<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>RuangPsikologi.Com &#187; amarilldo</title>
	<atom:link href="http://ruangpsikologi.com/author/amarildo/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ruangpsikologi.com</link>
	<description>Webzine Psikologi Modern</description>
	<pubDate>Fri, 11 May 2012 03:33:31 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Situs Jejaring Sosial, Produktivitas dan Perilaku</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/situs-jejaring-sosial-produktivitas-dan-perilaku</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/situs-jejaring-sosial-produktivitas-dan-perilaku#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 09:08:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amarilldo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi sosial]]></category>

		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[Internet]]></category>

		<category><![CDATA[klinis]]></category>

		<category><![CDATA[perilaku]]></category>

		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>

		<category><![CDATA[psikologi]]></category>

		<category><![CDATA[situs jejaring sosial]]></category>

		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=879</guid>
		<description><![CDATA[ketika situs jejaring sosial semakin marak digunakan, ketika manusia dihadapkan kepada kemajuan teknologi secara cepat dan arus informasi tiada henti, maka dengan sendirinya akan menghasilkan perubahan dalam kehidupan manusia. Pembaruan secara cepat yang terjadi sekarang ini adakah membawa kebaikan ataukah petaka tersendiri pada manusia? temukan jawabannya pada artikel ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-880" title="555666" src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2010/01/facebook-300x223.jpg" alt="555666" width="300" height="223" />Salah satu situs jejaring sosial, yaitu Facebook, akhir-akhir ini seringkali tidak dapat diakses oleh karyawan dalam beberapa perusahaan atau juga dalam lembaga pendidikan, penyebabnya adalah berkaitan dengan produktivitas, dimana telah terbukti bahwa mereka yang mengakses jejaring sosial pada saat bekerja mengalami penurunan produktivitas, walau masing-masing dengan hasil yang beragam.</p>
<p>Seperti di India sendiri pada akhir tahun 2009 melaporkan bahwa dari hasil penelitian ditemukan bahwa para pekerja yang menggunakan situs jejaring sosial saat waktu bekerja telah kehilangan 12,5% dari produktivitasnya, penelitian ini dilakukan atas sekitar 4000 karyawan dari berbagai perusahaan di berbagai daerah di India.</p>
<p>Sebenarnya Amerika yang merupakan negeri asal dari beberapa situs jejaring sosial sendiri telah melakukan pelarangan akses terhadap beberapa situs jejaring yang populer sejak tahun beberapa tahun lalu, walau tidak merata pada setiap tempat, kemudian pada tahun 2009 sendiri ditemukan laporan bahwa 54% dari perusahaan di Amerika telah melakukan pelarangan akses untuk beberapa situs jejaring sosial, yang dengan kata lain 54% perusahaan memandang situs jejaring sosial adalah “bahaya” tersendiri bagi perusahaan.</p>
<p>Alasan pemberlakuan kebijakan ini adalah karena terjadi pembuangan waktu secara sia-sia atau pengalihan fokus pada hal yang sia-sia, dikarenakan para pekerja yang menggunakan situs jejaring sosial saat jam kerja penggunaannya bukanlah untuk kepentingan perusahaan melainkan untuk kepentingan pribadi yang juga tidak memiliki hubungan dengan pekerjaan.</p>
<p>Demikian juga halnya dengan dunia pendidikan dimana dilaporkan bahwa penggunaan situs jejaring sosial telah membuat para peserta didik menjadi lebih malas untuk belajar sehingga mengalami penurunan nilai dalam pelajaran atau kuliah.</p>
<p>Untuk di Indonesia sendiri belum ada penelitian khusus yang membahas antara produktivitas dan kegiatan di dunia maya pada perusahaan dan juga dunia pendidikan. Juga kita belum memiliki data berapa banyak perusahaan yang melarang akses terhadap situs jejaring sosial. Mungkin cara termudah untuk mengetahui apakah hal tersebut benar-benar ada dalam kehidupan kita adalah dengan melihat apakah pernah diri kita atau orang lain yang ada disekitar kita yang mendapat peringatan atau teguran dari atasan berkaitan dengan terbengkalainya pekerjaan yang menjadi tanggung jawab akibat terlalu banyak menghabiskan waktu di depan komputer atau smart-phone.</p>
<p>Sudah tidak bisa disangkal lagi bahwa keasyikan kita terhadap dunia maya yang kian memikat cenderung menjadikan kita terlupa akan fokus apa yang sedang kita kerjakan, berdampak pada produktivitas kita dalam bekerja dan juga berkarya, melakukan kegiatan sia-sia yang tidak berdampak baik pada apa yang telah kita rencanakan. Namun apakah sedemikian parah?</p>
