*Diperkirakan juga bahwa individu cenderung berpegang pada agama saat kesulitan atau saat yang tidak menentu…
*Hal lain adalah bahwa individu yang tidak berada dalam tekanan lebih bisa mengontrol hidupnya serta lebih sedikit berpegang pada agama…
kalo dari 2 kutipan diatas sih masuk akal sama pikiran loe yang kedua Yon. Tapi, kalo menurut gw emang disaat susah kayaknya peran HOPE akan lebih besar. Dengan berharap bahwa ‘ini semua ada yang mengatur’ akan memberi tenaga buat melwati semuanya. Lain cerita kalau kita bisa mengontrol segala aspek, begitu masalah muncul sudah ada langkah-langkah buat mengatasi. Kalau kayak gitu kan bisa menjelaskan dua argumen yang gw kutip? gmana?
eh tapi kita cuman ngomongin atheist ya, beda cerita kali kalo agnostic
azzan
ini ada beberapa tambahan:
Scramaglia (2002)menemukan bahwa pada awalnya beberapa dari mereka yang menggunakan internet untuk mencari pasangan bisa berawal dari rasa ingin tahu, mencari hiburan, karena mereka memang tipe individu yang ‘pemalu’. Pada beberapa kasus partisipan penelitian menjelaskan bahwa mereka melakukan hal tersebut karena ingin keluar dari kehidupan mereka yang menjemukan: hidup dikota kecil, tidak ada kegiatan berarti, tidak mengenal orang-orang yang menarik, kesepian, merasa homesick, sedang tidak akur dengan pasangan.
Mereka pada dasarnya hanya ingin bertemu orang baru. Karena kemudahan yang diberikan internet mereka merasa bisa berada di dua tempat sekaligus sehingga bertemu orang-orang baru tidak serepot sebelumnya.
Tapi lagi-lagi, saya menekankan bahwa hasil penelitian diatas merrupakan hasil penelitian yang dilakukan di Italia. Berdasarkan diskusi ringan yang pernah saya lakukan dengan beberapa teman yang berhubungan romantis via internet, saya melihat beberapa kesamaan hasil penelitian tersebut disini. Satu yang paling jelas terlihat adalah karena mereka merasa kesepian, walaupun teman saya tidak bisa dibilang tidak punya teman. Ia merasa lebih mudah menceritakan sesuatu kepada orang lain yang bisa memberi masukan secara objektif. Dan hal tersebut kemudian mengarah kembali pada tingkat self-disclosure yang sudah dijelaskan sebelumnya.
bisa saja jika satu orang tersebut memang secara sadar tidak sadar memberikan ‘pengaruh’ kepada rekan2nnya
cukup banyak sih kejadinnya
lihat saja pada pertandingan adu penati dipertandingan sepak bola
kecemasan satu orang bisa membawa perubahan yang negatif / positif yang berpengaruh pada tim
disatu sisi juga ada kemungkinan kalo yang sembilan itu ‘mengaku-ngaku’ telah melakukan sexual intercourse agar dianggap ‘lebih’
menurut saya dalam penelitian yang berkaitan dengan seksualitas
resiko untuk faking good maupun faking bad cukup tinggi
penelitian tersebut juga pastinya sudah melalui ‘uji coba’ seperti yang mas maksud
jangan lupa bahwa jika diteliti di populasi lain bisa saja angkanya bertambah atau berkurang, baik dari segi pelaku maupun dari segi periode waktu perilaku seksual
“Thompson (2001) menjelaskan bahwa kecantikan, dalam menilai tubuh, adalah relatif. Hal tersebut dipengaruhi beberapa faktor, namun faktor yang paling berpengaruh adalah faktor sosiokultural. Masyarakat menentukan apa yang menarik dan apa yang tidak.”
dari kalimat tersebut bisa dilihat klo memang culture berpengaruh pada apa yang cantik dan apa yang tidak, persis seperti apa yang mas kemukakan. Tapi, diyakini faktor yang disebut diatas akan ditemukan di berbagai budaya.
