Home » Essay, Featured, Headline, Psikologi klinis, Psikologi sosial

Anda merasa tubuh anda menarik?

5 September 2009 2,099 views 7 Comments

3079238089_faf23acf931Aduuuh, kenapa gw tambah gemuk siiih? Padahal udah ngurangin makan juga. Mampus deh, mana besok ada acara, bisa gak pede nih gw”

Pernyataan di atas mungkin pernah Anda dengar atau kemukakan sendiri ketika berat badan dan bentuk tubuh menimbulkan perasaan tidak nyaman pada diri Anda. Kesadaran seseorang tentang tubuhnya sendiri seperti kutipan diatas biasa disebut dengan body image. Definisi lebih komprehensif tentang body image diberikan oleh Slade (dalam Aleong, Duchesne, dan Paus, 2007), yaitu gambaran yang kita miliki tentang ukuran, bentuk tubuh, dan aspek-aspek di dalamnya. Adapun unsur atau komponen yang membentuk body image menurut Thompson (2001) adalah: persepsi, perkembangan, dan sosiokultural.

Di antara ketiga komponen tersebut, yang memiliki pengaruh lebih besar adalah sosiokultural yaitu bahwa keindahan tubuh dan standar tentang tubuh ditentukan oleh masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat menilai apa yang dikatakan indah, ideal, dan apa yang tidak. Jika pada tahun 70an bentuk badan kurus dan rata seperti model Twiggy menjadi idola, saat ini bentuk tubuh yang padat, ukuran payudara yang besar, dada yang bidang, pinggang kecil, dan perut rata seolah menjadi idola yang muncul di masyarakat.

Thompson (2001) menjelaskan pentingnya faktor media massa dalam membentuk nilai-nilai yang dianut masyarakat. Melalui media massa, tubuh yang ideal terbentuk di masyarakat. Berbagai iklan teh pelangsing tubuh, susu pembentuk otot, lotion pemutih kulit mengukir pikiran masyarakat akan apa yang ideal, apa yang cantik, dan apa yang tidak. Seiring dengan semakin banyaknya iklan tersebut, sadar tidak sadar, keinginan seseorang untuk memiliki tubuh yang ideal akan semakin tinggi. Berdasarkan pengamatan yang saya lakukan, hal tersebut dapat kita lihat juga dari semakin maraknya tempat olahraga atau gym yang seakan-akan tidak kehabisan pengunjung. Para pengunjung gym tersebut berlomba-lomba untuk memperindah tubuh mereka sehingga gambaran tubuh yang dimiliki dirasakan semakin positif.

Mengenai penting tidaknya body image itu sendiri, berbagai penelitian menunjukkan bahwa individu yang memiliki body image positif memiliki berbagai kelebihan. Diantaranya adalah memiliki tingkat kepercayaan diri yang lebih tinggi dan lebih mampu beradaptasi secara sosial dibanding mereka yang memiliki body image negatif atau rendah. Bahkan, Dyl (2006) menjelaskan bahwa para remaja dengan body image negatif memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk mengalami depresi, cemas, dan bunuh diri.

Dalam hal seksualitas pun body image memiliki peran yang cukup signifikan. Hal tersebut diungkap Ackard, Kearney-Cooke, dan Peterson (2000) yang menjelaskan bahwa wanita yang merasa senang dengan bentuk tubuhnya lebih sering melakukan hubungan seksual, mencapai orgasme, lebih jarang berpura-pura orgasme, merasa lebih nyaman mencoba aktivitas seksual yang baru, serta merasa lebih yakin akan kemampuan mereka untuk memuaskan pasangan. Penelitian yang berkaitan dengan body image ini memang lebih banyak dilakukan pada wanita, karena pada pria, hal yang dipentingkan lebih berkaitan dengan efektivitas tubuh, atau sejauh mana tubuh mampu melakukan hal-hal yang diinginkan (Thompson, 2001).

