<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>RuangPsikologi.Com &#187; edelia</title>
	<atom:link href="http://ruangpsikologi.com/author/edelia/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ruangpsikologi.com</link>
	<description>Webzine Psikologi Modern</description>
	<pubDate>Fri, 11 May 2012 03:33:31 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Ketika Kisah Romeo-Juliet Menjadi Nyata</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/romeo-juliet</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/romeo-juliet#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jan 2010 10:29:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edelia</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi sosial]]></category>

		<category><![CDATA[hubungan romantis]]></category>

		<category><![CDATA[juliet]]></category>

		<category><![CDATA[larangan]]></category>

		<category><![CDATA[orang tua]]></category>

		<category><![CDATA[pacar]]></category>

		<category><![CDATA[pacaran]]></category>

		<category><![CDATA[psikologi]]></category>

		<category><![CDATA[psikologi pacaran]]></category>

		<category><![CDATA[romeo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=866</guid>
		<description><![CDATA[Kadang, penolakan orang tua terhadap pasangan yang dipilih sang anak justru memperkuat hubungan anak tersebut dengan kekasih (gelapnya). Bagaikan kisah Romeo-Juliet. Bagi para orang tua, hindari kesalahan tersebut dengan tips-tips yang ada di akhir artikel.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-867" title="2269713827_4ce1911f16" src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2010/01/2269713827_4ce1911f16-220x300.jpg" alt="2269713827_4ce1911f16" width="220" height="300" />Pernah jatuh cinta pada seseorang atau memiliki pacar yang tidak disukai oleh orangtua Anda? Seberapa besar penilaian orangtua Anda tersebut berpengaruh terhadap diri Anda? Lebih jauh, seberapa besar hal tersebut berpengaruh terhadap hubungan Anda dengan pasangan Anda?</p>
<p>Hal yang wajar apabila pendapat atau penilaian orangtua memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap individu. Orangtua adalah salah satu bagian dari <em>social networks</em>* yang dapat memberikan pengaruh terhadap romantic relationship yang sedang dijalani oleh individu. Felmlee (2001) menemukan bahwa ketika <em>social networks</em> menunjukkan persetujuan terhadap sebuah hubungan, reaksi ini akan menguatkan ikatan antar pasangan tersebut. Sehingga, pendapat dari <em>social networks</em> cukup berpengaruh dan individu cenderung mencari persetujuan dari <em>social networks</em>.</p>
<p>Namun tidak jarang hal yang sebaliknya terjadi. Pada saat individu mendapatkan penolakan dari <em>social networks</em> mengenai hubungannya, semakin kuat keinginan individu untuk mempertahankan hubungannya. Secara umum, individu memiliki kecenderungan untuk berjuang mengatasi berbagai masalah yang menghalangi mereka mendapatkan tujuan mereka. Hal ini dikenal sebagai teori <em>psychological reactance</em> yang dicetuskan oleh Brehm. Teori ini menyatakan bahwa ketika individu kehilangan kebebasan bertindak atau memilih, mereka akan berusaha untuk mendapatkan kembali kebebasan mereka. Demikian pula saat individu merasa kehilangan kebebasannya akibat campur tangan dari <em>social networks</em> nya.</p>
<p>Ingat kisah Romeo and Juliet?</p>
<p>Mungkin kisah ini adalah salah satu kisah paling terkenal yang mengangkat <em>psychological reactance</em> theory, mengenai perjuangan sepasang pemuda dan pemudi untuk mendapatkan cinta mereka. Tak dapat dipungkiri, kisah-kisah semacam ini banyak dijumpai di kehidupan nyata. Ketika orangtua tidak menyetujui hubungannya dengan pasangan, individu tersebut semakin merasa jatuh cinta pada pasangannya. Pola seperti ini akhirnya dikenal sebagai romeo and juliet effect, yang pertama kali diteliti oleh Driscoll, Davis &amp; Lipetz.</p>