<p>Terkait dengan artikel sebelumnya, <a href="http://ruangpsikologi.com/gangguan-kecanduan-internet" target="_blank">gangguan kecanduan Internet</a>, tentang teknologi yang diciptakan dengan tujuan mempermudah kehidupan manusia dan memberikan kesempatan kepada manusia untuk melakukan sesuatu yang lebih baik daripada yang sebelumnya, dan bukan seperti yang terjadi sekarang ini ketika manusia tidak memiliki kemampuan dalam mengendalikan teknologi yang dimiliki yang juga merupakan hasil penciptaannya sendiri.</p>
<p>Manusia menjadi “budak” dari teknologi itu sendiri, hal ini terbukti dari bagaimana terdapat manusia yang tidak dapat mengendalikan kepentingannya dalam berinteraksi didunia maya, dalam kasus ini adalah situs jejaring sosial, yang terbukti penggunaannya berakibat langsung kepada produktivitas, entah itu bagi karyawan perusahaan, pengusaha dan juga para pelajar, bahkan untuk para ibu, yang mana telah mengurangi jatah perhatian terhadap anak-anaknya dan lebih sering memperhatikan pergerakan kawan-kawannya di dunia maya melalui situs jejaring sosial.</p>
<p>Penciptaan teknologi yang semakin canggih jelas sekali kalau tujuannya bukanlah untuk menjadikan nilai para pelajar menjadi merosot, juga bukan agar para pegawai menjadi individu yang gemar menyia-nyiakan waktu, dan juga bukan agar seorang ibu melupakan perhatian terhadap anaknya. Jelas sekali bukan!</p>
<p>Dengan demikian maka permasalahan bukanlah pada situs jejaring sosial melainkan pada perilaku manusia itu sendiri, tidak butuh untuk menjadi seorang ahli dalam perilaku manusia untuk melihat hal ini. Kembali kepada kemampuan manusia dalam mengendalikan perilakunya, menetapkan fokusnya dan juga kemampuannya dalam memaksimalkan setiap sarana dan prasarana yang tersedia.</p>
<p>Dengan terjadinya pelarangan akses terhadap situs jejaring sosial telah membuktikan bahwa antara manusia dan teknologi bersifat tidak saling membantu, dengan kata lain manusia telah menciptakan sesuatu yang terlalu tinggi bagi dirinya sendiri, manusia belum siap dengan teknologi yang telah mereka ciptakan sendiri.</p>
<p>Maka yang perlu diperhatikan adalah pengendalian masing-masing individu terhadap perilakunya. Euphoria yang mereka rasakan dalam situs jejaring sosial terkadang menjadi candu tersendiri bagi individu, bukan berarti kita harus menyalahkan teknologi melainkan kepada kemampuan manusia sendiri yang tidak dapat mengendalikan perilakunya.</p>
<p>Dengan demikian adalah penting bagi individu untuk dapat mengendalikan perilakunya, caranya adalah dengan menjadi manusia yang berpegang pada fokus, mengubah diri menjadi individu yang efisien dalam menjalani tugas-tugas keseharian. membagi waktu dengan baik dan juga pemanfaatan sarana dan prasarana dengan maksimal, sehingga setiap usaha dan penetapan tujuan memberikan yang terbaik dalam setiap hasil akhir.</p>
<p>semoga saja kesenangan terhadap situs jejaring sosial yang sekarang terjadi hanya merupakan suatu bentuk pembelajaran dari kemunculan jejaring sosial itu sendiri hanya yang baru beberapa saat saja usianya, kecenderungan manusia yang terus berubah diharapkan kedepan akan sudah menyesuaikan antara kebutuhan mereka dengan segala macam aplikasi canggih yang tersedia di dunia maya. Bukankah keberadaan jejaring sosial yang dimanfaatkan dengan tepat guna dapat memberikan keuntungan bagi segala jenis aktifitas anda? Pasti!</p>
<p>(Amarilldo)</p>
<p>Sumber:<br />
http://news.bbc.co.uk/2/hi/south_asia/8423888.stm</p>
<p>http://www.psychologytoday.com/blog/positively-media/200910/facebooking-work</p>
<p>http://www.computerworld.com/s/article/9139020/Study_54_of_companies_ban_Facebook_Twitter_at_work</p>
<p>http://tekno.kompas.com/read/xml/2009/04/15/10590447/</p>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fsitus-jejaring-sosial-produktivitas-dan-perilaku&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/situs-jejaring-sosial-produktivitas-dan-perilaku/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Gangguan Kepribadian Paranoid: Definisi, Gejala, Penyebab dan Penanggulangan</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/gangguan-kepribadian-paranoid</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/gangguan-kepribadian-paranoid#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2010 13:53:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amarilldo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi klinis]]></category>

