong><!--[endif]--><strong><span>Mencari kesamaan dari</span></strong><strong><span lang="IN"> kategori sosial </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Di artikel</span><span lang="IN"> sebelumnya, salah satu penyebab prasangka adalah kategorisasi sosial. </span><span> Oleh karena itu </span><span lang="IN">cara terakhir ini adalah </span><span>mencari kesamaan dari kategorisasi sosial tersebut</span><span lang="IN">. </span><span>Sebagai contoh, di sepanjang nusantara terdapat berbagai suku bangsa, namun berbagai suku bangsa tersebut memiliki satu kesamaan yang utama, yaitu sama – sama berbangsa Indonesia. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Penjelasan – penjelasan di atas diharapkan dapat menggambarkan bahwa, walaupun sulit, prasangka dapat dicegah. Oleh karena itu, individu sebaiknya meng</span><span lang="IN">hindari prasangka </span><span>agar </span><span lang="IN">dampak buruknya </span><span>dapat terhindarkan</span><span lang="IN">.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Untuk lebih mengetahui tentang prasangka, TeaterPsikologi UI sebagai teater yang peduli akan isu-isu psikologi akan mementaskan <strong><span style="text-decoration: underline;">“SuryatiLangsungkeHati”</span></strong> dengan tema utama prasangka. Humor-humor segar dan <em>setting</em> kehidupan sehari-hari tetap menjadi kekuatan pementasan Teater Psikologi UI. Oleh karena itu, saksikan Teater Psikologi UI di Aula FakultasPsikologi UI Depok tanggal 28  - 29 April 2012. <a name="_GoBack"></a></span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><em><span> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><em><span lang="IN">Prejudices are what fools use for reason - Voltaire</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>Christian Hermawan.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>Tulisan ini adalah rangkaian tulisan dari Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) dalam  rangka kampanye anti prasangka.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sumber</span><span lang="IN">:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Baron, Robert.A., Byrne, D., &amp;Branscombe, Nyla. R. (2006).<em>Social Psychology 11<sup>th</sup> Ed</em>. USA: Pearson.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Mendoza-Denton, R. (2010). The Top 10 Strategies for Reducing Prejudice (Part 2 of 3). Diakses secara online dari <a href="http://www.psychologytoday.com/blog/are-we-born-racist/201012/the-top-10-strategies-reducing-prejudice-part-2-3">http://www.psychologytoday.com/blog/are-we-born-racist/201012/the-top-10-strategies-reducing-prejudice-part-2-3</a> pada tanggal 24 Maret 2012.</span></p>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fmenghindari-prasangka&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/menghindari-prasangka/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Penyebab Prasangka</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/penyebab-prasangka</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/penyebab-prasangka#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Apr 2012 10:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jono</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=1765</guid>
		<description><![CDATA[Terkadang prasangka dapat muncul tanpa disadari. Apa yang menyebabkan prasangka tersebut muncul di dalam diri individu? ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span lang="IN"><a href="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2012/04/equality.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1766" title="leader" src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2012/04/equality-300x230.jpg" alt="leader" width="300" height="230" /></a>Pada artikel sebelumnya, </span><a href="http://ruangpsikologi.com/awas-prasangka" target="_blank">Awas Prasangka!</a> <span lang="IN">kita sudah mengenal dan memahami apa itu prasangka dan bagaimana buruknya dampak prasangka bila dibiarkan tertanam dalam diri kita. Di artikel ini akan dibahas lebih dalam tentang </span><span lang="IN"> </span>“Kenapa kita berprasangka?”.</p>
