Apakah dengan uang saya akan bahagia?
Jujur saja, sampai saat ini saya tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut. Yang saya tahu hanya, dengan uang kita hampir bisa mendapatkan segalanya. Uang mungkin bukan segalanya, tapi tentu saja segalanya butuh uang. Namun lagi-lagi pernyataan tersebut tidak menjawab pertanyaan “Apakah uang akan membuat bahagia?”. Anda juga pasti memiliki jawaban masing-masing untuk pertanyaan tersebut.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa memang terdapat hubungan antara kesejahteraan dengan berkurangnya kemampuan menikmati kesenangan atau kebahagiaan. Adapun kesenangan atau kebahagiaan yang dimaksud adalah perasaan sukacita, kegembiraan, kagum, bangga, terimakasih, dsb.
Hasil penelitian tersebut diperoleh setelah melakukan dua tes. Pada tes pertama, partisipan dibagi kedalam dua kelompok. Kelompok pertama diperlihatkan gambar setumpuk uang, dan kelompok kedua diperlihatkan gambar yang sama yang jauh lebih buram sehingga sulit terlihat. Kemudian dua kelompok tersebut diberikan tes untuk mengukur kemampuan menikmati kebahagiaan. Hasilnya adalah kelompok yang diberikan gambar uang memiliki skor yang lebih rendah dalam kemampuannya menikmati kebahagiaan.
Untuk tes kedua, beberapa partisipan diberikan gambar setumpuk uang dan beberapa partisipan lainnya diberikan gambar yang buram, lalu kedua kelompok tersebut diberikan sepotong coklat. Observer kemudian mengukur waktu setiap partisipan untuk menikmati coklat tersebut. Hasilnya adalah rata-rata partisipan yang diberikan gambar uang menikmati coklat tersebut selama 32 detik, sedangkan partisipan yang diberikan gambar buram menikmati coklat selama 45 detik. Oleh karena itu dijelaskan bahwa kesejahteraan bisa mengurangi kemampuan individu untuk menikmati kesenangan.
Saat pertama kali membaca artikel diatas saya sempat berpikir bahwa ada banyak hal yang mempengaruhi hasil dari penelitian. Oleh karena itu, ketidakmampuan individu menikmati kesenangan juga mungkin dipengaruhi berbagai faktor. Mungkin anda berpikir hal yang sama, bahwa mungkin saja partisipan diatas sedang tidak bahagia, sudah memiliki banyak uang, atau bahkan memang tidak menyukai coklat. Berkaitan dengan faktor tersebut, seorang peneliti lain memberi pendapatnya. Secara garis besar, berikut adalah pendapatnya:
Nilai dari uang dipengaruhi oleh uang yang kita gunakan. Sebuah survey yang dilakukan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 87 % partisipan hidup dalam dunia matrealistis. Dalam dunia matrealisme individu membeli barang tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk membuat dirinya terlihat lebih baik dimata orang lain. Hal tersebut (membeli barang untuk dilihat orang lain) ternyata juga mempengaruhi kebahagiaan, individu yang melakukan hal tesebut hanya mendapat kesenangan sesaat saja, tidak lama kemudian mereka mencari barang lain untuk dilihat orang lain.
Menggunakan uang untuk dinilai orang lain menunjukkan kegagalan untuk merasa senang dalam jangka waktu yang lama. Penelitian menunjukkan bahwa dibanding membeli barang, individu bisa merasakan kesenangan dalam jangka waktu lama dengan ‘membeli pengalaman’. Dengan memiliki pengalaman tertentu, apalagi jika pengalaman tersebut mengikut sertakan orang lain, dapat meningkatkan kesenangan, kebahagiaan lebih lama pada seorang individu. Pengalaman tersebut tentu beraneka ragam macamnya, mulai dari makan malam romantis sampai berlibur kesebuah tempat.
Berbagi. Menggunakan uang untuk berbagi dengan sesama juga dapat memberikan efek kesenangan, kebahagiaan untuk jangka waktu yang lama.
Namun demikian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut. Penelitian yang melibatkan 5000 partisipan juga menunjukkan bahwa individu akan lebih bahagia jika menggunakan uangnya untuk beberapa hal kecil dibanding satu hal besar. Sebagai contoh, individu yang memiliki uang IDR 10.000.000 lebih bahagia jika pergi ke 10 konser berbeda yang harganya masing-masing IDR 1.000.000 dibanding pergi ke satu konser seharga IDR 10.000.000.
Penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan uang pada aspek khusus dalam hidup dapat mempengaruhi kebahagiaan secara keseluruhan. Individu yang menggunakan uangnya untuk aspek sosial (berkumpul dengan teman-teman) akan mengalami peningkatan kepuasan dalam aspek sosialnya. Sedangkan individu yang menggunakan uangnya untuk meningkatkan aspek kesehatan (bergabung di sebuah gym atau klub) akan meningkatkan kepuasan aspek kesehatan. Peningkatan dalam beberapa aspek hidup pada akhirnya akan meningkatkan kebahagiaan secara utuh seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
Tiap individu tentunya memiliki preferensi pribadi dalam menggunakan uang yang dimiliki. Berbagai pendapat yang telah dikemukanan diatas semoga dapat memberikan gambaran, atau masukan, bagaimana uang bisa mempengaruhi kesenangan dan kebahagiaan setiap individu. Meskipun demikian,ingatlah untuk menggunakan uang tidak melebihi kemampuan karena hal tersebut tentu saja akan menimbulkan stress.
Nova ‘JoNo’ Ariyanto
Sumber:
Fields, R.D. 2010. Money buys unhappiness, proven in a new study. Diambil secara online dari http://www.psychologytoday.com/blog/the-new-brain/201005/money-buys-unhappiness-proven-in-new-study pada 30 Mei 2010.
Kashdan, T.B. 2010. Does money influence happiness? Depends on how you spend your cash. Diambil secara online dari http://www.psychologytoday.com/blog/curious/201005/does-money-influence-happiness-depends-how-you-spend-your-cash pada 30 Mei 2010
Markman, A. 2010. Money can buy happiness if you spent it right. Diambil online dari http://www.psychologytoday.com/blog/ulterior-motives/201005/money-can-buy-happiness-if-you-spent-it-right pada 2 Juni 2010.
Picture taken from http://www.flickr.com/photos/nomm/95856251/









Masih bingung dengan penjelasannya.. Apa apakah ‘gambar uang’ itu bisa mewakili kesejahteraan/kekayaan? Klo dia kaya tapi dikasih gambar uang burem, atau, dia miskin tapi dikasih gambar uang beneran, apa ga jadi variabel sekunder?
Idealnya sih mestinya penelitiannya dikasih uang beneran, baru liat responnya.. Atau klo g harus eksperimen, yah bandingin aja orang kaya dengan orang miskin gimana perbedaannya dalam kesenangan dalam hidup mereka..
Jadi gw belum bisa percaya hasil penelitiannya nih.. klo ada yang gw salah mengerti, harap dijelaskan..
[...] http://ruangpsikologi.com/apakah-dengan-uang-saya-akan-bahagia [...]
I just love this article!!
Keren!
@norihiko
Masih bingung dengan penjelasannya.. Apa apakah ‘gambar uang’ itu bisa mewakili kesejahteraan/kekayaan? Klo dia kaya tapi dikasih gambar uang burem, atau, dia miskin tapi dikasih gambar uang beneran, apa ga jadi variabel sekunder?
–> menurut saya, gambar uang memang dimaksudkan sebagai stimulus berkaitan dengan kesejahteraan. Tentang variabel sekunder yang ditanyakan, penelitian ini melibatkan 374 partisipan dengan berbagai level pekerjaan, staff sampai senior yang tentu saja berpengaruh pada pendapatan masing-masing yang kemudian dibagi secara acak kedalam dua kelompok. Dengan metode sampling serta jumlah partisipan yang cukup besar, saya rasa variabel sekunder yang dipertanyakan bisa dieliminir tingkatnya sehingga tidak mempengaruhi hasil penelitian.
Idealnya sih mestinya penelitiannya dikasih uang beneran, baru liat responnya.. Atau klo g harus eksperimen, yah bandingin aja orang kaya dengan orang miskin gimana perbedaannya dalam kesenangan dalam hidup mereka..
–> kalau seperti ini, saya rasa hasil penelitian dari kelompok orang kaya hanya bisa digeneralisir kepada kelompok orang kaya saja, begitu juga orang miskin. Hanya bisa digeneralisir kepada kelompok orang miskin.