		<category><![CDATA[gangguan]]></category>

		<category><![CDATA[kepribadian]]></category>

		<category><![CDATA[klinis]]></category>

		<category><![CDATA[paranoid]]></category>

		<category><![CDATA[psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=855</guid>
		<description><![CDATA[Artikel kali ini memberikan kepada para pembaca tentang pengenalan dasar berkenaan dengan gangguan kepribadian paranoid.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-856" title="paranoid" src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2010/01/paranoid-300x232.jpg" alt="paranoid" width="300" height="232" />Kepribadian merupakan kata yang menunjukkan pola berperilaku yang menetap pada diri seseorang dan juga cara diri seseorang tersebut dalam merasakan sesuatu. Karakter kepribadian secara mencolok membedakan diri seseorang dengan orang lain, dikatakan bukan sebagai sesuatu yang bersifat patologis jika terkadang suatu model kepribadian tertentu menciptakan suatu masalah interperseonal dengan orang lain, hal tersebut hanyalah sebuah benturan kecil dari perbedaan tersebut.</p>
<p>Lain halnya dengan gangguan Kepribadian yang dimana merupakan pola kronis dari perasaan dan tingkahlaku yang mana secara mencolok menyimpang dari kebiasaan dan harapan yang berlaku dalam kehidupannya entah norma secara kelompok atau pribadi. Mereka yang mengalami gangguan kepribadian cenderung akan berperilaku kaku, tidak fleksibel dan maladaptif, serta mengarahkan penderita pada hilangnya fungsi mental seperti terjadinya perasaan kalut dan kesedihan yang bersifat merusak di dalam diri penderita.</p>
<p><strong>Definisi Gangguan Kepribadian Paranoid</strong></p>
<p>Terdapat banyak jenis gangguan kepribadian yang dapat menyerang mental seseorang, salah satunya adalah gangguan kepribadian paranoid, yang mana berbentuk kesalahan dalam mengartikan perilaku orang lain sebagai suatu hal yang bertujuan menyerang atau merendahkan dirinya. Gangguan biasa muncul pada masa dewasa awal yang mana merupakan manifestasi dari rasa tidak percaya dan kecurigaan yang tidak tepat terhadap orang lain sehingga menghasilkan kesalahpahaman atas tindakan orang lain sebagai sesuatu yang akan merugikan dirinya.</p>
<p>Para penderita gangguan kepribadian paranoid cenderung tidak memiliki kemampuan untuk menyatakan perasaan negatif yang mereka miliki terhadap orang lain, selain itu mereka pada umumnya juga tidak kehilangan hubungan dengan dunia nyata, dengan kata lain berada dalam kesadaran saat mengalami kecurigaan yang mereka alami walau secara berlebihan. Penderita akan merasa sangat tidak nyaman untuk berada bersama orang lain, walaupun di dalam lingkungan tersebut merupakan lingkungan yang hangat dan ramah. Dimana dan bersama siapa saja mereka akan memiliki perasaan ketakutan akan dikhianati dan dimanfaatkan oleh orang lain.</p>
<p><strong>Gejala</strong></p>
<p>Beberapa gejala yang ditunjukan dalam gangguan kepribadian paranoid antara lain adalah:</p>
<p>1. Kecurigaan yang sangat berlebihan.</p>
<p>2. Meyakini akan adanya motif-motif tersembunyi dari orang lain.</p>
<p>3. Merasa akan dimanfaatkan atau dikhianati oleh orang lain.</p>
<p>4. Ketidakmampuan dalam melakukan kerjasama dengan orang lain.</p>
<p>5. Isolasi sosial.</p>
<p>6. Gambaran yang buruk mengenai diri sendiri.</p>
<p>7. Sikap tidak terpengaruh.</p>
<p>8. Rasa permusuhan.</p>
<p>9. Secara terus menerus menanggung dendam yaitu dengan tidak memaafkan kerugian, cedera atau kelalaian.</p>
<p>10. Merasakan serangan terhadap karakter atau reputasinya yang tidak tampak bagi orang lain dan dengan cepat bereaksi secara marah dan balas menyerang.</p>
<p>11. Enggan untuk menceritakan rahasia orang lain karena rasa takut yang tidak perlu bahwa informasi akan digunakan secara jahat untuk melawan dirinya.</p>
<p>12. Kurang memiliki rasa humor.</p>
<p>Mereka yang memiliki gangguan ini menunjukan kebutuhan yang tinggi terhadap mencukupi dirinya, terkesan kaku dan bahkan memberikan tuduhan kepada orang lain. Dikarenakan perilaku menghindar mereka terhadap kedekatan dengan orang lain menjadikan mereka terlihat sangat penuh perhitungan dalam bertindak dan juga berkesan dingin. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa kebanyakan gangguan ini ditemukan pada pria dibandingkan pada perempuan.</p>
<p><strong>Penyebab</strong></p>