<p><span> </span></p>
<p><strong><span>Terserang Harga Diri. </span></strong><span>Disadari atau tidak, terkadang </span><span lang="IN">kritik </span><span>dapat membuat </span><span lang="IN">kita merasa terganggu dan menjadi tidak senang terhadap </span><span>individu yang mengkritik. Berbagai </span><span lang="IN">penelitian </span><span>menunjukkan bahwa </span><span lang="IN">serangan terhadap harga diri seseorang atau kelompoknya dapat menimbulkan prasangka</span><span>. Adapun fungsi p</span><span lang="IN">rasangka </span><span>adalah sebagai </span><span lang="IN">reaksi perlindungan terhadap harga diri kita </span><span>yang mungkin terluka saat dikritik. </span></p>
<p><strong><span> </span></strong></p>
<p><strong><span lang="IN">Saat Kita Melakukan Kompetisi Untuk Mendapatkan Sesuatu</span></strong><strong><span>. </span></strong><span>Sebuah </span><span lang="IN">penelitian menarik yang </span><span>yang melibatkan dua kelompok</span><span lang="IN"> anak-anak laki-laki </span><span>ber</span><span lang="IN">umur 11</span><span> tahun</span><span lang="IN">. Pada fase pertama diberikan kegiatan yang dilakukan bersama-sama dan menyenangkan, lalu pada fase kedua, kedua kelompok diberikan tugas-tugas yang sifatnya kompetisi. Pada fase kedua ini, sangat terlihat prasangka antar kelompok, misalnya, mereka menghancurkan barang-barang kelompok lawannya. </span><span>Melalui penelitian itu terlihat </span><span lang="IN">persepsi negatif muncul </span><span>timbul perbedaan antara </span><span lang="IN">kelompok teman dan kelompok lawan. </span><span>Dengan adanya prasangka di kehidupan sehari – hari, prasangka cukup sulit dihindari. Sebagai contoh,</span><span lang="IN"> saat </span><span>terdapat dua </span><span lang="IN">pedagang yang menjual barang yang sama</span><span> akan</span><span lang="IN"> muncul kompetisi untuk mendapatkan pembeli lebih banyak</span><span>. Ketika satu pedagang memperoleh hasil yang lebih baik dibandingkan pedagang lainnya, terdapat</span><span lang="IN"> kemungkinan besar </span><span>akan muncul </span><span lang="IN">prasangka antar pedagang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Selain kedua penyebab di atas, penyebab utama lainnya adalah <strong>kategorisasi sosial</strong></span><span>. Di kehidupan sehari – hari sadar atau tidak individu mengkategorikan individu lainnya </span><span lang="IN">berdasarkan </span><span>criteria </span><span lang="IN">tertentu, </span><span>seperti </span><span lang="IN">gender, agama atau suku</span><span>. </span><span lang="IN">Ternyata, </span><span>pengkategorian tersebut</span><span> <span lang="IN">dapat menjadi akar berkembangnya prasangka.</span></span><span lang="IN"> </span><span>Saat masuk kekelompok tertentu, individu cenderung lebih menyukai kelompoknya sendiri dibanding kelompok lain</span><span lang="IN">. Kecenderungan ini membuat </span><span>individu memiliki prasangka negatif </span><span lang="IN">terhadap kelompok </span><span>lainnya</span><span lang="IN">. </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Berdasarkan penjelasan – penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa </span><span lang="IN">bahwa kunci</span><span> untuk menghindari prasangka</span><span lang="IN"> adalah </span><span>berpikir positif. Secara lebih detail maka dengan menganggap bahwa setiap kelompok sama baik diharapkan prasangka negatif yang muncul dalam diri setiap individu dapat dikontrol sehingga potensi kerugian baik untuk orang lain maupun diri sendiri dapat terhindarkan. </span><span lang="IN"></span></p>
<p><span> </span></p>
<p><strong><span>Christian Hermawan. </span></strong></p>
