<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Apakah dengan uang saya akan bahagia?</title>
	<atom:link href="http://ruangpsikologi.com/apakah-dengan-uang-saya-akan-bahagia/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ruangpsikologi.com/apakah-dengan-uang-saya-akan-bahagia</link>
	<description>Webzine Psikologi Modern</description>
	<pubDate>Fri, 18 May 2012 02:19:11 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: JoNo</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/apakah-dengan-uang-saya-akan-bahagia/comment-page-1#comment-873</link>
		<dc:creator>JoNo</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Jul 2010 05:19:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=1167#comment-873</guid>
		<description>….”Kemudian dua kelompok tersebut diberikan tes untuk mengukur kemampuan menikmati kebahagiaan”. tapi test yang dimaksud (yaitu test SETELAH melihat gambar uang burem dan gak burem) gak pernah dijelaskan seperti apa, dengan metode apa tapi hanya dinamakan test pertama.

--&gt; tes yang dimaksud di sumber yang saya kutip menurut saya sejenis tes kepribadian yang mengukur kebahagiaan dengan menggunakn skala Likert, kebetulan saya pernah melihat tes yang mengukr kebahagiaan dan memang saat itu alat tesnya menggunakan skala Likert. Tapi kalau masih ragu dan ingin lebih pasti silahkan search sumbernya di: Psychological Science by Jordi Quoidbach 


dan pada test kedua buat gue cukup membingungkan, kecepatan gue makan coklat setelah gue liat gambar uang, apa iya mewakili keterukuran nilai kebahagiaan gue saat itu? kebahagiaan yang menurut gue terlalu absurd,luas, kompleks dan subjektif jadi sederhana sekali dihadapan gambar uang burem dan gak burem dan sepotong coklat..kurang sreg aja rasanya.

--&gt; yang pasti itu BUKAN KECEPATAN MAKAN COKLAT yang diukur. Tapi berapa lama partisipan bisa menikmati coklat yang diberikan. Bayangkan anda mengulum coklat dan berapa lama anda bisa menikmati coklat yang sedang anda kulum.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>….”Kemudian dua kelompok tersebut diberikan tes untuk mengukur kemampuan menikmati kebahagiaan”. tapi test yang dimaksud (yaitu test SETELAH melihat gambar uang burem dan gak burem) gak pernah dijelaskan seperti apa, dengan metode apa tapi hanya dinamakan test pertama.</p>
<p>&#8211;&gt; tes yang dimaksud di sumber yang saya kutip menurut saya sejenis tes kepribadian yang mengukur kebahagiaan dengan menggunakn skala Likert, kebetulan saya pernah melihat tes yang mengukr kebahagiaan dan memang saat itu alat tesnya menggunakan skala Likert. Tapi kalau masih ragu dan ingin lebih pasti silahkan search sumbernya di: Psychological Science by Jordi Quoidbach </p>
<p>dan pada test kedua buat gue cukup membingungkan, kecepatan gue makan coklat setelah gue liat gambar uang, apa iya mewakili keterukuran nilai kebahagiaan gue saat itu? kebahagiaan yang menurut gue terlalu absurd,luas, kompleks dan subjektif jadi sederhana sekali dihadapan gambar uang burem dan gak burem dan sepotong coklat..kurang sreg aja rasanya.</p>
<p>&#8211;&gt; yang pasti itu BUKAN KECEPATAN MAKAN COKLAT yang diukur. Tapi berapa lama partisipan bisa menikmati coklat yang diberikan. Bayangkan anda mengulum coklat dan berapa lama anda bisa menikmati coklat yang sedang anda kulum.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: awamers</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/apakah-dengan-uang-saya-akan-bahagia/comment-page-1#comment-872</link>
		<dc:creator>awamers</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Jul 2010 09:09:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=1167#comment-872</guid>
		<description>gue bingung

paragrap ke-3
...."Kemudian dua kelompok tersebut diberikan tes untuk mengukur kemampuan  menikmati kebahagiaan". tapi test yang dimaksud (yaitu test SETELAH melihat gambar uang burem dan gak burem) gak pernah dijelaskan seperti apa, dengan metode apa tapi hanya dinamakan test pertama. 