Dan bukan Thompson yang melakukan penelitian tersebut. Yang melakukan adalah tim riset dari UCLA & tim riset di vienna Astria. Adapun sampel penelitiannya lebih banyak di benua Eropa, Amerika, dan sebagian Asia.
Kalau mas punya hasil penelitian yang lain silahkan dikemukakan, mungkin akan bisa jadi bahan penelitian selanjutnya.
Sekilas tentang atheism
June 3rd, 2010 at 1:57 ammm.. sebenarnya sih bisa dibuat lebih mendalam, tapi gw kurang tertarik
kalo loe berminat silahkan looh
Sekilas tentang atheism
June 1st, 2010 at 6:41 ammmm…
*Diperkirakan juga bahwa individu cenderung berpegang pada agama saat kesulitan atau saat yang tidak menentu…
*Hal lain adalah bahwa individu yang tidak berada dalam tekanan lebih bisa mengontrol hidupnya serta lebih sedikit berpegang pada agama…
kalo dari 2 kutipan diatas sih masuk akal sama pikiran loe yang kedua Yon. Tapi, kalo menurut gw emang disaat susah kayaknya peran HOPE akan lebih besar. Dengan berharap bahwa ‘ini semua ada yang mengatur’ akan memberi tenaga buat melwati semuanya. Lain cerita kalau kita bisa mengontrol segala aspek, begitu masalah muncul sudah ada langkah-langkah buat mengatasi. Kalau kayak gitu kan bisa menjelaskan dua argumen yang gw kutip? gmana?
eh tapi kita cuman ngomongin atheist ya, beda cerita kali kalo agnostic
Saya suka Arsenal, anda suka tim apa?
March 18th, 2010 at 12:51 pmya udahlah cuuupppp
ganti pelatih udaaaah, tapi kalo sama tim paling bawah aja seri
buat apa loe bangga-banggakan???
*sesuai gak sama ilustrasi yang loe gambarkan?? hahahahha
Hubungan romantis via internet
February 28th, 2010 at 5:33 amazzan
ini ada beberapa tambahan:
Scramaglia (2002)menemukan bahwa pada awalnya beberapa dari mereka yang menggunakan internet untuk mencari pasangan bisa berawal dari rasa ingin tahu, mencari hiburan, karena mereka memang tipe individu yang ‘pemalu’. Pada beberapa kasus partisipan penelitian menjelaskan bahwa mereka melakukan hal tersebut karena ingin keluar dari kehidupan mereka yang menjemukan: hidup dikota kecil, tidak ada kegiatan berarti, tidak mengenal orang-orang yang menarik, kesepian, merasa homesick, sedang tidak akur dengan pasangan.
Mereka pada dasarnya hanya ingin bertemu orang baru. Karena kemudahan yang diberikan internet mereka merasa bisa berada di dua tempat sekaligus sehingga bertemu orang-orang baru tidak serepot sebelumnya.
Tapi lagi-lagi, saya menekankan bahwa hasil penelitian diatas merrupakan hasil penelitian yang dilakukan di Italia. Berdasarkan diskusi ringan yang pernah saya lakukan dengan beberapa teman yang berhubungan romantis via internet, saya melihat beberapa kesamaan hasil penelitian tersebut disini. Satu yang paling jelas terlihat adalah karena mereka merasa kesepian, walaupun teman saya tidak bisa dibilang tidak punya teman. Ia merasa lebih mudah menceritakan sesuatu kepada orang lain yang bisa memberi masukan secara objektif. Dan hal tersebut kemudian mengarah kembali pada tingkat self-disclosure yang sudah dijelaskan sebelumnya.
Semoga membantu
Hubungan romantis via internet
February 27th, 2010 at 11:34 amhahahaha
nnti gw coba baca dah
Hubungan romantis via internet
February 27th, 2010 at 5:08 amkayaknya pernah liat
di perpus psiko ui apa ya?
thanks Gas
Cemas Sebelum Bertanding: Kawan atau Lawan?