<p><strong><span>Tulisan ini adalah rangkaian tulisan dari Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) dalam  rangka kampanye anti prasangka.</span></strong></p>
<p><span> </span></p>
<p><span> </span></p>
<p><span lang="IN">Referensi:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Baron, Robert.A., Byrne, D., &amp; Branscombe, Nyla. R. (2006).<em>Social Psychology 11<sup>th</sup> Ed</em>. USA: Pearson.</span><span lang="IN"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Fein, S., &amp; Spencer, S. J. (1997). Prejudice as Self-Image Maintenance: Affirming the Self Through Derogating Others. <em>Journal of Personality and Social Psychology, Volume 73, hal. 31 – 44.</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Forsyth, D. R. (2010). <em>Group Dynamics 5<sup>th</sup> ed</em>. California: Wadsworth Cengage Learning.</span><span></span></p>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fpenyebab-prasangka&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/penyebab-prasangka/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Awas Prasangka!</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/awas-prasangka</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/awas-prasangka#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2012 16:56:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jono</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=1760</guid>
		<description><![CDATA[Saat kita mempunyai sikap negatif terhadap suatu kelompok sosial tertentu, maka kita juga akan memiliki prasangka terhadap orang yang menurut kita termasuk ke dalam kelompok tersebut. Selain berhubungan dengan orang lain, ternyata prasangka juga dapat merugikan diri kita sendiri. Sikap kita terhadap sesuatu akan menentukan emosi yang akan kita rasakan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: left;"><strong><a href="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2012/04/prejudice.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1761" title="prejudice" src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2012/04/prejudice-300x207.jpg" alt="prejudice" width="300" height="207" /></a></strong>Pernah menilai orang yang memiliki tato itu orang yang jahat? Atau menilai orang yang memiliki tindik adalah orang yang tidak suka mengikuti aturan?</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Bila pernah, berarti kita pernah punya prasangka terhadap kelompok-kelompok tersebut. Prasangka adalah sikap negatif terhadap suatu kelompok sosial. <span lang="IN">Saat kita mempunyai sikap negatif terhadap suatu kelompok sosial tertentu, maka kita juga akan memiliki prasangka terhadap orang yang menurut kita termasuk ke dalam kelompok tersebut</span>.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Prasangka </span>jika<span lang="IN"> ditanamkan dan dibiarkan semakin berkembang dapat menjadi sesuatu yang berbahaya. Contoh dampak nyata dari prasangka yang dibiarkan berkembang adalah kerusuhan Mei 1998 dan kerusuhan Ambon. </span>Pada kerusuhan Mei 1998, sekelompok masyarakat melakukan tindakan agresif (membakar toko dan rumah, membunuh, dan memperkosa) terhadap etnis Tionghoa. Pada kerusuhan tersebut tercatat ada lebih dari 1300 korban dan kerugian material milyaran rupiah.<span lang="IN"> Sementara itu, pada k</span>erusuhan Ambon<span lang="IN">, terjadi </span>konflik beragama yang merenggut lebih dari 1300 nyawa, 273 korban luka parah, dan 321 luka ringan. Kedua kasus di atas dapat terjadi karena ada kelompok yang menyimpan prasangka sebelumnya dan akhirnya meluap kemarahannya ketika adanya provokasi oleh pihak tertentu.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Selain berhubungan dengan orang lain, ternyata prasangka juga dapat merugikan diri kita sendiri. Sikap kita terhadap sesuatu akan menentukan emosi yang akan kita rasakan. Saat semakin banyak sikap negatif yang kita simpan dan kembangkan, maka semakin besar juga emosi negatif juga yang akan kita rasaka</span>n<span lang="IN">. Seperti disebutkan sebelumnya, prasangka adalah sebuah sikap negatif, maka dengan menyimpan prasangka, kita akan lebih banyak merasakan emosi negatif yang membuat kita tidak bahagia. Kerugian lebih lanjut dari prasangka adalah emosi negatif yang menumpuk terbukti dapat memberikan dampak buruk pada kesehatan kita</span>.</p>