dan pada test kedua buat gue cukup membingungkan, kecepatan gue makan coklat setelah gue liat gambar uang, apa iya mewakili keterukuran nilai kebahagiaan gue saat itu? kebahagiaan yang menurut gue terlalu absurd,luas, kompleks dan subjektif jadi sederhana sekali dihadapan gambar uang burem dan gak burem dan sepotong coklat..kurang sreg aja rasanya..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>gue bingung</p>
<p>paragrap ke-3<br />
&#8230;.&#8221;Kemudian dua kelompok tersebut diberikan tes untuk mengukur kemampuan  menikmati kebahagiaan&#8221;. tapi test yang dimaksud (yaitu test SETELAH melihat gambar uang burem dan gak burem) gak pernah dijelaskan seperti apa, dengan metode apa tapi hanya dinamakan test pertama. </p>
<p>dan pada test kedua buat gue cukup membingungkan, kecepatan gue makan coklat setelah gue liat gambar uang, apa iya mewakili keterukuran nilai kebahagiaan gue saat itu? kebahagiaan yang menurut gue terlalu absurd,luas, kompleks dan subjektif jadi sederhana sekali dihadapan gambar uang burem dan gak burem dan sepotong coklat..kurang sreg aja rasanya..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: JoNo</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/apakah-dengan-uang-saya-akan-bahagia/comment-page-1#comment-834</link>
		<dc:creator>JoNo</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 04:32:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=1167#comment-834</guid>
		<description>@norihiko

Masih bingung dengan penjelasannya.. Apa apakah ‘gambar uang’ itu bisa mewakili kesejahteraan/kekayaan? Klo dia kaya tapi dikasih gambar uang burem, atau, dia miskin tapi dikasih gambar uang beneran, apa ga jadi variabel sekunder?

--&gt; menurut saya, gambar uang memang dimaksudkan sebagai stimulus berkaitan dengan kesejahteraan. Tentang variabel sekunder yang ditanyakan, penelitian ini melibatkan 374 partisipan dengan berbagai level pekerjaan, staff sampai senior yang tentu saja berpengaruh pada pendapatan masing-masing yang kemudian dibagi secara acak kedalam dua kelompok. Dengan metode sampling serta jumlah partisipan yang cukup besar, saya rasa variabel sekunder yang dipertanyakan bisa dieliminir tingkatnya sehingga tidak mempengaruhi  hasil penelitian. 



Idealnya sih mestinya penelitiannya dikasih uang beneran, baru liat responnya.. Atau klo g harus eksperimen, yah bandingin aja orang kaya dengan orang miskin gimana perbedaannya dalam kesenangan dalam hidup mereka..

--&gt; kalau seperti ini, saya rasa hasil penelitian dari kelompok orang kaya hanya bisa digeneralisir kepada kelompok orang kaya saja, begitu juga orang miskin. Hanya bisa digeneralisir kepada kelompok orang miskin. 

Best regards, 

Nova JoNo Ariyanto</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@norihiko</p>
<p>Masih bingung dengan penjelasannya.. Apa apakah ‘gambar uang’ itu bisa mewakili kesejahteraan/kekayaan? Klo dia kaya tapi dikasih gambar uang burem, atau, dia miskin tapi dikasih gambar uang beneran, apa ga jadi variabel sekunder?</p>
<p>&#8211;&gt; menurut saya, gambar uang memang dimaksudkan sebagai stimulus berkaitan dengan kesejahteraan. Tentang variabel sekunder yang ditanyakan, penelitian ini melibatkan 374 partisipan dengan berbagai level pekerjaan, staff sampai senior yang tentu saja berpengaruh pada pendapatan masing-masing yang kemudian dibagi secara acak kedalam dua kelompok. Dengan metode sampling serta jumlah partisipan yang cukup besar, saya rasa variabel sekunder yang dipertanyakan bisa dieliminir tingkatnya sehingga tidak mempengaruhi  hasil penelitian. </p>
<p>Idealnya sih mestinya penelitiannya dikasih uang beneran, baru liat responnya.. Atau klo g harus eksperimen, yah bandingin aja orang kaya dengan orang miskin gimana perbedaannya dalam kesenangan dalam hidup mereka..</p>
<p>&#8211;&gt; kalau seperti ini, saya rasa hasil penelitian dari kelompok orang kaya hanya bisa digeneralisir kepada kelompok orang kaya saja, begitu juga orang miskin. Hanya bisa digeneralisir kepada kelompok orang miskin. </p>
<p>Best regards, </p>
<p>Nova JoNo Ariyanto</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Lois</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/apakah-dengan-uang-saya-akan-bahagia/comment-page-1#comment-821</link>
		<dc:creator>Lois</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 Jun 2010 02:24:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=1167#comment-821</guid>
		<description>I just love this article!!

Keren!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>I just love this article!!</p>
<p>Keren!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Uang dan Kebahagiaan &#171; Infoku Infomu</title>
		<link>http://ruangpsikologi.com/apakah-dengan-uang-saya-akan-bahagia/comment-page-1#comment-820</link>
		<dc:creator>Uang dan Kebahagiaan &#171; Infoku Infomu</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Jun 2010 01:32:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ruangpsikologi.com/?p=1167#comment-820</guid>
		<description>[...] http://ruangpsikologi.com/apakah-dengan-uang-saya-akan-bahagia [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] <a href="http://ruangpsikologi.com/apakah-dengan-uang-saya-akan-bahagia" rel="nofollow">http://ruangpsikologi.com/apakah-dengan-uang-saya-akan-bahagia</a> [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