Dalam hal romantisme, body image juga memiliki peranan penting. Individu yang memiliki body image positif akan menerima lebih banyak ajakan berkencan dibanding yang negatif. Thompson (2001) menyatakan bahkan untuk memulai suatu hubungan, seseorang harus terlebih dahulu merasa nyaman dengan tubuhnya, jika tidak maka akan sulit bagi individu tersebut untuk memulai hubungan. Bagi yang sudah berpacaran pun, body image memiliki peranan seperti yang diungkap Mark dan Crowther (dalam Thompson, 1999) melalui penelitiannya tentang kepuasan berpacaran bahwa wanita yang memiliki tingkat kepuasan body image rendah akan memiliki tingkat kepuasan berpacaran yang rendah pula. Sedangkan bagi pria, kepuasan dalam berpacaran berhubungan secara signifikan dengan bentuk tubuh pasangannya.
Penelitian yang dijelaskan diatas memang lebih banyak dilakukan bukan di Indonesia, namun berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ariyanto (2008) tentang body image di salah satu Universitas ternama di Indonesia ditemukan bahwa dari 138 mahasiswi yang menjadi partisipan penelitian lebih dari 70 % memiliki body image yang positif. Adapun dari beberapa bagian tubuh yang diteliti tingkat kepuasannya, peringkat kepuasan yang paling tinggi adalah pada wajah, dan bagian tubuh yang paling tidak disukai adalah bentuk perut.

Tingginya persentase body image yang positif tersebut dapat disebabkan oleh adanya perbedaan media massa, televisi, dan sebagainya di Indonesia dan negara tempat penelitian lain dilakukan, yaitu di Amerika. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, semakin tinggi eksposure yang dibuat berbagai iklan yang berkaitan dengan body image, maka tekanan untuk memiliki body image yang ideal akan semakin tinggi. Dan di Indonesia sendiri iklan tersebut masih jauh lebih rendah intensitasnya dibanding di Amerika.

Meskipun hasil penelitian menunjukkan hal yang positif, dengan gencarnya media massa yang menampilkan sosok tubuh idaman seperti saat ini, bukan tidak mungkin data di atas berubah secara signifikan selama beberapa waktu ke depan. Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa body image merupakan penilaian yang kita berikan sendiri terhadap tubuh kita. Oleh karena itu, dengan mindset yang positif kita dapat memberikan rasa percaya diri sebagai apresiasi terhadap tubuh kita sehingga perasaan nyaman akan tubuh kita dapat kita peroleh. Dan hal tersebut akan membuat kita memiliki body image yang lebih positif. (Nova A.)

Sumber:
Ackard, D.M., Kearney-Cooke, A., & Peterson, C.B. (2000). Effect of body image and self-image on women’s sexual behaviors [Research summary]. The Canadian Journal of Human Sexuality, p. 124. December 07, 2007. ABI/INFORM Global (Proquest) database

Aleong, R., Duchesne, S., & Paus, T. (2007). Assestment of adolescent body perception: Development and characterization of novel tool for morphing images of adolescent bodies. Behavior research methods p. 651-666. December 07, 2007. ABI/INFORM Global (Proquest) database
Ariyanto, N. (2008). Hubungan citra tubuh dengan perilaku seksual dalam berpacaran pada remaja putri. Depok: Fak Psikologi Universitas Indonesia

Thompson, J. K., Heinberg, L. J., Altabe, M., Tantleff-Dunn, S. (1999). Exacting Beauty. Washington, DC, US: American Psychological Association.

Thompson, J. K. (2001). Body image, eating disorders, and obesity: An integrative guide for assessment and treatment. Washington, DC, US: American Psychological Association.

Image from http://www.flickr.com/photos/anjula/3079238089/

7 Comments »

  • Fadli said:

    izin share di FB… boleh gak…???

  • Khrisnaresa adytia said:

    boleh banget! :)

  • Rani said:

    Assalamu’alaikum,,
    boleh di share di FB kan,,
    kalo smua info yg ada di share gimana,,tapi tetep gk menghilangkan sumber2,,
    makasih smua ilmunya ya,,,

  • JoNo (author) said:

    walaikum salam Rani
    semoga tulisannya bermanfaat ya

  • hillda said:

    gy nyusun skripsi niy!! bole minta refrensi ttg citra tubuh lg ga? thx

  • Jono (author) said:

    ini lagi nyusun skripsi butuh bahan apa gmana? kok di strike???

    klo iya hubungin via imel aja

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word