<p>Berbagai penelitian menguatkan penelitian Driscoll, David &amp; Lipetz yang menemukan korelasi positif antara campur tangan orang tua dengan bertambah kuatnya cinta dan kepercayaan. Pada tingkat tertentu, hubungan yang dirahasiakan menjadi lebih menarik, terutama apabila hubungan tersebut dikarenakan ketidaksetujuan dari orangtua (Wegner, Lane, &amp; Dimitri, 1994). Selain itu, rasa tidak setuju dari keluarga mendorong pasangan untuk menghadapi dan menyesaikan masalah dengan anggota keluarga tersebut, sehingga menguatkan hubungan mereka (Felmlee, 2001).</p>
<p>Jadi, para orangtua, apa yang harus dilakukan untuk mempengaruhi anak namun tidak menciptakan <em>psychological reactance</em> pada diri mereka?</p>
<p>Ada empat strategi mempengaruhi seseorang yang paling sering digunakan. Keempat strategi ini seperti matriks positif – negatif dan langsung – tidak langsung. Keempat strategi itu adalah (Moss, 2008):<br />
1. Positif dan langsung; mencakup argumen rasional dan logis<br />
2. Positif dan tidak langsung; menggunakan humor dan berbicara dengan perspektif orang tersebut – dalam hal ini, orangtua mencoba melihat dari sudut pandang anak.<br />
3. Negatif dan langsung; melalui kritik dan perintah, terkadang disertai dengan emosi seperti marah<br />
4. Negatif dan tidak langsung; seperti dengan memanipulasi perasaan dengan airmata.<br />
Diantara keempat strategi ini, strategi positif dan tidak langsung dianggap sebagai yang paling berhasil dalam mempengaruhi anak. Hindari penggunaan strategi langsung terhadap anak. Selain itu, jangan sampai menunjukkan penolakan secara berlebihan, karena dapat membuat pasangan sang anak akan terlihat lebih menarik daripada yang sebenarnya.</p>
<p>*cat.: <em>Social networks</em> terdiri dari orang-orang yang berhubungan dengan pasangan romantis. Namun, yang termasuk <em>social networks</em> ini juga harus memiliki opini terhadap hubungan tersebut (Fellows, t.thn).</p>
<p>Referensi:<br />
Fellows, J. (t.thn). Personality Differences on Need for Approval for Romantic Relationships from Social Networks. Thesis. Haverford College Psychology Department<br />
Felmlee, D. H. (2001). No Couple is An Island: A Social Network Perspective on Dyadic Stability. Social Forces, 79, 1259-1287.<br />
Miller, R. S., Perlman, D., &amp; Brehm, S. S. (2007). Intimate Relationship. New York: McGraw-Hill.<br />
Moss, D. S. (2008, October 18). Psychological reactance theory. Retrieved September 28, 2009, from Psychlopedia: <a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;011cbcf688ee148b838496bf0de65530&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://www.psych-it.com.au/Psychlopedia/article.asp?id=65" target="_blank"><span>http://www.psych-it.com.au</span><span>/Psychlopedia/article.asp?</span>id=65</a><br />
Rawlins, R. (2006). The Effect of Social Network Disapproval on Partners’ Dating Relationship: The Romeo and Juliet Effect. Thesis.Utah State University.<br />
Wegner, D. M., Lane, J. D., &amp; Dimitri, S. (1994). The Allure of Secret Relationship. Journal of Personality and Social Psychology, 66, 287-300.</p>
<p><em>Sumber foto</em>: http://www.flickr.com/photos/tschopper/2269713827/</p>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fromeo-juliet&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/romeo-juliet/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pembicara bijaksana: Hilangkan Meaningless Words</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/pembicara-bijaksana-hilangkan-meaningless-words</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/pembicara-bijaksana-hilangkan-meaningless-words#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 14:19:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edelia</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi Industri & Behavioral Economy]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi sosial]]></category>