<p class="MsoNormal">Dari kedua contoh di atas, kita dapat melihat <span lang="IN">prasangka adalah sesuatu yang berbahaya </span>jika di<span lang="IN">biarkan. </span>Indonesia <span lang="IN">sendiri adalah tempat yang </span>sangat rawan terhadap dampak prasangka. Didukung dengan banyaknya kelompok di negeri kita (etnis, agama, warna kulit, dll), maka prasangka sangat mudah berkembang<span lang="IN">. </span>Bila prasangka tersebut dipelihara dan ada provokasi dari pihak tidak bertanggung jawab, maka akan timbul sebuah konflik antar kelompok yang tentunya dapat membawa kerugian besar.</p>
<p class="MsoNormal">Potensi munculnya dampak buruk yang ditimbulkan oleh prasangka di Indonesia memang besar. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat akan prasangka dan dampak buruk yang mungkin muncul karena prasangka adalah hal yang sangat penting. Perlu makin banyak sosialisasi soal dampak buruk tersebut. Kesadaran akan prasangka tentunya diharapkan tiap kelompok akan dapat mencegah timbulnya prasangka dan akhirnya mengurangi dampak buruk akibat prasangka antar kelompok tersebut. Pada tulisan selanjutnya, kami akan coba membahas tentang <span lang="IN">penyebab</span> timbulnya prasangka ini.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Tulisan ini adalah rangkaian tulisan dari Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) dalam  rangka kampanye anti prasangka.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Referensi:</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">________. (2010). Mind/Body Connection: How Your Emotions Affect Your Health. Diambil secara online dari <a href="http://familydoctor.org/familydoctor/en/prevention-wellness/emotional-wellbeing/mental-health/mind-body-connection-how-your-emotions-affect-your-health.html">http://familydoctor.org/familydoctor/en/prevention-wellness/emotional-wellbeing/mental-health/mind-body-connection-how-your-emotions-affect-your-health.html</a> pada tanggal 3 Maret 2012.</span></p>
<p class="MsoNormal">Baron, Robert.A., Byrne, D., &amp; Branscombe, Nyla. R. (2006). <em>Social Psychology 11<sup>th</sup> Ed</em>. USA: Pearson.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><a href="http://www.komnasham.go.id/pemantauan-dan-penyelidikan/1089-penantian-panjang-korban-pelanggaran-ham"><span lang="EN-US">http://www.komnasham.go.id/pemantauan-dan-penyelidikan/1089-penantian-panjang-korban-pelanggaran-ham</span></a></span> diakses 6 Februari 2012</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><a href="http://www.kontras.org/index.php?hal=siaran_pers&amp;id=121"><span lang="EN-US">http://www.kontras.org/index.php?hal=siaran_pers&amp;id=121</span></a></span> diakses 6 Februari 2012</p>
<p class="MsoNormal">Hanson, R. (2012). See Beings Not Bodies. <span lang="IN">Diambil secara online dari <a href="http://www.psychologytoday.com/blog/your-wise-brain/201201/see-beings-not-bodies"><span lang="EN-US">http://www.psychologytoday.com/blog/your-wise-brain/201201/see-beings-not-bodies</span></a></span> pada tanggal 6 Februari 2012.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Raghunathan, Raj. (2011). The Four Attitudes of Happiness. Diambil secara online dari <a href="http://www.psychologytoday.com/blog/sapient-nature/201106/the-four-attitudes-happiness">http://www.psychologytoday.com/blog/sapient-nature/201106/the-four-attitudes-happiness</a> pada tanggal 3 Maret 2012.