December 16th, 2009 at 9:53 ambisa saja jika satu orang tersebut memang secara sadar tidak sadar memberikan ‘pengaruh’ kepada rekan2nnya
cukup banyak sih kejadinnya
lihat saja pada pertandingan adu penati dipertandingan sepak bola
kecemasan satu orang bisa membawa perubahan yang negatif / positif yang berpengaruh pada tim
Tentang ruangpsikologi
November 26th, 2009 at 2:06 am@dafi: sip, sip, thanks masukannya
Anda merasa tubuh anda menarik?
November 22nd, 2009 at 5:22 amini lagi nyusun skripsi butuh bahan apa gmana? kok di strike???
klo iya hubungin via imel aja
Psikologi, Olahraga, dan Prestasi
November 12th, 2009 at 1:17 amwah ini reiza UIEU yaa?
bener gak? terimakasiiiihhh
*padahal gw udah gak main, hehe
Cemas Sebelum Bertanding: Kawan atau Lawan?
November 8th, 2009 at 11:32 amuhuy
bagus ya ni? bagusan mana sama foto artikel sebelumnya?
fotografer dan ‘model jadi-jadian’ nya sama looh
hehehe
Psikologi, Olahraga, dan Prestasi
November 6th, 2009 at 6:24 ammufti, piastro (ini kenapa pake nama piastro ya? haha)
semangat yaa, nnti akan saya dukung (penyanyi dangdut: deddy dukung)dari pinggir lapangan dan dari lubuk hati terdalam
uhuy!
Psikologi, Olahraga, dan Prestasi
November 6th, 2009 at 6:23 amoi Leo keripik kentang.. kata-kata taun lalu gw yan mana nih? emang gw ngomong apa?
Psikologi, Olahraga, dan Prestasi
November 3rd, 2009 at 3:56 ami played for myself,`my team, my coach, my faculty, and for my own ‘glory’
soo.. which one is it ra? is it internal? external? haha
Pacaran: Eksperimentasi Seksual
October 25th, 2009 at 2:46 amwah ada bapak trainer dan motivator membaca tulisan saya, hehehe
salam kenal!!!
Pacaran: Eksperimentasi Seksual
October 18th, 2009 at 8:09 amdisatu sisi juga ada kemungkinan kalo yang sembilan itu ‘mengaku-ngaku’ telah melakukan sexual intercourse agar dianggap ‘lebih’
menurut saya dalam penelitian yang berkaitan dengan seksualitas
resiko untuk faking good maupun faking bad cukup tinggi
penelitian tersebut juga pastinya sudah melalui ‘uji coba’ seperti yang mas maksud
jangan lupa bahwa jika diteliti di populasi lain bisa saja angkanya bertambah atau berkurang, baik dari segi pelaku maupun dari segi periode waktu perilaku seksual
Remaja dan seksualitas
October 18th, 2009 at 7:59 amgw rasa segala macam kampanye perlu dilakukan sih
gak hanya untuk mencegah, tapi juga mengurangi dampak buruk yang sudah ada
Cantik itu matematika
September 8th, 2009 at 6:47 amPada kalimat dibawah ini tergambar pendapat mas:
“Thompson (2001) menjelaskan bahwa kecantikan, dalam menilai tubuh, adalah relatif. Hal tersebut dipengaruhi beberapa faktor, namun faktor yang paling berpengaruh adalah faktor sosiokultural. Masyarakat menentukan apa yang menarik dan apa yang tidak.”
dari kalimat tersebut bisa dilihat klo memang culture berpengaruh pada apa yang cantik dan apa yang tidak, persis seperti apa yang mas kemukakan. Tapi, diyakini faktor yang disebut diatas akan ditemukan di berbagai budaya.
Dan bukan Thompson yang melakukan penelitian tersebut. Yang melakukan adalah tim riset dari UCLA & tim riset di vienna Astria. Adapun sampel penelitiannya lebih banyak di benua Eropa, Amerika, dan sebagian Asia.
Kalau mas punya hasil penelitian yang lain silahkan dikemukakan, mungkin akan bisa jadi bahan penelitian selanjutnya.
Thanks