		<category><![CDATA[bicara di depan umum]]></category>

		<category><![CDATA[psikologi]]></category>

		<category><![CDATA[public speaking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=778</guid>
		<description><![CDATA[“Perbedaan antara orang pintar dan orang bijaksana adalah orang pintar tahu apa yang harus dikatakan, sementara orang bijaksana tahu perlu tidaknya kalimat tersebut dikatakan" (Frank M. Garafola). Maka, jadilah seseorang yang tahu betul apa yang ingin diucapkan sebelum berbicara. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: center;" align="center"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Calibri;"><img class="alignleft size-medium wp-image-779" title="effective-speaker" src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2009/12/bull-horn-finished-3-300x89.jpg" alt="effective-speaker" width="300" height="89" />“Perbedaan antara orang pintar dan orang bijaksana adalah orang pintar tahu apa yang harus dikatakan, sementara orang bijaksana tahu perlu atau tidak kalimat tersebut dikatakan” <em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="mso-bidi-font-family: Tahoma;">– Frank M Garafola – </span></em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: center;" align="center"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="mso-bidi-font-family: Tahoma;"><span style="font-size: small; font-family: Calibri;"> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="mso-bidi-font-family: Tahoma;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Calibri;">“Yaa gitu deh.”</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify;"><span style="mso-bidi-font-family: Tahoma;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Calibri;">Seberapa sering kita mendengar kalimat seperti ini? Mungkin sudah tak terhitung banyaknya. Rasanya cukup sulit untuk memahami maksud si pembicara tanpa adanya probing<em style="mso-bidi-font-style: normal;"> </em>lebih lanjut. Karena memang pada dasarnya kalimat ini tidak memiliki makna, atau <em style="mso-bidi-font-style: normal;">meaningless words. </em>Di beberapa literatur juga didapatkan istilah yang tak jauh berbeda, yaitu <em style="mso-bidi-font-style: normal;">powerless words </em>dan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">vocalizers</em>.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify;"><span style="mso-bidi-font-family: Tahoma;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Calibri;">Sayangnya, kalimat tanpa makna ini tidak hanya muncul pada percakapan sehari-hari, tetapi juga dapat muncul dalam sebuah forum formal. Kata-kata ini juga dapat muncul dalam sebuah diskusi, seminar, ataupun wawancara di televisi. Tak jarang kita temukan seorang pembicara yang sangat cerdas namun menjawab pertanyaan dari pembawa acara dengan kata-kata seperti “Gitu loh”. Contoh lain yang sering terucap adalah “Umm&#8230;” atau “Eeeeh&#8230;” yang seringkali dipergunakan untuk mengisi kekosongan atau jeda berpikir saat sedang berbicara. Padahal, penggunaan kata-kata ini dapat menimbulkan kesan negatif pada pembicara. Salah satunya menyebabkan pembicara terlihat tidak memiliki rasa percaya diri, tidak yakin, tidak siap berbicara, atau lebih lagi terlihat tidak terlalu cerdas (Hunt, 1981; Berkley, 2002). </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify;"><span style="mso-bidi-font-family: Tahoma;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Calibri;">Menurut ketiga pendiri sekolah TALK-inc, Sriewijono, Tumewu, &amp; Parengkuan (2008), ada tiga alasan yang menjelaskan penyebab seringnya kata-kata tanpa makna tersebut kita ucapkan. <strong style="mso-bidi-font-weight: normal;">Pertama, sebagian besar orang berbicara tanpa berpikir. </strong>Kata-kata spontan ini seringkali muncul apabila tidak tersedia waktu untuk berpikir, atau karena sedang tidak terpikir apa yang akan dibicarakan. Misalnya ketika seorang pembicara yang tiba-tiba ditanya oleh pendengar atau ketika pertanyaan dari pendengar cukup menyulitkannya. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Calibri;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="mso-bidi-font-family: Tahoma;">Kedua, sebagian besar orang berbicara hanya dari sudut pandangnya.</span></strong><span style="mso-bidi-font-family: Tahoma;"> Terkadang seorang pembicara lupa bahwa pendengarnya tidak memiliki sudut pandang dan kerangka berpikir yang sama. Misalnya pembicara lupa bahwa pendengarnya belum tentu memiliki pengetahuan dasar yang sama dengannya. Sehingga, pembicara sering menggunakan kata “ya begitu” tanpa menjelaskan apa makna “begitu” yang dia maksud. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Calibri;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="mso-bidi-font-family: Tahoma;">Ketiga, sebagian besar orang berbicara tanpa memperhatikan dampaknya. </span></strong><span style="mso-bidi-font-family: Tahoma;">Banyak orang yang tidak mempertimbangkan akibat dari kata-kata yang dikeluarkannya. Seperti misalnya pernyataan “kasian deh lo” seperti sudah tidak jelas tujuannya. Apakah kalimat ini untuk menyatakan empati atau sedang mengejek. Sayangnya, banyak orang yang berkomentar seperti itu namun tidak mempertimbangkan kemungkinan pengaruhnya terhadap orang yang diajak bicara. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify;"><span style="mso-bidi-font-family: Tahoma;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Calibri;">Melihat akibat negatifnya, kata-kata tanpa makna ini dapat menjadi “virus” bagi seorang pembicara. Oleh karena itu, ada beberapa tips untuk meminimalisir penggunaan kata-kata ini.</span></span></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin: 0cm 0cm 0pt 14.2pt; text-indent: -14.2pt; text-align: justify; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo1;"><span style="mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;"><span style="mso-list: Ignore;"><span style="font-size: small; font-family: Calibri;">1.</span><span style="font: 7pt &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Calibri;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="mso-bidi-font-family: Tahoma;">Diagnosa masalah. </span></strong><span style="mso-bidi-font-family: Tahoma;">“Virus” ini bersifat <em style="mso-bidi-font-style: normal;">unconscious, </em>sehingga terkadang kita tidak sadar telah mengucapkannya. Salah satu cara untuk mendiagnosa seberapa besar “virus” ini telah mempengaruhi penampilan kita adalah dengan<strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"> merekam </strong>ketika kita sedang berbicara di depan umum. Kemudian, dengarkan kembali rekaman tersebut dan tandai ketika kata-kata tersebut terucap. Hal ini dapat melatih pendengaran kita agar mampu cepat mengidentifikasikan kata-kata tanpa makna tersebut.<strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"></strong></span></span></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0pt 14.2pt; text-indent: -14.2pt; text-align: justify; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo1;"><span style="mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;"><span style="mso-list: Ignore;"><span style="font-size: small; font-family: Calibri;">2.</span><span style="font: 7pt &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Calibri;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="mso-bidi-font-family: Tahoma;">Berhenti bicara </span></strong><span style="mso-bidi-font-family: Tahoma;">ketika tiba-tiba menyadari pengucapan kata-kata tanpa makna tersebut, atau saat merasa kata-kata tersebut akan keluar. Oleh karena itu, penting sekali kemampuan yang didapat dari poin pertama di atas. Jangan merasa takut untuk diam sebentar di sela-sela presentasi, karena ternyata apabila tidak lebih dari 5 detik, pendengar tidak akan terlalu menyadari hal tersebut. Selain dapat membantu mengumpulkan kata-kata yang