</span></p>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fawas-prasangka&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/awas-prasangka/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Perceraian Orangtua dan Akibatnya terhadap Hubungan Asmara Anak</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/perceraian-orangtua-dan-akibatnya-terhadap-hubungan-asmara-anak</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/perceraian-orangtua-dan-akibatnya-terhadap-hubungan-asmara-anak#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Dec 2011 16:55:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jono</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi klinis]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi perkembangan]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=1747</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak yang orangtuanya bercerai besar kemungkinan akan memiliki hubungan romantis yang buruk di masa yang akan datang. Dimulai dari singkatnya durasi berpacaran hingga kecendrungan yang lebih tinggi pula untuk bercerai ketika mereka menikah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2011/12/picture1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1749" title="picture1" src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2011/12/picture1-300x205.jpg" alt="picture1" width="300" height="205" /></a>“Jumlah perceraian di Indonesia semakin meningkat. Data Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung (Ditjen Badilag MA), kurun 2010 ada 285.184 perkara yang berakhir dengan perceraian ke Pengadilan Agama se-Indonesia. Angka tersebut merupakan angka tertinggi sejak 5 tahun terakhir…” </em>(Detiknews.com)</p>
<p>Suka atau tidak, saat ini kita banyak melihat mendengar (atau bahkan merasakan) perceraian di sekitar kita. Kutipan artikel di atas menggambarkan tingginya perceraian yanga ada di Indonesia. Lebih lanjut dijelaskan berbagai alasan yang melatar belakangi kasus perceraian yang ada. Dari sekian banyak permasalahan secara garis besar alasan perceraian di Indonesia disebabkan oleh tiga factor, yaitu: 1.) Ketidakharmonisan rumah tangga (32,2 %);  2) Masalah ekonomi (23,8 %), dan 3) Cemburu (3,5 %).</p>
<p>Berbagai dampak perceraian telah banyak dijelaskan sebelumnya dan diketahui bahwa efek terbesar perceraian terjadi pada anak. Efek tersebar tersebut juga sebagian besar efeknya merupakan efek negative.</p>
<p>Sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak yang orangtuanya bercerai besar kemungkinan akan memiliki hubungan romantic yang buruk di masa yang akan datang. Ketika berpacaran, mahasiswa yang menjadi sample penelitian,  menunjukan bahwa durasi mereka berpacaran biasanya hanya bertahan dibawah satu tahun. Bahkan hasil penelitian menunjukkan bahwa anak dari yang orangtua bercerai memiliki kecendrungan yang lebih tinggi pula untuk bercerai ketika mereka menikah.</p>
<p>Sebuah penelitian menjelaskan lebih dalam tentang hubungan romantis pada anak yang orangtuanya sering berselisih ataupun yang orangnya bercerai. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa mereka lebih aktif secara seksual di usia yang lebih muda, lebih banyak memiliki pasangan seksual, memiliki kecendrungan yang lebih tinggi untuk tinggal bersama tanpa menikah dan menikah pada usia yang lebih muda.</p>
<p>Tidak hanya anak dengan orang tua yang bercerai, anak dengan orang tua yang sering berselisih juga mengalami berbagai permasalahan yang tidak bisa dianggap sebelah mata. Sebuah penelitian bahkan menunjukkan efek yang lebih buruk ditemukan pada anak yang tumbuh di keluarga dengan konflik yang berkepanjangan dibandingkan anak yang orangtuanya mengalami perceraian.</p>
<p>Penelitian menunjukkan bahwa anak yang orangtuanya sering berselisih memiliki kecendrungan yang lebih tinggi untuk mengalami masalah kepercayaan diri. Masalah kepercayaan diri tersebut juga akan terus terjadi hingga anak beranjak dewasa. Selain masalah kepercayaan diri, masalah lain yang muncul akibat perselisihan orangtua adalah rendahnya prestasi sekolah, renggangnya hubungan anak dengan orangtua, dan buruknya hubungan romantis dikemudian hari.</p>