<p>Secara spesifik penyebab dari munculnya gangguan ini masih belum diketahui, namun seringkali dalam suatu kasus  muncul pada individu yang memiliki anggota keluarga dengan gangguan skizofrenia, dengan kata lain faktor genetik masih mempengaruhi. Gangguan kepribadian paranoid juga dapat disebabkan oleh pengalaman masa kecil yang buruk ditambah dengan keadaan lingkungan yang dirasa mengancam. Pola asuh dari orang tua yang cenderung tidak menumbuhkan rasa percaya antara anak dengan orang lain juga dapat menjadi penyebab dari berkembangnya gangguan ini.</p>
<p><strong>Penanggulangan</strong></p>
<p>Perawatan untuk gangguan kepribadian paranoid akan sangat efektif untuk mengendalikan paranoia (perasaan curiga berlebih) penderita, namun hal itu akan selalu menjadi sulit dikarenakan penderita akan selalu memiliki kecurigaan kepada dokter atau terapis yang merawatnya. Jika dibiarkan saja maka keadaan penderita akan menjadi lebih kronis. Perawatan yang dilakukan, meliputi sistem perawatan utama dan juga perawatan yang berada di luar perawatan utama (suplement), seperti program untuk mengembangkan diri, dukungan dari keluarga, ceramah, perawatan di rumah, membangun sikap jujur kepad diri sendiri, kesemuanya akan menyempurnakan dan membantu proses penyembuhan penderita. Sehingga diharapkan konsekuensi sosial terburuk yang biasa terjadi dari gangguan ini, seperti perpecahan keluarga, kehilangan pekerjaan dan juga tempat tinggal dapat dihindari untuk dialami oleh si penderita.</p>
<p>Medikasi atau pengobatan untuk gangguan kepribadian paranoid secara umum tidaklah mendukung, kecenderungan yang timbul biasanya adalah meningkatnya rasa curiga dari pasien yang pada akhirnya melakukan penarikan diri dari terapi yang telah dijalani. Para ahli menunjuk pada bentuk  perawatan yang lebih berfokus kepada kondisi spesifik dari gangguan tersebut seperti kecemasan dan juga delusi, dimana perasaan tersebut yang menjadi masalah utama perusak fungsi normal mental penderita. namun untuk penanggulangan secara cepat terhadap penderita yang membutuhkan penanganan gawat darurat maka penggunaan obat sangatlah membantu, seperti ketika penderita mulai kehilangan kendali dirinya seperti mengamuk dan menyerang ornag lain.</p>
<p>Psikoterapi merupakan perawatan yang paling menjanjikan bagi para penderita gangguan kepribadian paranoid. Orang-orang yang menderita penyakit ini memiliki masalah mendasar yang membutuhkan terapi intensif. Hubungan yang baik antara terapis dengan klien kunci kesembuhan klien. Walau masih sangat sulit untuk membangun suatu hubungan yang baik dikarenakan suatu keragu-raguan yang timbul serta kecurigaan dari diri klien terhadap terapis.</p>
<p>Walau penderita gangguan kepribadian paranoid biasanya memiliki inisiatif sendiri untuk melakukan perawatan, namun sering kali juga mereka sendiri juga lah yang menghentikan proses penyembuhan secara prematur ditengah jalan. Demikian juga dengan pembangunan rasa saling percaya yang dilakukan oleh sang terapis terhadap klien, dimana membutuhkan perhatian yang lebih, namun kemungkinan akan tetap rumit untuk dapat mengarahkan klien walaupun tahap membangun rasa kepercayaan telah terselesaikan.</p>
<p>Kemungkinan jangka panjang untuk penderita gangguan kepribadian paranoid bersifat kurang baik, kebanyakan yang terjadi terhadap penderita dikemudian hari adalah menetapnya sifat yang sudah ada sepanjang hidup mereka, namun dengan penanganan yang efektif serta bersifat konsisten maka kesembuhan bagi penderita jelas masih terbuka.</p>
<p>Metode pengembangan diri secara berkelompok dapat dilakukan kepada penderita walau memiliki kesulitan saat pelaksanaannya. Kecurigaan tingkat tinggi dan rasa tidak percaya pada penderita akan membuat kehadiran kelompok pendukung menjadi tidak berguna atau bahkan lebih parahnya dapat bersifat merusak bagi diri penderita.</p>
<p>(Amarilldo)</p>
<p>Sumber:<br />
- Kaplan &amp; Sadok, Sinopsis Psikiatri Jilid 2, 1997, Binarupa Aksara, Jakarta<br />
- DSM-IV<br />
- http://www.psychologytoday.com/conditions/paranoid-personality-disorder</p>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fgangguan-kepribadian-paranoid&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/gangguan-kepribadian-paranoid/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Adakah Insomnia Menyebabkan Depresi?</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/adakah-insomnia-menyebabkan-depresi</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/adakah-insomnia-menyebabkan-depresi#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jan 2010 23:51:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amarilldo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi klinis]]></category>