Best regards,
Nova JoNo Ariyanto
gue bingung
paragrap ke-3
….”Kemudian dua kelompok tersebut diberikan tes untuk mengukur kemampuan menikmati kebahagiaan”. tapi test yang dimaksud (yaitu test SETELAH melihat gambar uang burem dan gak burem) gak pernah dijelaskan seperti apa, dengan metode apa tapi hanya dinamakan test pertama.
dan pada test kedua buat gue cukup membingungkan, kecepatan gue makan coklat setelah gue liat gambar uang, apa iya mewakili keterukuran nilai kebahagiaan gue saat itu? kebahagiaan yang menurut gue terlalu absurd,luas, kompleks dan subjektif jadi sederhana sekali dihadapan gambar uang burem dan gak burem dan sepotong coklat..kurang sreg aja rasanya..
….”Kemudian dua kelompok tersebut diberikan tes untuk mengukur kemampuan menikmati kebahagiaan”. tapi test yang dimaksud (yaitu test SETELAH melihat gambar uang burem dan gak burem) gak pernah dijelaskan seperti apa, dengan metode apa tapi hanya dinamakan test pertama.
–> tes yang dimaksud di sumber yang saya kutip menurut saya sejenis tes kepribadian yang mengukur kebahagiaan dengan menggunakn skala Likert, kebetulan saya pernah melihat tes yang mengukr kebahagiaan dan memang saat itu alat tesnya menggunakan skala Likert. Tapi kalau masih ragu dan ingin lebih pasti silahkan search sumbernya di: Psychological Science by Jordi Quoidbach
dan pada test kedua buat gue cukup membingungkan, kecepatan gue makan coklat setelah gue liat gambar uang, apa iya mewakili keterukuran nilai kebahagiaan gue saat itu? kebahagiaan yang menurut gue terlalu absurd,luas, kompleks dan subjektif jadi sederhana sekali dihadapan gambar uang burem dan gak burem dan sepotong coklat..kurang sreg aja rasanya.
–> yang pasti itu BUKAN KECEPATAN MAKAN COKLAT yang diukur. Tapi berapa lama partisipan bisa menikmati coklat yang diberikan. Bayangkan anda mengulum coklat dan berapa lama anda bisa menikmati coklat yang sedang anda kulum.
Leave your response!
Follow us!
ISBA Award - Gold Blog
Tags
anak belajar bicara di depan umum cinta diri ekonomi eksperimen emosi freud gangguan gender homoseksual indonesia karir kecemasan kematian kepribadian kesehatan klinis leader makanan neuropsikologi orang tua pacaran pendidikan perempuan Perilaku seksual perkembangan psikologi psikologi anak psikologi ekonomi Psikologi Industri & Behavioral Economy Psikologi klinis Psikologi pendidikan Psikologi perkembangan psikologi positif psikologi seks Psikologi sosial Psikologi Umum & Eksperimen public speaking remaja seks seksual sosial wanita Blog (10)
Essay (148)
Featured (140)
Headline (136)
Lain-lain (35)
News (6)
Psikologi Industri & Behavioral Economy (17)
Psikologi klinis (44)
Psikologi Olahraga (2)
Psikologi pendidikan (15)
Psikologi Perilaku Seksual (5)
Psikologi perkembangan (29)
Psikologi sosial (45)
Psikologi Umum & Eksperimen (31)
Uncategorized (7)
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck requires Flash Player 9 or better.
Ruang Psikologi's Friends
Facebook Friends
Already a member?Login
Newsletter subscription
Recent Comments
Blogroll
Browse by Authors
- amarilldo (RSS) (11)
- edelia (RSS) (4)
- Jono (RSS) (35)
- Khrisnaresa adytia (RSS) (23)
- Lois (RSS) (13)
- Melita Tarisa (RSS) (8)
- Nia Janiar (RSS) (24)
- Penulis Tamu (RSS) (22)
- ramadion (RSS) (22)
Powered by Authors WidgetArchives
How many people are with us?
Link to us!
Want to spread the word about Ruangpsikologi.com?
Here's how to add the above picture to your website. Click inside the box, press ctrl+a, left click your mouse and click copy. Paste it into your webpage.
Recent Trackbacks
Recent Posts
Most Commented
Most Viewed