sempat hilang tersebut, <em style="mso-bidi-font-style: normal;">pause </em>tersebut juga sekaligus memberikan waktu bagi pendengar untuk merefleksikan apa yang baru saja pembicara katakan. Apabila keheningan sesaat itu masih terasa menakutkan, <strong style="mso-bidi-font-weight: normal;">tarik nafas, </strong>baru mulai bicara. Hal ini dapat membantu tetap tenang, dan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">pause </em>tersebut tidak lagi terasa begitu menakutkan. </span></span></span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin: 0cm 0cm 10pt 14.2pt; text-indent: -14.2pt; text-align: justify; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo1;"><span style="mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;"><span style="mso-list: Ignore;"><span style="font-size: small; font-family: Calibri;">3.</span><span style="font: 7pt &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Calibri;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="mso-bidi-font-family: Tahoma;">Minta bantuan</span></strong><span style="mso-bidi-font-family: Tahoma;"> pada teman ataupun keluarga. Minta mereka untuk mengingatkan kita apabila kata-kata tersebut muncul. Apabila hal ini konstan dilakukan, mampu membantu menghilangkan kebiasaan buruk ini lebih cepat.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify;"><span style="mso-bidi-font-family: Tahoma;"><span style="font-size: small; font-family: Calibri;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: center;" align="center"><span style="mso-bidi-font-family: Tahoma;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Calibri;">Jadi, ingin menjadi orang pintar atau orang bijaksana?</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify;"><span style="mso-bidi-font-family: Tahoma;"><span style="font-size: small; font-family: Calibri;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="mso-bidi-font-family: Tahoma;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Calibri;">Referensi</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify;"><span style="mso-bidi-font-family: Tahoma;"><span style="font-size: small; font-family: Calibri;">Berkley, S. (2002, February 7). How to Cure the &#8220;Verbal Virus&#8221; A Five-Step Treatment Plan. Retrived October 19, 2009, from School for Champions : </span></span><span style="mso-bidi-font-family: Tahoma;"><span style="font-size: small; font-family: Calibri;">http://www.school-for-champions.com</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: EN-US;" lang="EN-US">Hunt, G. T. (1981). <em>Public Speaking.</em> New Jersey: Prentice-Hall, Inc.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify;"><span style="mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: EN-US;" lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: Calibri;">Sriewijono, A., Tumewu, B., &amp; Parengkuan, E. (2008). <em>TALK-inc. points.</em> Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify;"><span style="mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: EN-US;" lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: Calibri;">sumber foto: http://conservationprofessional.files.wordpress.com/2009/02/bull-horn-finished-3.jpg</span></span></p>
<input id="gwProxy" type="hidden"><!--Session data--></input>
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fpembicara-bijaksana-hilangkan-meaningless-words&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/pembicara-bijaksana-hilangkan-meaningless-words/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Meramu Pemimpin Ideal</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/meramu-pemimpin-ideal</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/meramu-pemimpin-ideal#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Jun 2009 03:20:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edelia</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi sosial]]></category>