		<category><![CDATA[Depresi]]></category>

		<category><![CDATA[gangguan]]></category>

		<category><![CDATA[Insomnia]]></category>

		<category><![CDATA[Tidur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=840</guid>
		<description><![CDATA[Insomnia diketahui sebagai gejala yang mengiringi depresi, selama ini hal itu yang selalu kita ketahui, namun pada kenyataannya sering kali insomnia datang lebih dahulu daripada depresi, mungkinkah insomnia merupakan bentuk dari penyebab gangguan depresi? dapatkan juga tips-tips ampuh menghindari insomnia dalam tulisan ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: #000000; font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px; font-size: medium;"><span class="Apple-style-span" style="color: #333333; font-family: 'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; font-size: 11px; line-height: 14px; text-align: left;"><img class="alignleft size-medium wp-image-841" title="light" src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2010/01/light-300x191.jpg" alt="light" width="300" height="191" /></span></span></p>
<p>Depresi merupakan suatu kondisi medis-psikiatris dan bukan sekedar suatu keadaan sedih atau perasaan yang buruk dalam diri individu, dikatakan sebagai gangguan depresi bila kondisi depresi seseorang sampai menyebabkan terganggunya aktivitas sosial sehari-hari. Beberapa gejala gangguan gepresi adalah perasaan sedih, rasa lelah yang berlebihan setelah aktivitas rutin yang biasa, kehilangan minat dan semangat, malas beraktivitas, tidak memiliki motivasi dan mengalami gangguan pola tidur seperti insomnia.</p>
<p>Seperti diketahui bahwa Insomnia adalah gangguan dimana penderitanya memiliki kesulitan untuk memulai tidur atau ketidak-mampuan dalam mempertahankan tidurnya. Insomnia merupakan keluhan gangguan tidur yang paling sering kita dengar entah di majalah, televisi, koran atau bahkan dalam obrolan kita sehari-hari. Secara normal manusia tidur selama 8 jam untuk mengembalikan energi yang telah terkuras seharian, berarti jika seseorang tidur dengan waktu kurang dari itu maka seseorang tersebut tidak mengisi kembali tenaganya dengan penuh, sehingga rutinitas yang dijalani pada siang hari tidak berjalan dengan semestinya.</p>
<p>Insomnia selama ini dipercaya sebagai bentuk gangguan yang menyertai depresi dan berbagai macam gangguan lain seperti kecemasan dan stres. Selama ini juga kita percaya bahwa seseorang tidak dapat tertidur pada malam hari disebabkan oleh pikiran mereka yang melayang jauh menerawang pada kekhawatiran tanpa sebab (kecemasan), memikirkan kesedihan, kegagalan dan penyesalan secara berlebihan (depresi), dan ini-itu yang dipikirkan mendalam (stres).</p>
<p>Namun kini ternyata ditemukan bukti penelitian bahwa Insomnia bukan hanya sebagai teman yang muncul bersamaan dengan kecemasan, depresi dan stres, melainkan dimungkinkan bahwa insomnia merupakan penyebab dari depresi itu sendiri. Hal ini diungkapkan oleh penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari North Carolina, Eric Johnson, yang melakukan penelitiannya pada Research Triangle Institute International pada tahun 2006, Ia menemukan dalam penelitiannya bahwa setengah dari remaja yang pernah mengalami gangguan Insomnia didapati mengembangkan gangguan psikiatris. Diantara itu semua, mereka yang mengalami Insomnia dan depresi, ditemukan bahwa 69% dari kasus depresi diawali dengan insomnia sebelumnya.</p>
<p>Michael Perlis, peneliti tentang insomnia dari Universitas Rochester memiliki pendapat bahwa walau penyebab paling mendasar dari insomnia dan depresi masih belum jelas, namun suatu teori tentang neurotransmiter dapat menjelaskan mengapa Insomnia mengawali depresi. Mengacu pada serotonin, sebuah hormon didalam otak manusia dimana fungsinya membantu dalam pengaturan Mood dan waktu tidur, serta berhubungan dengan suhu tubuh, nafsu makan dan berbagai macam fungsi lain. Dimana ketika seseorang berada pada kadar serotonin yang meningkat maka akan merasakan kantuk, kebalikannya ketika kadarnya menurun pada waktu yang cukup panjang maka seseorang mengalami gejala Insomnia. Selain itu juga kadar serotonin yang rendah merupakan pemicu terjadinya depresi.</p>
<p>Pendapat tentang insomnia sebagai penyebab depresi masih banyak ditentang oleh beberapa kalangan, dengan mengatakan bahwa asal mula dari Insomnia dan depresi sebenarnya berasal dari kecemasan yang mana memungkinkan insomnia untuk muncul terlebih dahulu sebelum depresi, mengingat depresi sendiri membutuhkan waktu untuk berkembang. Perdebatan dan penelitian akan terus berlanjut seperti menebak mana yang lebih dahulu ada antara ayam dan telur. Namun keterkaitan antara insomnia dan depresi sendiri jelas tidak tersangkalkan.</p>
<p>Berpegang pada bukti yang diperoleh tentang tidur, dimana tidur yang bermasalah jika berlangsung secara terus menerus dapat menumbuh-kembangkan gangguan depresi, dan juga kebalikannya tidur secara teratur dan cukup dapat melawan kemungkinan seseorang untuk mengalami gangguan mood. Selain itu juga insomnia lebih mudah untuk dihilangkan daripada merawat depresi, dengan demikian maka dengan berusaha untuk tidur secara teratur dapat menjadikan kita untuk lebih terhindar dari berbagai macam gangguan lain.</p>
<p>Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan untuk menghindari kesulitan tidur:<br />
1. Menghindari kopi (kafein) sebelum waktu tidur.<br />
2. Menghindari rokok sebelum waktu tidur.<br />
3. Berolahraga secara teratur.<br />
4. Mengatur waktu tidur.<br />
5. Tidak mengkonsumsi alkohol sebelum tidur.<br />
6. Mengurangi tidur siang.<br />
7. Mereduksi kecemasan dengan beragai cara seperti relaksasi.<br />
8. Tidak hanya diam saat anda tidak dapat tidur, seperti membaca buku, mendengarkan musik, menonton televisi.<br />
9. Tidurlah sampai matahari terbit, diakarenakan berdasar pada ritme arcardian tubuh bereaksi terhadap cahaya terang.<br />
10. Jika terjadi secara terus menerus maka hubungilah dokter atau ahli kesehatan kepercayaan Anda.</p>
<p>Melakukan tindakan sebelum berkembangnya gangguan tidur seperti insomnia yang bersifat kronis, yang juga dapat menujukan pada keadaan depresif, maka mengambil tindakan lebih awal dalam mengatur irama tidur adalah penting untuk dilakukan, mengingat kembali bahwa menangani gangguan tidur adalah lebih mudah daripada menangani gangguan depresi. Seperti dilaporkan, tentang perkembangan gejala depresi adalah terjadinya perubahan dalam mood, perubahan dalam perhatian dan yang terakhir adalah perubahan dalam pola tidur. Dengan demikian dengan berusaha selalu untuk mendapatkan tidur berkualitas pada setiap malam secara teratur dapat membantu kita menjadi manusia yang baik dalam beraktifitas dikeseharian, secara optimal dan sehat baik itu secara fisik maupun psikologis. (Amarilldo)</p>
<p>Sumber:<br />
http://id.wikipedia.org/wiki/Depresi<br />
http://www.psychologytoday.com/articles/200310/your-guide-better-sleep<br />
http://www.psychologytoday.com/articles/200703/all-night-down-all-day<br />
http://www.psychologytoday.com/conditions/insomnia<br />
http://www.psychologytoday.com/articles/200401/sleepless-no-more</span></span></p>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fadakah-insomnia-menyebabkan-depresi&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/adakah-insomnia-menyebabkan-depresi/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Gangguan Kecanduan Internet</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/gangguan-kecanduan-internet</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/gangguan-kecanduan-internet#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 10:03:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amarilldo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi klinis]]></category>