<p>Berbagai permasalahan yang dijelaskan di atas menunjukkan bahwa konflik orang tua sangat mempengaruhi berbagai area perkembangan anak. Di sisi lain, anak yang orangtuanya bercerai memiliki kecendrungan untuk lebih dewasa dan mandiri dari anak se-usianya. Hal ini disebabkan karena adanya ‘tuntutan’ dari lingkungan untuk lebih memahami situasi dan kondisi keluarganya. Hal yang tidak dialami oleh banyak orang.</p>
<p>Pada dasarnya, tidak ada yang menginginkan perceraian. Namun demikian, hal tersebut sering tidak bisa dihindarkan. Jika orang tua Anda bercerai, hal utama yang harus dilakukan adalah dengan menanamkan kepercayaan pada diri anda sendiri bahwa apa yang terjadi kepada orang tua Anda belum tentu akan Anda alami. Selalu tanamkan bahwa Anda akan memiliki hubungan romantis yang ‘lebih sukses’ dibanding apa yang orang tua Anda alami.</p>
<p>Di sisi lain, apabila Anda orang tua yang sedang memikirkan kemungkinan untuk bercerai, cobalah untuk kembali mendahulukan kepentingan keluarga. Jika memang tidak bisa dihindarkan, hal – hal yang dapat Anda lakukan untuk meminimalisir efek perceraian pada anak adalah:<br />
-    Berikan kesempatan pada anak untuk mengungkapkan perasaan dan pemikirannya terhadap perceraian orang tua agar anak merasa bahwa orang tua memperhatikannya.<br />
-    Menjalin hubungan dan komunikasi dengan mantan pasangan anda agar memperlihatkan pada anak bahwa hubungan antara kedua orang tua berjalan dengan baik walaupun telah berpisah. Dengan memperlihatkan hubungan baik tersebut menghindari anak bersifat negatif terhadap perkawinan dan kedua orang tuanya.<br />
-    Tetap melakukan kegiatan rutin dengan anak seperti mengantar anak ke sekolah atau mengajak pergi ketika libur sekolah Walaupun orang tua telah bercerai bukan berarti kebiasaan-kebiasaan tersebut hilang.</p>
<p>Hasil penelitian di atas hampir sebagian besar adalah hasil penelitian bukan di Indonesia. Dengan kata lain, kecendrungan - kecendrungan tersebut mungkin tidak ditemukan di Indonesia. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, apabila Anda di posisi anak yang orangtuanya bercerai, tananamkan kepercayaan pada diri anda sendiri bahwa apa yang terjadi kepada orang tua Anda belum tentu akan Anda alami. Untuk orangtua, cobalah untuk kembali mendahulukan kepentingan keluarga</p>
<p><strong>Nova JoNo Ariyanto</strong></p>
<p>Sumber:</p>
<p><span>Saezarina, A. Wawancara, Desember 2011.</span></p>
<p>Ensign, J., Scherma, A. &amp; Clark, J.J. 1998. The relationship of family structure and conflict to levels of intimacy and parental attachment in college student.  <em>Adolescence; Fall 1998; 33, 131; ProQuest pg. 575.<br />
</em><br />
Knox, D., Zusman, M., &amp; ;DeCuzzi, A. 2004. The Effect Of Parental Divorce On Relationships With Parents And Romantic Partners Of College Students. <em>College Student Journal; Dec 2004; 38, 4; ProQuest Psychology Journals pg. 597</em></p>
<p>Saputra, A. 2011. Tingkat Perceraian di Indonesia Meningkat. Diambil secara online dari http://www.detiknews.com/read/2011/08/04/124446/1696402/10/tingkat-perceraian-di-indonesia-meningkat?n990102mainnews pada tanggal 20 Desember 2011.</p>
<p>http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Psikologi/Balita/agar.anak.tak.trauma.perceraian/001/007/647/58/3 pada tanggal 24 Desember 2011.</p>