		<category><![CDATA[bangsa]]></category>

		<category><![CDATA[leader]]></category>

		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>

		<category><![CDATA[psikologi]]></category>

		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=213</guid>
		<description><![CDATA[Seperti apakah pemimpin yang tepat untuk sebuah bangsa? Apakah pemimpin yang sesuai dengan situasi yang dihadapi bangsa tersebut? Atau, pemimpin yang memiliki kepribadian karismatik?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-214" title="2995996710_fd2129b8f0" src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2009/06/2995996710_fd2129b8f0-300x199.jpg" alt="2995996710_fd2129b8f0" width="300" height="199" />Pencarian sosok seorang pemimpin yang tepat memang tak akan pernah ada habisnya. Demikian pula yang terjadi di Indonesia. Menjelang pemilu presiden 2009, berbagai acara bermunculan untuk menjawab pertanyaan yang kurang lebih sama: Bagaimanakah sosok pemimpin ideal Indonesia 2009-2014. Berbagai ahli didatangkan, dari pengamat ekonomi, sosial politik, dan termasuk ahli psikologi. Namun untuk mampu menjawab pertanyaan tersebut, perlu diketahui ramuan dasar dari sosok pemimpin yang ideal, yaitu dasar analisis ketika para ahli mencoba meramalkan keberhasilan para calon presiden. Asumsi awal saya, keberhasilan seorang calon presiden akan bergantung dengan bagaimana kecocokan kepribadian serta visi dan misinya terhadap situasi negara saat itu. Dengan kata lain, seorang pemimpin Indonesia akan muncul sesuai dengan tuntutan situasinya saat itu. Contohlah mantan presiden Soekarno yang anti-imperialisme, tegas dalam berprinsip, dan membawa semangat revolusi (http://tokohindonesia.com), sehingga tepat dalam memimpin Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Namun hal ini berbeda dengan presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memiliki pembawaan tenang, berwibawa, serta bertutur kata bermakna dan sistematis (http://tokohindonesia.com) yang akhirnya terpilih dalam pemilihan presiden secara langsung untuk pertama kalinya di tahun 2004. Perbedaan situasi pada dua masa tersebut ternyata menghasilkan dua pemimpin yang sangat berbeda kepribadiaannya. Kondisi ini dikenal dengan pandangan situasionalis.</p>
<p>Pandangan situasionalis menekankan bahwa pemimpin terpilih tidak lebih dari sebuah refleksi budaya dan nilai dalam masyarakat pada masa itu (House, Spangler, &amp; Woycke, 1991). Situasi pada masyarakat yang sedang menggembar-gemborkan demokrasi misalnya, menghasilkan sosok seorang pemimpin yang berani berbicara dan tidak konservatif. Namun hal ini dapat dimaknai sebaliknya, seorang pemimpin yang berani berbicara dan tidak konservatif akan terpilih dan sukses pada situasi di mana demokrasi sedang didengungkan. Pada titik ini, saya belum menemukan penelitian yang menemukan variabel mana yang mempengaruhi variabel lainnya.</p>
<p>Hubungan antara kepribadian pemimpin dengan situasinya disebut juga sebagai leader-situational match, yang menyebutkan bahwa the leader&#8217;s appeal dan kesuksesannya tergantung pada situasi, sehingga karakteristik kepribadian yang dibutuhkan oleh seorang calon pemimpin akan bervariasi tergantung situasi (Winter, 1987). Hal ini tercermin pada sosok para mantan pemimpin dan pemimpin Indonesia saat ini yang hampir tidak memiliki kesamaan satu dengan yang lainnya. Selain itu, begitu situasi negara berubah, maka pemimpin dengan kepribadian yang tidak cocok dengan kondisi negara tidak akan bertahan lama. Contohlah Soeharto sebagai sosok yang memiliki kontrol yang kuat terhadap dirinya maupun orang di sekitarnya (http://www.tempointeraktif.com) akhirnya lengser dari tampuk kekuasaan tertinggi di Indonesia setelah tuntutan akan demokrasi semakin tinggi.</p>