		<category><![CDATA[gangguan]]></category>

		<category><![CDATA[Internet]]></category>

		<category><![CDATA[Kecanduan]]></category>

		<category><![CDATA[klinis]]></category>

		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=812</guid>
		<description><![CDATA[Internet Addiction Disorder (IAD) atau biasa dikenal dengan Gangguan Kecanduan Internet merupakan suatu gangguan akibat kebiasaan yang diderita seseorang, seperti apakah gejala dan cara menanggulanginya terdapat dalam tulisan ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-813" title="internet" src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2009/12/internet-300x280.jpg" alt="internet" width="300" height="280" />Apakah Anda tidak pernah melepaskan diri dari komputer, laptop atau handphone 3G Anda? Apakah Anda seorang maniak internet? Kapanpun dan dimanapun Anda berusaha untuk online demi berbagai macam kepentingan, Padahal Anda tahu bahwa diri Anda bukanlah programmer, hacker, cracker, pengembang web atau admin sebuah jaringan? Apakah Anda menjadikan jejaring sosial sebagai satu-satunya media Anda untuk berinteraksi sosial? Serta Anda melakukannya sepanjang hari Anda? Anda terlena dengan dunia maya dan melupakan kenyataan diluar sana, jika ini semua yang Anda alami maka ketahuilah kemungkinannya Anda sudah mengidap gangguan kecanduan internet.</p>
<p>Internet Addiction Disorder (IAD) atau gangguan kecanduan internet meliputi segala macam hal yang berhubungan dengan internet seperti jejaring sosial, email, pornografi, judi online, game online, chatting dan lain-lain. Jenis gangguan ini memang tidak tercantum pada manual diagnostik dan statistik gangguan mental, atau yang biasa disebut dengan DSM, namun secara bentuk dikatakan dekat dengan bentuk kecanduan akibat judi, selain itu badan himpunan psikolog di Amerika Serikat secara formal menyebutkan bahwa kecanduan ini termasuk dalam salah satu bentuk gangguan.</p>
<p>Adiksi terhadap internet terlihat dari intensi waktu yang digunakan seseorang untuk terpaku di depan komputer atau segala macam alat elektronik yang memiliki koneksi internet, dimana akibat banyaknya waktu yang mereka gunakan untuk online membuat mereka tidak peduli dengan kehidupan mereka yang terancam diluar sana, seperti nilai yang buruk disekolah atau mungkin kehilangan pekerjaan dan bahkan meninggalkan orang-orang yang mereka sayangi.</p>
<p>Ditemukan kasus di Amerika dimana seseorang harus tidak lulus karena tidak pernah menghadiri kelas untuk sibuk berinternet. Sedangkan untuk kasus didalam negeri sendiri adalah seorang gadis usia 12 tahun kabur dari rumahnya selama 2 minggu, selama itu gadis tersebut mengaku tinggal disebuah warnet untuk memainkan game online (sumber: <a href="http://www.mediaindonesia.com/data/pdf/pagi/2008-12/2008-12-24_17.pdf">Media Indonesia</a>).</p>
<p>Beberapa bentuk gejala kecanduan ditunjukkan dengan kurangnya tidur, kelelahan, nilai yang buruk, performa kerja yang menurun, lesu dan kurangnya fokus. Penderita juga cenderung kurang terlibat dalam aktivitas dan hubungan sosial. penderita akan berbohong tentang berapa lama waktu yang mereka gunakan untuk online dan juga tentang permasalahan-permasalahan yang mereka tunda karenanya. Dalam keadaan offline mereka menjadi pribadi yang lekas marah saat ada yang menanyakan berapa lama waktu yang mereka gunakan untuk berinternet.</p>
<p>Dr Ronald Pies, profesor psikiatri dari SUNY Upstate Medical University, New York, mengatakan “Kebanyakan dari orang-orang yang kecanduan internet adalah mereka yang mengalami depresi berat, kecemasan, atau orang yang tak bisa bersosialisasi sehingga mereka sulit untuk bertemu muka dengan orang lain secara langsung.” Dari hal tersebut maka diketahui bahwa kecenderungan kecanduan ini dimiliki oleh mereka yang memiliki gangguan dalam dunia nyata, sehingga internet merupakan salah satu media ‘pelarian’ mereka.</p>
<p>Ketidakmampuan seseorang dalam mengontol diri untuk terkoneksi dengan internet dan melakukan kegiatan bersamanya adalah cikal bakal dari lahirnya bentuk kecanduan ini, bahkan di Amerika Serikat sendiri telah berdiri panti rehabilitasi untuk menyembuhkan bentuk kecanduan khusus internet. kebiasaan yang tidak terkendali memang terkadang dapat menimbulkan petaka tersendiri bagi diri kita, dengan tidak bisa mengatur lamanya durasi berinternet, menghabiskan waktu dan menghancurkan semua tanggung jawab dalam kehidupannya.</p>