<p>Picture taken from <a href="http://www.flickr.com/photos/68927192@N03/6272639264/">http://www.flickr.com/photos/68927192@N03/6272639264/</a></p>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fperceraian-orangtua-dan-akibatnya-terhadap-hubungan-asmara-anak&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/perceraian-orangtua-dan-akibatnya-terhadap-hubungan-asmara-anak/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Europe on Screen, ‘Old and Young Europe’</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/europe-on-screen-%e2%80%98old-and-young-europe%e2%80%99</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/europe-on-screen-%e2%80%98old-and-young-europe%e2%80%99#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Nov 2011 16:10:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jono</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>

		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=1738</guid>
		<description><![CDATA[Ingin mengetahui gambaran penyakit manik depresif dengan gejala skizofrenia? Mari ambil bagian di Festival Film Eropa. Informasi lengkapnya dapat dibaca di artikel ini ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2011/11/faw-preview-postera1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1739" title="faw-preview-postera1" src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2011/11/faw-preview-postera1-214x300.jpg" alt="faw-preview-postera1" width="214" height="300" /></a>Festival Film Eropa yang dikenal dengan Europe on Screen (EoS), sebuah festival yang menjadi jendela untuk menyaksikan budaya Eropa lewat beragam film dan sarana bagi penonton untuk mengembangkan apresiasi terhadap film-film di luar arus besar, tahun ini memasuki penyelenggaraan kelima dengan tema ‘Old and Young Europe’. Tema ini menyorot dinamika benua Eropa yang sarat dengan sejarah dan tradisi namun tidak luput dari pembaruan di berbagai bidang, disajikan melalui 24 film panjang dan 1 film pendek dari 21 negara-negara Eropa yang diproduksi dalam rentang waktu lebih dari dua dekade. Keseluruhannya terbagi dalam beberapa seksi film: Against the Odds, Crime and Misdemeanour, Family Affairs, Songs of Survival, Sprinkles of Laughter. Tahun ini EoS juga mempersembahkan 9 film pendek Indonesia terbaik melalui EoS Short Film Competition.</p>
<p>Europe on Screen 2011 akan berlangsung di:</p>
<p>Yogyakarta 28-29 Oktober: LIP</p>
<p>Bandung 1-2 November: CCF</p>
<p>Jakarta 4-11 November: Erasmus Huis, GoetheHaus, Istituto Italiano di Cultura, Institut Français Indonesia, Kineforum Jakarta Arts Council</p>
<p>Denpasar 12-13 November: Alliance Française</p>
<p>Banda Aceh 14-18 November: Europe House</p>
<p>Surabaya 19-20 November: CCCL</p>
<p>Semarang 23-24 November: Universitas Diponegoro</p>
<p>Untuk pertama kalinya, tahun ini panitia festival mengadakan kompetisi film pendek bekerja sama dengan Dewan Kesenian Jakarta, Boemboe.org, dan Minikino. Para pembuat film dari 19 kota di Indonesia telah mengikutsertakan 69 film pendek ke dalam kompetisi ini. 9 film terpilih akan dapat kita saksikan dalam sebuah program bertajuk “EoS Short Film Competition Finalist 2011”. Pemenang “Best Film” berhak untuk mendapatkan 1 Mac Book Pro dan peraih “Audience Award” pilihan terfavorit penonton akan mendapatkan 1 kamera Canon EOS 600D.</p>
<p>Berkenaan dengan kompetisi ini, festival menyelenggarakan “Short Film Talk Discussion with Jury Panel”, yang terdiri dari Alex Sihar (Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta), Ray Nayoan (sutradara film), Varadila (Manajer Program Minikino). Diskusi dilanjutkan dengan presentasi dari IdFC (Indonesian Film Centre). Acara ini akan berlangsung di Institut Français Indonesia pada tanggal 6 November 2011.</p>
<p>Suguhan lain yang menarik di EoS tahun ini adalah pertunjukan musik “Reminiscing Beatles Night by The Banery” yang disponsori oleh The British Council, menyusul pemutaran film “Nowhere Boy” yang berkisah tentang perjalanan awal karir seorang legenda musik John Lennon. Saksikan di Eramus Huis pada tanggal 7 November 2011.</p>
<p>Seluruh pemutaran film bersifat gratis dan tiket masuk dapat diperoleh 45 menit sebelum film diputar di masing-masing lokasi.</p>