<p>Namun pandangan situasionalis tidak mampu menjelaskan secara menyeluruh mengenai para pemimpin yang berhasil. Apakah mereka hanyalah sekedar the right man on the right place in the right time?</p>
<p>Menurut House, Spangler, &amp; Woycke (1991), pada pertengahan 1970an, mulai muncul teori-teori baru mengenai kepemimpinan yang tidak lagi menekankan pada pengaruh situasional, melainkan pada kepribadian pemimpin tersebut. Mulailah dikenal istilah kepemimpinan yang karismatik, dimana pemimpin tersebut dapat merubah kebutuhan, nilai, preferensi, dan aspirasi dari pemilih melalui tingkah laku, kepercayaan, dan contoh personal dari dirinya sendiri. Seorang pemimpin yang karismatik adalah seseorang yang mampu menumbuhkan kepercayaan masyarakat, memiliki kedekatan secara emosional dengan pengikutnya, dan mampu membuat pengikutnya berjuang bukan hanya karena berdasarkan self-interest semata sehingga mereka memiliki motivasi kolektif. Hasilnya, muncul motivasi untuk mencapai tujuan bersama pada masyarakat dan terbentuklah masyarakat yang kuat. Teori ini mencoba mematahkan pandangan bahwa situasilah yang menentukan tipe pemimpin seperti apa yang akan terpilih atau berhasil nantinya.</p>
<p>Mungkin inilah yang kurang ada dalam diri pemimpin Negara Indonesia. Mungkin, hal  inilah yang menyebabkan bangsa Indonesia seakan-akan belum menemukan ‘pemimpin yang tak lekang dimakan zaman’. Sosok pemimpin yang tidak akan jatuh walaupun situasi berubah. Dan – lagi-lagi – mungkin, jawabannya ada pada sosok pemimpin karismatik. Hal ini memang baru sebuah kemungkinan. Namun setidaknya sebuah survei oleh Lead Institute, Universitas Paramadina dan Indo Barometer (http://www.antara.co.id) menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia memang merindukan pemimpin yang karismatik.</p>
<p>Apakah saya mencoba menyatakan bahwa pandangan situasionalis salah besar? Dengan segala hormat terhadap eyang-eyang situasionalis, tentu saja tidak. Saya mencoba membayangkan sosok seorang pemimpin karismatik yang muncul di saat yang tepat. Coba saja bayangkan seorang pemimpin yang merefleksikan nilai yang dianut oleh rakyatnya sehingga mampu membuat rakyatnya mau bergerak dengannya untuk tujuan bersama. Sepertinya saya dapat melihat sosok pemimpin besar, dengan fondasi yang kokoh. Mungkin saja, itu adalah ramuan yang tepat untuk menemukan pemimpin ideal.</p>
<p>Sumber:<br />
<em>House, R. J., Spangler, W. D., &amp; Woycke, J. (1991). &#8220;Personality and Charisma in the U.S. Presidency: A Psychological Theory of Leader Effectiveness&#8221;. Administrative Science Quarterly, 36, (3), 364-396.<br />
</em></p>
<p><em>Winter, D. G. (1987). “Leader Appeal, Leader Performance, and the Motive Profiles of Leaders and Followers: A Study of American Presidents and Elections”. Journal of Personality and Social Psychology, 52, (1), 196-202.<br />
</em></p>
<p><em>http://tokohindonesia.com<br />
</em></p>
<p><em>http://www.antara.co.id<br />
</em></p>
<p><em>http://www.tempointeraktif.com<br />
</em></p>
<p>Foto: http://www.flickr.com/photos/zondar/2995996710/</p>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fmeramu-pemimpin-ideal&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/meramu-pemimpin-ideal/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dunia Gay dalam Media</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/dunia-gay-dalam-media</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/dunia-gay-dalam-media#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 May 2009 03:23:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edelia</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi sosial]]></category>