<p>Internet bukanlah sebuah bencana, sebaliknya, jelas internet telah membantu proses pencerdasan bangsa, mengubah dunia menjadi sebuah kampung kecil, dimana jarak dan waktu tidak lagi menghambat penyebaran informasi. Komunikasi antar manusia, walau jauh jaraknya, kini dengan adanya berbagai jejaring sosial telah memudahkan interaksi. Internet telah menjadikan dunia penuh dengan kemajuan, di desa dan di pelosok terdalam sekalipun dapat mengikuti setiap detik perkembangan dunia, pemerataan informasi dan pengetahuan semakin dirasakan nyata.</p>
<p>Kembali pada apa yang dilakukan seseorang dalam menggunakan teknologi ini, apakah bermanfaat atau tidak? apakah baik atau buruk? Perbandingannya, sebagai contoh, seperti ketika seseorang menghabiskan 24 jam nonstop, online demi mencari bahan untuk tugas akhir kuliahnya atau informasi bisnis atau mungkin juga melakukan promosi toko online yang dimilikinya, secara logika hal tersebut tidaklah ada salahnya, karena jelas pengunaannya bermanfaat sesuai dengan tujuan dan pekerjaannya. Namun, jika seseorang menghabiskan waktu untuk online untuk sekedar browsing selama 24 jam nonstop, sekedar saja, sekedar menonton video porno, sekedar main judi online, sekedar memainkan game online, sekedar kesenangan tak bermanfaat, kemudian meninggalkan tanggung jawabnya di dunia non-maya dan tidak memiliki tujuan yang penting dan berarti, maka ini diindikasikan sebagai gangguan atau sakit.</p>
<p>Segala sesuatu yang berlebihan tidaklah baik, kebiasaan berinternet yang sehat adalah dengan menyesuaikan jadwal dan juga kepentingan, serta tidak melupakan tanggung jawab yang dimiliki oleh masing-masing individu. Walau kini dunia maya selalu saja menghadirkan inovasi-inovasi terbaru, yang mana memungkinkan mereka yang tidak memiliki depresi berat, kecemasan atau gangguan sosial untuk ketagihan melakukan kegiatan dalam dunia maya, dengan demikian kebijaksanaan sebagai pengguna adalah dibutuhkan untuk mengimbanginya.</p>
<p>Banyak sekali manfaat yang telah diberikan internet kepada manusia, banyak pengetahuan dan juga informasi disini yang dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat, dengan demikian maka kebijaksanaan seseorang untuk menggunakan teknologi itu sendiri yang harus terus dikembangkan, sehingga tujuan awal dari penciptaan teknologi yaitu guna mempermudah dan meningkatkan kualitas hidup manusia dapat benar-benar terwujud dikemudian hari.</p>
<p>(Amarilldo)</p>
<p>Sumber:<br />
http://www.minddisorders.com/Flu-Inv/Internet-addiction-disorder.html<br />
http://www.psychologytoday.com/articles/199803/trapped-in-the-web<br />
http://allpsych.com/journal/internetaddiction.html<br />
http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/09/04/11040257/kecanduan.internet.ikut.rehabilitasi.saja<br />
http://www.mediaindonesia.com/data/pdf/pagi/2008-12/2008-12-24_17.pdf</p>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fgangguan-kecanduan-internet&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/gangguan-kecanduan-internet/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sekilas Kajian Klinis Kecemasan Berbicara Di Depan Umum</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/sekilas-kajian-klinis-kecemasan-berbicara-di-depan-umum</link>
		<comments>http://ruangpsikologi.com/sekilas-kajian-klinis-kecemasan-berbicara-di-depan-umum#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 23:08:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amarilldo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<category><![CDATA[Psikologi klinis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=741</guid>
		<description><![CDATA[menjelaskan secara ringkas tentang bagaimana kecemasan berbicara di depan umum terjadi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-743" title="591832892_b46ce844ae1" src="http://ruangpsikologi.com/wp-content/uploads/2009/11/591832892_b46ce844ae1-225x300.jpg" alt="591832892_b46ce844ae1" width="225" height="300" />Kecemasan saat berbicara di depan umum adalah sebuah keadaan yang wajar saja terjadi, bahkan dikatakan sebagai bagian dari pengalaman berbicara di depan publik, namun ketika kecemasan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap performa Anda barulah hal ini menjadi suatu masalah. Karena ketika performa Anda terganggu hal tersebut menunjukkan ketidakmampuan diri dalam menghadapi situasi.</p>