<p>Festival ini diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Austria, Kedutaan Besar Portugal, Kedutaan Besar Belgia, Kedutaan Besar Republik Bulgaria, Kedutaan Besar Republik Federal Jerman/Goethe Institut, Kedutaan Besar Spanyol/Aula Cervantes, Kedutaan Besar Perancis/IFI, Kedutaan Besar Italia/Istituto Italiano di Cultura, Kedutaan Besar Kerajaan Luxembourg, Kedutaan Besar Republik Hungaria, Kedutaan Besar Belanda/Erasmus Huis, Kedutaan Besar Republik Polandia, Kedutaan Romania, Kedutaan Besar Republik Slovakia, Kedutaan Besar Finlandia, Kedutaan Besar Swedia, Kedutaan Besar Kerajaan Inggris/The British Council, Kedutaan Besar Republik Turki, Kedutaan Besar Republik Ceko, Kedutaan Besar Kroasia, Kedutaan Besar Swiss dan Delegasi Uni Eropa.</p>
<p>Pemutaran film di luar Jakarta bekerja sama dengan mitra festival: LIP Yogyakarta, CCF Bandung, Alliance Française Denpasar, Europe House Banda Aceh, CCCL Surabaya, Kronik Film dan Widya Mitra Semarang.</p>
<p>Europe on Screen 2001 didukung oleh Nescafe Ready To Drink, KitKat, Aqua Reflections, Le Meridien, Majalah Femina, Cita Cinta, Cleo, Grazia, Cinemags, Total Film Indonesia, Flick Online Magazine, Kompas.com, Boleh.com, Surat Kabar Jakarta Globe, Suara Pembaruan, Strait Times, Majalah Kemang Buzz, Campus Indonesia, Jakarta Java Kini, Jalan Jalan, Radio Hard Rock FM , Trax FM dan Metro TV.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Pemutaran Film tentang individu dengan gejala manik depresif dengan gejala skizofrenia</span></strong></p>
<p>Pada kesempatan kali ini, Europe on Screen juga akan menayangkan film yang berkaitan dengan dunia psikologi, yaitu Film Prinsessa. Film Prinsessa mengambil kisah nyata seorang pasien di sebuah rumah sakit jiwa. Cerita ini berlangsung antara tahun 1940-an dan 1950-an, menggambarkan pertentangan antara nilai-nilai modern dan penerimaan pada masa itu. Era baru dipersonifikasikan lewat direktur medis rumah sakit, dan Prinsessa menjadi perlawanan terhadap rasionalitas dan efisiensi.</p>
<p>Anna Lappalainen (1896-1988), seorang penyanyi dan pemijat, menghabiskan lebih dari 50 tahun hidupnya di lembaga perawatan. Karakternya memberikan kesan mendalam bagi para pasien dan staf rumah sakit Kellokoski Finlandia waktu itu.</p>
<p>Prinsessa disutradarai oleh Arto Halonen, seorang pembuat dokumenter yang menerima penghargaan kemanusiaan dari Uni Eropa pada tahun 1988.</p>
<p>Berikut synopsis nya:</p>
<p>Prinsessa mengisahkan tentang seorang pasien terkenal dari Rumah Sakit Jiwa Kellokoski, Anna Lappalainen. Anna yang didiagnosa manik depresif dengan gejala skizofrenia, menganggap dirinya seorang ratu ketika mulai dirawat di rumah sakit itu, dan tidak suka dipanggil dengan namanya sendiri. Kedatangannya memicu perselisihan antara dirinya dan staf rumah sakit tentang identitas dan hak Anna untuk menentukan dirinya sendiri. Lama-kelamaan Rumah Sakit Kellokoski menjadi istana bagi sang ratu, di mana Anna menularkan kegembiraan dan kesembuhan bagi sekitarnya.</p>
<p>• Winner of Grand Prix Jury Prize for Best Film, Cape Winelands Film Festival 2011</p>
<p>• Best Actress, Jussi Awards 2011</p>
<p>• Best Actress, Tallinn Black Nights Film Festival 2011</p>
<p>Selamat Menonton!</p>
<p>Informasi lebih lanjut, hubungi:</p>
<p>Penny PurnawatySponsor &amp; Media Coordinator</p>
<p>Sekretariat Europe on Screen</p>
<p>Jl. Sutan Syahrir 1C/3-4 Menteng</p>
<p>Jakarta Pusat 10350</p>
<p>T. +62 21 3192 5115</p>
<p>F. + 62 21 3192 5360</p>
<p>Mobile: +62 818 984489</p>
<p>penny@europeonscreen.org</p>
<p>www.europeonscreen.org</p>
<p>FB: Europe On Screen | Festival Film Eropa</p>
<p>Twitter: @europeonscreen</p>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Feurope-on-screen-%25e2%2580%2598old-and-young-europe%25e2%2580%2599&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/europe-on-screen-%e2%80%98old-and-young-europe%e2%80%99/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