		<category><![CDATA[gay]]></category>

		<category><![CDATA[komunitas]]></category>

		<category><![CDATA[media]]></category>

		<category><![CDATA[psikologi]]></category>

		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Menurut saya, media sedikit banyak memiliki peran dalam penerimaan dan penolakan terhadap suatu budaya. Tak terkecuali budaya homoseksualitas.
Anggap saja saya ketinggalan, tapi saya tetap kaget melihat isi sebuah majalah gay terbitan Amerika. Majalah ini adalah majalah pertama yang ditujukan untuk gay dan lesbian dan kemudian terus berkembang untuk mengungkapkan budaya gay, seni, fashion, tren, dan komunitas gay secara umum. Yang membuat saya kaget, majalah ini sangat membuka sebuah jendela baru ke dunia homoseksualitas dengan pengungkapan dan penggambaran yang jauh dari kesan seronok atau apapun yang sejenisnya. Jauh dari apa yang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menurut saya, media sedikit banyak memiliki peran dalam penerimaan dan penolakan terhadap suatu budaya. Tak terkecuali budaya homoseksualitas.<br />
Anggap saja saya ketinggalan, tapi saya tetap kaget melihat isi sebuah majalah gay terbitan Amerika. Majalah ini adalah majalah pertama yang ditujukan untuk gay dan lesbian dan kemudian terus berkembang untuk mengungkapkan budaya gay, seni, fashion, tren, dan komunitas gay secara umum. Yang membuat saya kaget, majalah ini sangat membuka sebuah jendela baru ke dunia homoseksualitas dengan pengungkapan dan penggambaran yang jauh dari kesan seronok atau apapun yang sejenisnya. Jauh dari apa yang saya bayangkan sebelumnya. Hal inilah yang membuat majalah ini menjadi sukses: <span style="font-style: italic;">A key ingredient in Out&#8217;s success in attracting high brow advertisers who had never considered targeting the gay market before was the magazine&#8217;s offering of a safe environment in which no adult material or personal classifieds were published.</span><br />
Majalah ini menjadi sangat menarik menurut saya. Dengan penulisannya yang terasa dekat dengan kehidupan – terutama karena memang karena para penulisnya adalah para gay pula – majalah ini mampu mengangkat kehidupan dunia gay seakan memang merupakan kehidupan yang berkembang di dunia ini saat ini. Contohlah tulisan ini yang mengangkat fenomena gay:</p>
<p><span style="font-style: italic;"> On Valentine’s Day my boyfriend tells me he can’t ejaculate &#8212; not with me, at least. “Sorry,” says Bam. “I’m saving it for the sperm bank.” Excuse me? “The appointment is all organized,” he continues with blithe indifference. “The lesbian is about to ovulate.” Blech. Spare me the science fiction.</span><br />
<span style="font-style: italic;"> It’s not the most romantic gesture in the world when your boyfriend leaves you on Valentine’s Day to go drop a full load at the sperm bank for a pair of lesbians hot for his genes, but he made this Faustian bargain long before we met. As potential padre to an artificially inseminated gayby &#8212; for whom the lesbians will be primary caregivers &#8212; Bam wouldn’t have any legal rights or responsibilities. He wants only minimal involvement. He promised it would never affect our relationship. Liar.</span></p>
<p>Atau mungkin tulisan mengenai body electric school berikut ini:</p>
<p><span style="font-style: italic;"> On a recent Saturday around 11 a.m., I found myself naked with 30 other men, blindfolded, lying on a towel and pleasuring myself with a spurt of coconut oil. I was at Celebrating the Body Erotic &#8212; a course offered by the Body Electric School that is designed to teach men to “awaken the erotic energy that lies within all of us.” The group had spent the morning getting to know each other through various exercises, and two hours in we were sans clothes and fondling ourselves.</span><br />
<span style="font-style: italic;"> Our leader was Michael &#8212; a spry, gray-haired man with a quick gay wit. The purpose of the blindfold, he said, was to help us get out of our heads and turn our minds inward. If you needed more coconut oil, you could raise one hand while cupping the other one at your hip, and a naked assistant would come by and squirt more into it. Along with his four or five assistants, Michael, also naked, urged us to try different areas with the oil: between the thighs, the scrotum, the stomach &#8212; pretty much everywhere but the penis. In fact, throughout the day, as we danced, breathed, hugged, and caressed each other, we were encouraged to refrain from ejaculation.</span><br />
<span style="font-style: italic;"> Michael suggested we arch our backs. I thrust my pelvis into the air and tried to enjoy myself, but I felt like an amateur porn actress trying to be sexy. I couldn’t shake the thought that the Body Electric team was watching &#8212; even if it was “without judgment.” I felt a little dumb and inhibited &#8212; which was surprising since, as a 38-year-old single gay New Yorker, I have been in more compromising positions.</span></p>
<p>Ya, majalah ini memang telah membawa sebuah budaya mengenai dunia gay. Akibatnya? Mungkin sebuah penerimaan terhadap budaya ini. Atau malah penolakan yang semaakin meluas. Tetapi apapun yang akan terjadi nantinya, budaya seperti ini memang ada. Tertarik dengan majalah ini? klik saja <a href="http://out.com">Out.com</a> (Tazki)</p>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fdunia-gay-dalam-media&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/dunia-gay-dalam-media/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