<p>Gejala kecemasan saat berbicara di depan publik dapat dirasakan secara fisiologis dan juga psikologis, untuk fisiologis dapat berupa keluarnya keringat pada tubuh dan juga telapak tangan, kemudian detak jantung yang semakin cepat, ketegangan otot, serta gemetarnya tubuh terutama pada kaki, dan suara yang bergetar. Sedangkan untuk keadaan psikologis sendiri di dalam pikiran muncul ketakutan yang irasional, tidak mampu untuk berkonsentrasi dan rasa tidak tenang.</p>
<p>Ketidakmampuan diri untuk melawan kecemasan dapat berakibat pada pembentukan rasa rendah diri, meremehkan diri sendiri, menganggap diri tidak menarik dan menganggap diri tidak menyenangkan bagi orang lain, dimana segala pikiran negatif tersebut dapat menjadi faktor penghambat perkembangan diri untuk jangka panjangnya, sedangkan saat berbicara didepan umum, atau jangka pendek, pikiran negatif tersebut akan mengakibatkan tidak dapat dikendalikannya situasi.</p>
<p>Seseorang memiliki suatu kecemasan karena adanya proses pembelajaran dari dalam dirinya, perilaku rendah diri yang dibiasakan dan juga lingkungan yang tidak mendukung perkembangan diri dapat menjadi penyebab pembentukan pribadi dengan kecemasan sosial atau fobia sosial, dimana akibat dari kecemasan dan fobia tersebut seseorang tidak dapat berfungsi dengan baik dalam lingkungan sosialnya, individu memiliki kecenderungan menghindar dari segala aktifitas sosial dan menunjukkan  kemampuan komunikasi dan koordinasi yang rendah.</p>
<p>Dasar dari kecemasan saat berbicara didepan umum dapat di lihat tidak jauh berbeda dengan kecemasan sosial atau bentuk fobia sosial lainnya, dimana dasar dari kecemasan tersebut adalah keberadaan orang lain, yang mana anggapan salah mengenai khalayak menjadi ‘hantu’ yang menakutkan dalam pikiran. Walau dalam pengklasifikasiannya ada beberapa macam situasi dimana seseorang mengalami kecemasan, seperti yang kali ini kita bahas kecemasan saat berbicara di depan umum. Sedangkan untuk situasi yang lain, sebagai contoh kecemasan untuk makan di depan umum, kecemasan untuk masuk toilet umum, lalu kecemasan untuk berada di tempat ramai dan lain-lain, dimana dalam semua situasi tersebut individu masuk kedalam situasi dimana diri tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan ketakutan.</p>
<p>Olfson dkk (2000) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa kecemasan yang di alami seseorang dalam melakukan interaksi sosial lebih kepada adanya pikiran-pikiran negatif  yang ada pada diri individu, dimana individu tersebut merasa bahwa orang lain tidak dapat menerima dirinya diakibatkan perbedaan-perbedaan yang dimilikinya seperti status sosial, status ekonomi dan juga tingkat pendidikan.</p>
<p>Dari penelitian tersebut dan juga banyak penelitian lain menyepakati bahwa dari segala kecemasan yang dialami oleh seseorang dalam menghadapi suatu keadaan sangat berpengaruh dengan pola pikir yang dimilikinya, dimana di yakini juga pikiran negatif hanya akan membawa pada keburukan dan pikiran positif akan membawa diri pada kebaikan, penyebabnya adalah karena pikiran kita dapat berpengaruh pada suasana hati.</p>
<p>Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa pengendalian dan pengenalan diri yang rendah mengakibatkan terjadinya disfungsi psikologis seseorang, yang mana mengakibatkan munculnya perilaku yang salah dalam menghadapi suatu situasi, sehingga apa yang tadinya di takuti menjadi benar-benar terjadi.<br />
Sumber:</p>
<p>http://ajp.psychiatryonline.org/cgi/reprint/157/4/521.pdf<br />
http://socialanxietydisorder.about.com/od/overviewofsad/a/overview.htm</p>
<div id="facebook_like"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fruangpsikologi.com%2Fsekilas-kajian-klinis-kecemasan-berbicara-di-depan-umum&amp;layout=standard&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;font=arial&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:auto;"></iframe></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangpsikologi.com/sekilas-kajian-klinis-kecemasan-berbicara-di-depan-umum/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

